Teater Suluh “Kongres Para Setan” Penyampaian Aspirasi Kaum Muda

Jumat (16/8), Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta digelar sebuah pementasan teater. Teater yang dibawakan oleh teman-teman anak muda dari Teater Suluh, Social Movement Institute (SMI) membawakan genre horor dan memberikan “sentilan” pada perpolitikan di Indonesia saat ini. Eko Prasetyo penggagas SMI sekaligus penulis naskah mengatakan “teater ini sebagai bentuk alat komunikasi yang penting untuk menyampaikan kondisi atau fenomena politik belakangan, teater sarana paling terbaik untuk menyampaikan apa yang terjadi”. Selama 10 tahun berdiri Teater Suluh mencoba memberikan sebuah pentas teater dengan pandangan kritis pada publik terhadap situasi politik sekarang ini.

Teater yang berjudul “Kongres Para Setan” menyampaikan pesan bahwa demokrasi saat ini jangan sampai mengalami kemerosotan dan kehancuran seperti maraknya korupsi serta politik dinasti. “Pesan yang ingin kami sampaikan adalah demokrasi yang sedang di kondisi merosot, kita tidak mau demokrasi dihancurkan oleh korupsi dan politik dinasti. Kami mengajak publik untuk mari kita lawan segala bentuk penganiayaan demokrasi, teater ini memberikan inspirasi terutama pada anak muda untuk mempertahankan demokrasi yang kusut seperti saat ini” ujar Eko Prasetyo pada saat diwawancarai awak media.

Wawancara Eko Prasetyo, Penggagas SMI & penulis naskah
(Dok: natas/Nicolas Leonard Pandang)

Pertunjukan pentas teater ini mengisahkan tokoh setan yang menyuarakan pada kondisi perpolitikan sekarang. Adegan dalam teater ini banyak menyinggung pemerintah dan hukum. Teater ini menampilkan tokoh-tokoh yang mewakili beberapa elemen masyarakat yang ada. Seperti tokoh para setan yang mewakili suara rakyat pinggiran, aparat yang mewakili negara represif, pejabat yang selalu mencari kambing hitam, dan mahasiswa sebagai korban UU ITE.

Rencananya teater ini akan tour ke beberapa kota di pulau Jawa. Namun masih terkendala perizinan dan mencoba masuk ke beberapa kampus untuk menampilkan teater politik ini. “Kami sedang tour ke beberapa kota tapi kami masih kesulitan mencari perizinan, karena hanya di Jogja kami dapat lolos. Kami juga uji apakah kampus memperkenankan kami untuk tampil, sedang akan diuji di bulan September ini” ujar Eko Prasetyo saat diwawancara.

Harapannya dari teater ini dapat mendorong publik berani untuk melakukan perlawanan atas ketidakadilan yang terjadi dan menyelamatkan demokrasi yang sudah terancam. Eko Prasetyo mengajak masyarakat publik dapat melawan ketidakadilan dan menerapkannya untuk menyelamatkan demokrasi yang sedang mengalami kemunduran.

Penyampaian suara dengan menggunakan teater sebagai alat penyampaian aspirasi sangatlah menarik dan bisa diterima masyarakat. Maka dengan tujuan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah pentas seni teater yang dikemas dengan tema horor menjadi pilihan yang sangat menarik sehingga masyarakat dapat menilai peran pemerintah dalam hal yang mengarah pada demokrasi politik yang baik di Indonesia.

Reporter: Silvester Putra Widya N dan Nicolas Leonard Pandang

Penulis: Silvester Putra Widya N

Editor: Andreas Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.