Pemukulan Anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Progress oleh Oknum Organisasi HMI Cabang Universitas Indraprasta Jakarta

JAKARTA, Natasmedia.com – Pada Minggu (22/03), terjadi pemukulan terhadap anggota Pers Mahasiswa yang diduga dilakukan oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Teknik Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam (FTMIPA), Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI.

Kasus itu terjadi karena seorang pemuda pers bernama ARM (inisial korban) menulis sebuah opini berjudul “Sesat Berpikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law”. Opini itu dimuat pada 21 Maret 2020 di situs web Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Progress. Narasi yang dituangkan dalam tulisan itu merupakan kritik atas sikap HMI Komisariat FTMIPA Unindra PGRI yang mendukung Omnibus Law. Padahal pada saat ini, menurut ARM, mahasiswa dan buruh ramai-ramai menolak Omnibus law yang dibuat oleh pemerintah itu.

Berikut adalah kronologi runtut kejadian pemukulan tersebut:

  • Dugaan pemukulan tersebut berawal dai pertemuan antara ARM bersama rekannya yang sesama anggota LPM Progress untuk coba mengklarifikasi opininya ke pihak HMI Komisariat Unindra yang diwakil oleh kanda Kevin, Abdul, Ramandi alias Remon, dan Ridwan Gusung di warung jempol sekitar pukul 19.05 WIB, minggu malam (22/03/2020).
  • Sekitar pukul 19.08 WIB, diskusi makin kental dengan tensi emosional tinggi yang dibawa oleh anggota HMI karena tidak terima atas tulisan yang diterbitkan. Selang beberapa menit kemudian, ketika ARM menjelaskan lebih detail tentang isi tulisannya, sejumlah orang yang tidak diketahui asalnya mulai datang.
  • Salah satu anggota HMI Komisariat Unindra tiba-tiba mengacam dengan sebilah parang, beberapa orang pun langsung mengerumuninya. Ketika diskusi semakin memanas, sekitar pukul 19.20 WIB ARM langsung dipukul dari belakang dan mengenai telinganya. Dia dipukul kembali pada bagian wajah, sehingga mengakibatkan sobekan dan pendarahan pada bibir.
  • “Kawan-kawan berusaha melindungi diri saya dari pukulan orang yang tidak saya kenal, beberapa kawan saya pun diserang secara membabi buta,“ tutur ARM. Tak sempat mengambil barang-barang, ARM dan rekannya langsung pergi mencari jalan untuk menyelamatkan diri dari amukan massa, tetapi mereka masih dikejar oleh anggota HMI Komisariat Unindra itu.
  • Padahal saat itu warga berusaha menenangkan massa, tetapi sebagian meloloskan diri dari larangan tersebut dan lanjut untuk mengejar “Salah satu anggota HMI yang bernama Irfan mengejar dengan motor dan menyetop saya. Lalu mengacam untuk membunuh saya,“ jelas ARM. Beradasarkan foto yang diterima di web Tirto, mulut ARM dipenuhi dengan darah dan mengucur ke dagu. Bercaknya hingga ke sweater kuning yang ia kenakan.

Menurut HMI Unindra, tulisan itu telah mencederai bagian dari harga diri mereka sebagai kader himpunan.

“Asumsi isi dan narasi yang tak jelas dari mana asal sumbernya, mereka mengeneralisir HMI pada umumnya yang notabene juga banyak yang tidak terlibat. Perihal ini pun semakin keruh lantaran pihak dari LPM Progress pada hari sabtu melakukan klarifikasi bersama cabang HMI Unindra tidak dapat menemui titik terang lantaran ARM sebagai penulis opini yang juga mengikuti LK I Komisariat Unindra ini hanya memberikan jawaban bahwa ini adalah tulisan dan harus dibalas dengan tulisan. ‘Tunjukan bahwa kalian intelektual’” terang mereka pada pada akun instagram @mhsbergerak.

Usai kejadian pemukulan itu, pada hari minggu (22/03/2020), ARM mengatakan telah melaporkan perbuatan sejumlah anggota HMI Komisariat Unindra itu ke Polres Jakarta Timur. Kemudian ia juga melakukan visum di Rumah sakit Polri Jakarta Timur.

Reporter : Vincentius Dandy
Penulis : Yuda Uwen
Editor : Louis King

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *