UNTUK REKTOR USD: PERMINTAAN KLARIFIKASI

Minggu, 22 September, Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yohanes Eka Priyatma, meminta mahasiswa-mahasiswa yang akan bergabung dalam massa aksi #gejayanmemanggil berdiskusi. Obrolan malam (kira-kira pukul 21.30-22.30 WIB) berlangsung di depan Auditorium USD. Sebelumnya, kami telah mendengar kabar bahwa Rektorat USD tidak menyetujui keikutsertaan kami di massa aksi.

Ternyata, Rektor USD menyatakan keraguannya karena aksi massa ditunggangi pihak yang berniat menggagalkan pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden RI. Dia menyatakan juga soal isu khilafah dan HTI yang diusung aksi #gejayanmemanggil. Intinya, Rektor USD meminta kami untuk meyakinkannya bahwa aksi massa tidak ditunggangi atau murni gerakan mahasiswa. Obrolan sempat runyam karena teman-teman perkumpulan Mahasiswa USD berusaha meyakinkan Rektorat USD.

Pada akhirnya, putusan tetap sama, Rektorat USD tidak mendukung niat kami untuk turun ke jalan. Itu juga disertai dengan penarikan diri Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USD dari massa aksi, entah karena apa—saya tak berniat berpikir buruk sedikitpun soal keputusan pribadinya itu.

Sampai di sini, saya tak mempermasalahkan keputusan Rektor USD yang tak mendukung keikutsertaan kami di aksi massa. Saya juga tak mempermasalahkan ketika Rektor USD menerbitkan surat edar bertanggal 22 September 2019 tentang pernyataan sikap USD pada aksi massa tersebut. Bahkan saya masih berpikiran positif untuk pernyataan itu sebagai refleksi dari kaum/golongan yang merasa terancam dengan isu yang memuncak sebelum sampai sesudah penyelenggaran pilpres. Saya takkan mencoba menampik isu polarisasi atau politik identitas. Itu fakta adanya. Itu, pikiran soal Rektor dan USD sebagai pengejawantahan minoritas yang cari selamat, murni pikiran positif saya. Tak ada niatan sedikitpun dalam penyebutan itu guna pengerdilan maupun maksud buruk lain. Maka toleransi saya terhadap sikap Rektor USD ialah dengan tidak menggerutu atau memaksakan kehendak/pilihan ideologis saya kepadanya. Dan itu clear dengan pengambilan putusan bahwa kami takkan memakai atribut atau membawa nama Kampus USD.

Tapi, kini, saya menyadari pilihan atau pikiran itu naif belaka kala saya menemukan obrolan malam itu, dibubuhi dengan teks yang tak benar, nangkring sebagai twit buzzer Jokowi atau rezim (screenshot twit saya sertakan). Kami telah memastikan bahwa foto yang digunakan di akun buzzer adalah foto kami yang tengah berdialog dengan Rektorat USD dan kami sama sekali tak pernah mengijinkan siapapun untuk mengunggahnya di media sosial (medsos) apapun. Di twit itu kami dikatai: “Yang besok turun Tim Menteri Pecatan, Barisan Sakit Hati, HTI, Kelompok Anarko, dan Partai Pro Khilafah”. Di dua baris akhir teks ditambahi: “Target: ada martir dan kerusuhan!”

Pertanyaan saya ialah: apa maksud menyatakan kami seperti yang dituduhkan di twit tersebut? Apa buktinya? Bukankah dalam obrolan malam itu Rektor USD berkata untuk tidak terburu-buru bertindak atau menyatakan sikap jika tak punya bukti kuat dan sahih? Lalu mengapa twit dan tuduhan itu muncul di akun buzzer? Apa Rektor atau oknum dalam civitas USD ialah kelompok yang hobi menjual anak didiknya sebagai objek gosip buzzer lancung? Ataukah justru Rektor atau oknum civitas USD terindikasi sebagai buzzer oligarkhi? Apa begitu sikap pendidik, menjual anak didiknya sebagai objek gosip di ruang publik digital? Jika Rektor maupun jajaran Rektorat USD yang hadir malam itu tidak merasa menyebarkan foto, lalu tindakan tegas apa yang akan Rektor lakukan untuk penyebar dan twit tidak benar itu? Itu jelas pencemaran nama baik kami. Kami telah memiliki bukti kuat siapa oknum dalam jajaran birokrasi USD yang mengambil foto dengan sudut pandang itu dan kami telah mengindikasinya pula sebagai penyebar. (foto orang bersangkutan terlampir dengan tanda “dilingkari”)

Saya takkan mempermasalahkan atau mengunggah persoalan ini di medsos seandainya tuduhan itu dilontarkan Rektor USD sendiri dalam forum internal dan tertutup itu karena kami bisa langsung menyikapinya di tempat dan saat itu juga. Lain halnya karena yang terlanjur terjadi ialah penyebaran kabar tak benar ini, menyangkut komunitas yang kami hidupi, di medsos, maka tak ada kata selain “lawan!” Tak ada lagi niatan baik selain dengan menyatakan “loe jual, gue beli!”

Mari kini buktikan, siapa di antara kami atau Rektor yang memiliki integritas untuk mengakui kekeliruan diri. Tambahan, pada twit buzzer yang dimaksud menyebutkan adanya potensi rusuh dalam aksi. Faktanya, aksi pada tanggal 23 September berjalan dan berakhir damai. Ayo, Rektor dan buzzer, siapa kini yang akan berakhir dengan mencium pantat sendiri? Dusta macam apa lagi yang kau keluarkan? Ditunggu klarifikasinya.

Penulis: Achmad FH Fajar

Editor: Rusdiyanti

Sumber foto cover: https://www.jawapos.com/opini/jati-diri/29/09/2017/klarifikasi-sesudah-kontroversi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *