Peran Dosen Pendamping dalam Insadha 2018

               Teriknya cahaya matahari menyinari proses Inisiasi Sanata Dharma (Insadha) 2018 gelombang kedua yang berlangsung pada tanggal 6- 7 Agustus. Michael Barri Irfanto selaku Ketua Umum Insadha 2018 mengungkapkan bahwa tidak banyak perubahan yang mencolok pada Insadha gelombang kedua ini. “Untuk rangkaian acaranya sendiri sama seperti gelombang pertama, perbedaannya hanya pada jumlah mahasiswa baru. Di gelombang pertama kemarin ada 1.000 mahasiswa dan pada gelombang kedua ini hanya ada 900 mahasiswa.”ujarnya.

Suasana Insadha Gelombang II di lapangan Realino Universitas Sanata Dharma (Dok: natas)

               Insadha 2018 kali ini mengalami perubahan jumlah dosen pendamping yang pada tahun sebelumnya terdapat lima dosen pendamping namun tahun ini hanya ada satu dosen pendamping. Perubahan ini diungkapkan oleh F.X. Risang Baskara, S.S., M.Hum., selaku dosen pendamping Insadha 2018 saat diwawancarai oleh awak natas. “Insadha tahun ini tentu saja berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu kita masih membangun sistem dan tahun ini sistem tersebut sudah terbentuk dengan rapi sehingga tinggal kita laksanakan, sehingga hanya satu dosen saja yang diperlukan untuk menemani anggota panitia di lapangan,” ungkapnya.

               Menurut Risang, keberadaan dosen pendamping bagi kepanitiaan acara sebesar ini sangat penting. “Paling tidak teman-teman panitia punya seseorang untuk berdiskusi dalam pengambilan kebijakan yang mungkin berkaitan langsung dengan kepanitiaan,” katanya.

               Ini merupakan kali kedua bagi Risang menjadi dosen pendamping Insadha, sebelumnya ia juga merupakan salah satu dari dosen pendamping Insadha 2017. Ia mengungkapkan bahwa tiap tahunnya ia selalu mendapatkan pengalaman baru.

              “Disini peran saya seperti orang tua. Insadha ini merupakan acara universitas yang besar sehingga membutuhkan persiapan yang matang. Sebelum hari H persiapannya sudah pasti matang, namun tentu saja para panitia membutuhkan pendamping dari universitas untuk menghadapi hal-hal yang tidak bisa diprediksi pada hari H.” terangnya.

                Selain berperan dalam perencanaan dan administratif, Risang menambahkan bahwa dosen pendamping dalam Insadha juga mempunyai peran untuk membimbing anggota panitia. “Setidaknya anggota panitia punya seseorang yang bisa diajak untuk berdiskusi dalam pengambilan keputusan yang mungkin berkaitan langsung dengan kepanitiaan. Saya harus pintar dan cermat dalam mengamati dinamika kepanitiaan sehingga anggota panitia tidak berjalan sendiri ketika mereka memaknai pengalaman ini,” katanya.

               Bagi Risang Insadha tahun ini memiliki banyak kemajuan dan terasa jauh lebih ringan dibanding tahun sebelumnya. “Tahun sebelumnya dosen-dosen pendamping telah membangun sistem dan tahun ini tahun ini sistem tersebut tinggal berjalan sehingga terasa lebih mudah. Dinamikanya juga sangat menyenangkan karena para mahasiswa baru tidak banyak menguras energi sementara mereka diberikan materi tentang Universitas Sanata Dharma secara umum. Saya rasa itu merupakan suatu kemajuan,” ungkapnya.

               Menjadi satu-satunya dosen pendamping pada Insadha 2018 ini tentu saja tidak mudah bagi Risang. Ia mengungkap bahwa ia butuh banyak penyesuaian dalam dinamika di lapangan. “Tantangannya justru lebih ke peserta Insadha yang merupakan kelahiran 2000-an, pada tahun tersebut saya sudah SMA, tentu saja beda generasi. Saya biasanya mengobrol dengan sesama dosen, nah, sekarang saya harus terbiasa mengobrol dengan mahasiswa yang merupakan siswa saya sendiri, tentu saja saya membutuhkan banyak penyesuaian,” tuturnya.

Penulis: Christin Ayu

Reporter: Agnes Pearlyta, Christin Ayu, Felicia Tungadi

Editor: Iren lejap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *