Mengimplementasi Karya Seni Lewat Warung Murakabi

“TUMBAASSS…,” kata itulah yang pertama kali disematkan saat melewati sensor memasuki instalasi karya Warung Murakabi dalam perhelatan karya ArtJog 2019 di Jogja Nasional Museum. Tumbas yang diambil dari dari bahasa Jawa berarti membeli, digunakan untuk memanggil penjual saat hendak membeli barang di warung yang merupakan awal dari kontak interaksi antara pembeli dan pedagang dalam aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia. Sapaan ini akrab di telinga bagi mereka yang dulunya sering berbelanja di warung yang mudah ditemui di setiap desa maupun kota besar, yang kini tergerus jaman akibat merambaknya minimarket dan supermarket yang telah mengekspansi hingga ke sudut jalan yang dekat dengan tempat tinggal penduduk kota maupun desa.

Triawan Munaf saat mengunjungi Warung Murakabi saat ArtJog 2019 VIP Preview Opening (25/7).  Sumber: Kitana Larasati

Interaksi yang ramah dan akrab mempertemukan tetangga sekitar rumah pedagang, tidak hanya terbatas dengan aktivitas jual-beli namun menjadi wadah untuk membangun sosial di lingkup terkecil seperti RT maupun RW. Hal inilah yang menjadi ide pembuatan konsep karya Piramida Gerilya untuk menanggapi isu interaksi manusia sosial dan alam yang sedang menjadi fokus ArtJog dalam temanya “Arts in Common-Common Space” yakni mendekatkan seni ke dalam aktivitas manusia sehingga mudah dipahami dan pesan yang tersampaikan dapat tertuju kepada masyarakat luas.

Adapun karya kolektif ini melibatkan delapan orang seniman yang disebut Piramida Gerilya. Diinisiasi Singgih Susilo Kartono (Kreator Spedagi), Indiguerillas (Duo seniman Santi Ariestyowati & Dyatmiko Lancur Bawono) dan Heri Pemad (Direktur ArtJog dan pegiat seni), mereka mengumpulkan pelaku seni lainnya yaitu Agung Satriya Wibowo (Pegiat Pangan Lokal), Lulu Lutfi Labibi (Perancang Busana), Sindhu Prasastyo (Pegiat SAPU Upcycle–produk ekonomi ramah lingkungan), Adamuda (Praktisi Periklanan) dan Rismilliana Wijayanti (Pegiat seni dan direktur Bienalle) berkontribusi dalam instalasi karya Warung Murakabi, yang terdiri dari tiga instalasi karya yaitu Hutan Jambe dan Warung Murakabi sendiri yang terdiri dari Sandang karya Lululutfilabibi dan Indieguerillas, dan Pangan yang terdiri dari 17 vendor lokal Yogyakarta yang telah dipilih berdasarkan jejaring pangan lokal dikurasi oleh Agung Satriya Wibowo di bawah tanggung jawab Rismiliana Wijayanti sebagai manajer Warung Murakabi.

Murakabi yang juga diambil dari bahasa Jawa Krama artinya mencukupi—bermanfaat bagi sesama, atau yang merupakan sinonim dari migunani yang juga memiliki makna yang sama, namun versi yang lebih tinggi dalam tatanan bahasa Jawa. Dipilihnya Murakabi sebagai nama merupakan perwakilan makna dari setiap karya di dalamnya. Seperti halnya Hutan Jambean yang menampilkan bambu-bambu yang tergantung oleh kawat baja di dalam ruangan bercat hitam yang diterangi lampu dan dikelilingi pohon-pohon pisang menggambarkan aktivitas panjat pinang yaitu permainan yang sangat akrab bagi orang Indonesia saat perlombaan 17 Agustusan. Di bambu-bambu tersebut bergantung replika pangan lokal seperti pete dan pisang, biji-bijian, dan peralatan dapur rumahan yang terbuat dari kayu, semuanya tersusun rapi dan bambu-bambu yang banyak menjelma layaknya sebuah hutan di malam hari yang memberikan kesejukan dan kenyamanan. Semuanya disusun sedemikian rupa sebagai ungkapan satire terhadap ambisi orang-orang dalam panjat pinang ketika mereka berlomba-lomba meraih barang elektronik yang harganya cukup mahal dan letaknya yang di atas jauh dari jangkauan tangan orang dewasa.

Instalasi Karya Hutan Jambean. Sumber: Instagram/_warung.murakabi_

Dalam Hutan Jambean, barang-barang tergantung dibuat sedemikian dekatnya dengan jangkauan tangan orang dewasa sehingga mudah diraih dan dinikmati, yang artinya adalah barang yang bermanfaat tidak hanya berasal dari materi yang mematok harga tinggi. Hal remeh di sekitar kita selain berguna untuk membantu aktivitas manusia juga memiliki nilai keindahan yang otentik. Keterjangkauan barang-barang tersebut tidak hanya dalam karya visual namun dibuat implementasinya dalam Warung Murakabi yang sebagian karya Hutan Jambean dijual dan dapat diperoleh masyakat, sehingga menjadi bentuk nyata dari sebuah karya yang dapat disentuh bahkan dimiliki. Murakabi yang juga dibuat plesetannya yaitu Murah Kabeh dalam bahasa Jawa artinya semuanya murah, memang mematok harga yang masih dapat dijangkau masyarakat dari yang barangnya sudah dikenal masyarakat hingga inovasi petani lokal dalam mengembangkan budaya pangan organik.

Suasana aktivitas di Warung Murakabi. Sumber: Kitana Larasati

Barang-barang yang dijajakan tidak hanya dari usaha yang dimiliki seniman Piramida Gerilya namun juga terafiliasi dengan usaha mikro dan petani Yogyakarta. Pangan unik dan inovasi dapat ditemukan di sini seperti Sorgum yang merupakan gandum pengganti nasi, Keripik Pegagan dan Jelatang yang berasal dari dedaunan di pegunungan yang menimbulkan efek gatal saat dipegang di habitat aslinya namun setelah diolah dengan baik menghasilkan keripik yang rendah lemak dan tinggi nutrisi. Juga ada Kombucha yaitu fermentasi teh yang diolah dengan bakteri Skubi menambah keunikan dari produk Warung Murakabi. Sandang hasil kolaborasi Lululutfilabibi dan Indieguerillas yang didesain khusus untuk Murakabi dengan kualitas premium juga menambah kesan nyentrik sehingga segmentasi konsumen merambah seluruh pasar dan kelas ekonomi. Seperti yang dikatakan Agung Satriya Wibowo, Warung Murakabi menjadi bagian dari edukasi untuk menghidupkan kembali budaya jual-beli tradisonal masyarakat dan menjadi prototipe dalam mengupayakan Warung Murakabi yang akan diwujudkan nyata di waktu mendatang.

Agung Satriya Wibowo, salah satu seniman Piramida Gerilya. Oleh: Kitana Larasati

Sementara ini untuk memperoleh informasi dan produk-produk Warung Murakabi di luar ArtJog, pembeli dapat mengakses media daring Instagram di @_warung.murakabi_, namun untuk toko fisik masih hanya dapat dijumpai di ArtJog 2019 hingga 25 Agustus mendatang. Untuk lokasi permanen masih dalam proses, dan diusahakan rampung secepatnya. Lokasi sudah pasti di Yogyakarta sebagai kota yang mempertemukan banyak orang dari berbagai daerah dan bahan baku produk juga berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya. Seyogyanya, budaya tradisional memang butuh dikembangkan dengan cara inovatif terutama bagi generasi Z yang sudah tergerus teknologi dan sistem jual beli yang modern bahkan hanya melalui aplikasi daring dan interaksi sosial antar manusia yang semakin berkurang. Warung Murakabi dapat menjadi contoh untuk menanggapi isu kritik sosial dengan cara yang nyata dan menghidupkan kembali gotong royong yang merupakan identitas rakyat Indonesia.

 

Penulis: Kitana Larasati

Editor: Ni Luh Putu Rusdiyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *