Opini: Media Sosial Mengancam Kepribadian Generasi Muda

Seiring dengan perubahan teknologi, cara orang-orang berkomunikasi juga mengalami perubahan. Dari tahun ke tahun perubahan akan perkembangan dan peningkatan teknologi komunikasi terus terjadi. Berawal dari munculnya post-crossing kemudian penciptaan handphone hingga kini akses internet telah dimiliki oleh hampir semua orang di Indonesia. Media sosial kini tidak hanya digunakan untuk komunikasi jarak jauh namun juga digunakan untuk jarak dekat.

Aplikasi media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube sampai saat ini terus menjadi lebih dekat dengan pengguna. Berbagai ahli mulai berargumentasi bahwa real-life communication mulai punah digantikan oleh komunikasi online. Di sisi lain orang-orang juga beranggapan bahwa komunikasi online bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup orang dan tinggal menunggu waktu saja untuk membuat interaksi online dan interaksi langsung atau offline bisa berjalan seimbang. Namun ada satu hal yang pasti yaitu media sosial memengaruhi interaksi bertatap muka dan pengaruh positif serta negatif media sosial tergantung pada keputusan tiap individu.

Di sini penulis akan membahas mengenai berbagai masalah yang timbul karena media sosial. Salah satunya yaitu pengunaan media sosial dan komunikasi online lainnya yang berlebihan mengakibatkan anak tidak dapat mengembangkan kemampuan verbal dan kemampuan emotion intelegence. Dr. Kate Roberts menyatakan bahwa teknologi menyebabkan masalah di mana orang-orang tidak mampu berkomunikasi tatap muka, ia juga berkomentar bahwa komunikasi online mengakibatkan perubahan otak pada anak. Untuk mengatasi hal ini orang tua perlu membatasi komunikasi online anak.

Media sosial juga mempengaruhi hubungan pertemanan yang ada di dunia nyata. Beberapa penelitian berspekulasi bahwa otak manusia hanya dapat menampung pertemanan dalam jumlah terbatas yaitu 150 orang (Chesak). Karena seseorang mempunyai terlalu banyak teman yang aktif dalam komunikasi online, orang tersebut akan kehabisan energi dan waktu untuk berkomunikasi langsung atau tatap muka

Orang biasa cenderung memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai kerugian media sosial terlebih lagi jika mereka tidak memperhatikan penelitian saintifik. Untuk menjawab pertanyaan apakah media sosial menghancurkan komunikasi tatap muka, 80% orang di debate.org menjawab “yes” dan hanya 20% menjawab tidak “no” (Does Social Media Destroy Real Human Relationships?). Orang-orang mengatakan bahwa mengekspresikan pendapat melalui smartphone dapat mengabaikan apa yang terjadi di sekitar mereka dan interaksi online tidak bisa menggantikan interaksi tatap muka.

Media sosial memberikan dampak yang cukup buruk bagi kepribadian penggunanya terutama remaja. Kini banyak para remaja yang merasa kesulitan dalam mengunakan bahasa verbal yang mengakibatkan kesulitan dalam membuat kalimat yang terstruktur dengan benar. Meskipun media sosial tidak seadiktif rokok ataupun minuman, media sosial berkaitan dengan kualitas hidup seseorang. Kelakuan-kelakuan penting seperti berjalan, mengendarai, bekerja bahkan makan dapat berubah karena komunikasi online media sosial.

Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan bahwa perlu adanya kontrol dan batasan mengenai penggunaan media sosial di semua kalangan baik itu anak-anak maupun orang tua. Hal itu disebabkan karena media sosial dapat mengubah hidup kita, baik kepribadian, perilaku bahkan pola pikiran. Untuk memperoleh hal positif dari media sosial, seseorang harus bisa membatasi dan mengunakan komunikasi online secara bijak. Agar relasi dengan teman ataupun keluarga di dunia nyata tidak terganggu dan hidup menjadi lebih nyaman.

Penulis: Irfan

Editor: Rusdiyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *