Mengukur Kepedulian Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan Menyikapi Kasus Bunuh Diri

      Angka bunuh diri di dunia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini sangat meresahkan karena kejadian bunuh diri bisa saja terjadi di sekitar kita atau pada orang-orang terdekat. Menurut penelitian, setiap orang pernah berpikir untuk bunuh diri, paling kurang satu kali seumur hidup.

    Bunuh diri umumnya terjadi karena tekanan yang terjadi pada pribadi seseorang. Tekanan-tekanan tersebut berasal dari masalah-masalah yang dihadapi. Ada yang menanggapi masalah dengan positif yaitu sebagai bagian untuk membentuk diri, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai alasan untuk mengakhiri hidup. Respons orang terhadap suatu masalah tergantung pada seberapa kuat mental seseorang dalam menghadapi masalah. Bila orang merasa tak bisa menyelesaikan masalah yang begitu rumit, maka keputusan untuk bunuh diri akan muncul.

     Selain lemahnya mental dalam menghadapi sebuah masalah, bunuh diri juga bisa terjadi karena didasari perasaan tak dihargai, membandingkan hidup dengan orang lain, serta tekanan-tekanan sosial seperti bullying yang membuat orang menjadi stres. Stres yang tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi depresi. Terbukti bahwa kebanyakan orang yang melakukan bunuh diri dinilai sedang berada dalam keadaan depresi.

      Menurut data  Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 800.000 orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Kasus ini terjadi di semua umur dan menjadi penyebab utama kedua kematian pada kalangaan anak usia 15-29 tahun secara global pada tahun 2019.

     Lain halnya dengan di Korea Selatan. Korea Selatan adalah negara dengan tingkat ekonomi maju ke-13 di dunia, seharusnya warga Korea bisa hidup nyaman dan sejahtera. Namun kenyataannya tidak demikian. The Korean Times mencatat, bunuh diri adalah penyebab kematian nomor empat di Korsel. Pada tahun 2012, tercatat setidaknya 15.000 kasus bunuh diri. Artinya, terjadi 30-40 kasus bunuh diri setiap harinya!

     Menurut WHO, kasus bunuh diri di Asia pada umumnya dilakukan oleh orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Namun berdasarkan kajian Barkeley, semakin tinggi tingkat sosial orang Korea Selatan, justru semakin besar juga kecenderungan untuk bunuh diri. Itulah mengapa, kasus bunuh diri banyak ditemukan di kalangan selebriti, anak muda yang sukses, juga pada orang-orang dengan jabatan penting. Hal ini dibenarkan oleh Hwang San-Min, psikolog di Universitas Yonsei, Seoul, bahwa kecenderungan bunuh diri memang muncul di kalangan orang-orang terkenal karena tekanan karir dan popularitas.

     Menyadari angka bunuh diri yang semakin tinggi, pemerintah Korea Selatan membuat berbagai solusi dan cara untuk mencegah terjadinya kasus bunuh diri. Mulai dari menempatkan ratusan bahkan ribuan pengawas untuk mencegah bunuh diri di sejumlah lokasi yang dikenal sebagai tempat bunuh diri favorit, hingga dengan membuat kelas kematian.

     Jembatan Mapo yang terletak di kota Seoul menjadi lokasi favorit bunuh diri di Korea Selatan. Menurut data pemerintah setempat, rata-rata orang yang bunuh diri di jembatan tersebut meningkat menjadi tiga orang per hari. Hal itulah yang mendorong pemerintah Korea Selatan gencar mencari solusi untuk mencegah kasus-kasus bunuh diri yang semakin meresahkan itu. Itulah alasan pemerintah menempatkan Tim Pelayanan Darurat Air Yeouido sebagai petugas pencegah bunuh diri. Tugas tim ini adalah membujuk para pelaku untuk mengurungkan niat dan menjelaskan betapa berharganya nyawa manusia. Tim ini telah menggagalkan sebanyak 70% dari usaha bunuh diri.

     Selain menempatkan petugas dan tim penyelamat pada area favorit terjadinya bunuh diri, pemerintah Korea Selatan juga membuat beberapa cara pencegahan kasus bunuh diri yang unik. Misalnya dengan tulisan penyemangat. Terdapat banyak tulisan-tulisan penyemangat di area-area rentan bunuh diri, seperti “Besok matahari akan terbit”, “Kami menyayangimu” dan masih banyak lagi. Kebijakan lainnya yaitu dengan menaikkan pagar pembatas jembatan agar menjadi lebih tinggi. Hal ini dibuat karena mengingat cara “favorit” bunuh diri di Korea adalah dengan melompat dari jembatan.

     Pemerintah setempat juga menyediakan layanan telepon untuk siapa saja yang membutuhkan tempat curhat . Hal ini dibuat agar orang yang mau melakukan bunuh diri dapat berkomunikasi langsung dengan para pakar kejiwaan yang berada pada sambungan telepon dengan harapan mereka dapat mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

     Upaya pemerintah Korea Selatan yang paling unik adalah mengadakan program kelas kematian. Program ini dibuat agar orang dapat merasakan kematian sesungguhnya. Cara kerja program ini, peserta akan dibuatkan foto untuk pemakamannya, mengikuti seminar tentang bunuh diri dan kematian, membuat surat wasiat, dan sebelum mereka dimasukkan ke dalam peti mati, kepada mereka akan diperlihatkan video keluarga yang akan mereka tinggalkan.

     Di sisi lain, dilakukan pula pemeriksaan kesehatan untuk kasus depresi. Hal ini dilakukan rutin karena menurut penelitian dari New York Times, sekitar 60 persen orang yang berusaha mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri menderita depresi. Selanjutnya pemerintah memperketat tayangan bunuh diri di TV. Kabinet Korea Selatan bersepakat untuk mengkriminalisasikan tayangan drama TV dan kartun web yang menayangkan kasus bunuh diri. Tindakan preventif ini bertujuan meminimalisasi kasus bunuh diri itu sendiri.

     Sama seperti yang terjadi di belahan dunia lain, kasus bunuh diri juga terjadi di Indonesia. Pemerintah sejatinya sudah membuat solusi pencegahan bunuh diri, seperti menyediakan nomor konseling darurat (119). Masyarakat yang depresi dapat menceritakan semua beban atau tekanan kepada seseorang yang berada di sambungan telepon tersebut. Saat menghubungi nomor tersebut, petugas dan ambulans terdekat akan diarahkan menuju lokasi kejadian. Layanan ini dibuka sejak Juli 2016.

     Namun, solusi ini tidaklah efektif. Pemerintah seakan-akan mengesampingkan kasus-kasus bunuh diri yang terjadi. Terdapat kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab atas kasus bunuh diri yang semakin bertambah di masyarakat. Apa bukti kurang pedulinya pemerintah? Kasus bunuh diri di Indonesia menjadi 10.000 per tahun menurut data tahun 2012, meningkat dua kali lipat dari data sebelumnya. Angka ini terus bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk dan permasalahan dunia yang makin kompleks.

     Jika jawaban kita terhadap pertanyaan bagaimana mencegah kasus bunuh diri adalah “tergantung subyeknya”. Maka benar, kita belum sepenuhnya peduli terhadap kecenderungan bunuh diri, bahkan yang mungkin terjadi di sekitar kita. Sudah saatnya, kita peduli.

 

Penulis                         : Louis Ix King

Editor                          : Johan Arkiang

Sumber Cover            : salamkorea.com diambil 12 Juni 2019, pukul 15.00 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *