Sadhar Setelah Coronavirus

Sudah dua bulan sejak coronavirus disease 19 atau lebih dikenal dengan Covid-19 merebak di Indonesia, berbagai protokol diberlakukan oleh pemerintah meski serba terlambat. Menindaklanjuti protokol ini, Instansi Pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga tingkat Perguruan Tinggi (PT) melangsungkan pembelajaran jarak jauh melalui jaringan internet. Menolak untuk mati suri, PT meski merangkak mencoba mengeksplor sarana dalam menunjang pembelajaran jarak jauh.

Beragam aplikasi dicoba dan diterapkan, mulai dari aplikasi pesan singkat WhatsApp sampai aplikasi tatap muka, seperti Zoom yang baru-baru ini mengalami kenaikan jumlah pengguna meski rentan diretas. Namun fenomena ini tidak luput dari berbagai kritikan yang dilayangkan oleh mahasiswa menggempur eksistensi PT berkaitan dengan kesiapan pembelajaran jarak jauh.

Sebagai salah satu PT swasta di Indonesia, Universitas Sanata Dharma compang-camping dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, akibat ketidaksiapan dalam menghadapi situasi ini, terkhusus yang mengharuskan mahasiswa untuk belajar dari rumah atau sistem belajar jarak jauh dengan menggunakan media sosial. Dalam konteks permasalahan ini, saya tidak tahu apakah kampus lain mengalami masalah yang sama. Namun yang jelas inilah yang dirasakan oleh penulis dan sebagian mahasiswa di Universitas Sanata Dharma.

Pengalaman saya sendiri sejak belajar di rumah terasa hambar, karena tidak ada gejolak yang menggebu untuk mengikuti perkuliahan, kecuali satu kesempatan kala terjadi diskusi via grup WhatsApp yang menurut saya lebih tepat disebut debat kusir karena tidak jelas juntrungnya dan sekadar asumsi belaka tanpa data. Perasaan sentimentil pun kadang mewarnai debat karena memang teks sulit untuk menerka emosi seseorang dari kejauhan. Ada juga teman saya yang semua dosen di program studinya meminta untuk memprioritaskan tugas yang diberikan. Prioritas dalam KBBI V berarti yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain. Lantas, apakah semua tugas harus dikerjakan secara bersamaan dalam satu waktu agar memenuhi unsur prioritas? Tidak masuk akal.

Dilain sisi pernahkah kita berpikir untuk ikut memberikan solusi yang paling baik dan efektif untuk menunjang pembelajaran jarak jauh tersebut? Kita sudah tahu bahwa dalam kasus seperti sekarang banyak instansi pendidikan, terkhusus Universitas Sanata Dhrama, tidak siap karena memang tidak pernah mencoba menerapkan alternatif pembelajaran (baca: kuliah daring)  selain di kelas. Paling mentok dalam ranah yang paling kecil (baca: lingkup kelas) adalah alternatif kekuatan power point yang dibuat seinteraktif mungkin oleh dosen. Ketika kampus tidak pernah mencoba pembelajaran jarah jauh dan tidak membiasakan diri, mahasiswa pun tidak dapat disalahkan ketika mereka memilih untuk sekadar mengisi daftar hadir ketika pembelajaran daring dan memilih untuk melanjutkan tidur.

Saya jadi teringat tulisan Yuval Noah Harari yang berjudul “The World After Coronavirus” pada situs Financial Times, Yuval mengatakan bahwa “Humankind is now facing a global crisis. Perhaps the biggest crisis of our generation. The decisions people and governments take in the next few weeks will probably shape the world for years to come.” 

“What happens when everybody works from home and communicates only at a distance? What happens when entire schools and universities go online? In normal times, governments, businesses and educational boards would never agree to conduct such experiments. But these aren’t normal times.” 

“Decisions that in normal times could take years of deliberation are passed in a matter of hours.”

Planning jangka panjang sangat diperlukan bagi sebuah instansi pendidikan, mengingat bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada dinamika di ruang kelas. Eksplorasi menjadi kunci meski akan terjadi trial and error dalam proses tersebut. Lantas jika sudah begini siapa yang harus disalahkan. Tidak dapat diterima akal dan hati jika mahasiswa menjadi sasaran ketidaksiapan kampus. Institusi Pendidikan harus mengambil langkah berani dan tegas ketika krisis ini berakhir. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang.

Di kelas saya sendiri, masih ada dosen yang bingung menggunakan teknologi yang mana merupakan unsur tak terpisahkan dari mahasiswa, sehingga pembelajaran dilangsungkan via grup WhatsApp padahal model pembelajaran ini diskusi. Bisa dibayangkan bagaimana jempol kita menjadi kebas dalam dua atau tiga jam kedepan. Hal lain yang menurut saya aneh adalah untuk mendorong semangat mahasiswa, dosen ini menggunakan sistem reward dengan pemberian point pada lima mahasiswa tercepat dalam menanggapi pertanyaan yang diberikan dosen. Pertama, antara mahasiswa yang menggunakan laptop dengan gawai tentu terdapat perbedaan kecepatan dalam mengtik. Kedua, cepat atau tidaknya suatu jawaban beriringan dengan kualitas jawaban. Saya bisa saja menjawab seadanya karena yang saya kejar point. Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang memberikan jawaban secara komprehensif disertai data? Bukankah memerlukan waktu yang lebih lama daripada jawaban yang alakadarnya?

Mungkin pemberian reward akan berguna jika diterapkan pada pekerja kantoran. Namun, bagi saya sebagai seorang mahasiswa pemberian reward adalah hinaan. Seolah-olah yang saya kejar adalah digit angka. Dan bukankah iklim dunia kampus adalah iklim akademis yang bersandar pada telaah atau kajian ilmiah dan eksplorasi literasi yang mendalam? Agaknya pemberian reward ini diadopsi dari pengalaman-pengalaman bersama anak kecil. Sering orang tua memberikan imbalan atau hadiah atas keberhasilan mencapai sesuatu, dan hadiah di mata anak kecil adalah sesuatu yang berkilau dan gemilang. Reward yang diberikan tampaknya diasosiasikan dengan hal tersebut dan coba diterapkan dalam pembelajaran di kelas dengan harapan mahasiswa akan lebih bersemangat dan termotivasi.

Namun kenyataannya ini pelan tapi pasti akan menjadikan reward sebagai candu bagi sebagian mahasiswa yang hanya mengejar angka. Proses pembelajaran pun menjadi cacat tidak organik dan kapasitas mahasiswa yaa, segitu-gitu aja. Makanya kita sering mendengar istilah pengangguran intelektual. Pemerintah pun kemudian hadir dengan kartu ajaibnya pra-kerja seolah-olah menjadi solusi atas masalah yang ada atau malah dunia kampus memang kurang dapat menelurkan akademisi kritis dan tanggap.

Dari uraian-uraian di atas yang saya harapkan adalah Instansi Pendidikan perlu melakukan manuver ketika krisis ini berakhir. Akan menjadi instansi seperti apakah Universitas Sanata Dharma dengan tanpa menanggalkan identitas cerdas dan humanis. Apakah perlu reward dari mahasiswa agar kampus lebih termotivasi dan mau berkembang seperti yang dilakukan dosen? Jawabannya sudah saya jelaskan dalam uraian-uraian sebelumnya. Untuk mahasiswa Sanata Dharma terlepas langkah seperti apa yang diambil kampus, saya kira mereka telah berusaha sebaik mungkin. Mungkin. Sisanya kita yang harus bergerak secara mandiri ataupun kolektif. Apakah kalian juga mengharapkan reward dulu agar mau bergerak?

Penulis: Andreas Pramono
Editor : Akuntansi dari Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *