La Mancha

(Samarinda, 15 Januari 2020)

Tabir malamku, sebuah kesepian yang mencopot atap rumah dari jelaga
Kasur lapuk, kepiting dalam celah bantal, dan sebuah danau yang menipis di tengah malam
Carvantes menghujam zaitun membunuh majenun, sejarah menguap seperti agresi.

Dari jauh bukit ini Rocinante, sungai adalah imajinasi yang muskil
Muara adalah ke sia-sia an
Di ujung bukit ini kapal tongkang menjadi batu,
menjadi pulau yang menumbuhkan nafas-nafas kemarau
terbakar beribu cahaya gergaji, darah menyeru perlindungan dari balik perut malam.

Dari dalam bukit ini Rocinante, pagi menumbuhkan zaitun dan kebisuan abu-abu
Zirahmu hitam tembakau, berbaliklah Sancho Paza berbisiklah padaku
Ihwal besi tua yang membunuh mimpi dan berahi di kamar kesatria
Aku dengar jerit: aku dengar batu yang terkilir.

Dari atas bukit ini Rocinante, bunyi kayu menafkahi merkuri dan tembaga
Dataran kering di bawah bukit ini seakan-akan negeri yang tak bisa mengungkapkan cinta
Tapi malam adalah monolog pohon-pohon, bahkan ritus ini menyalibkan tuhan yang sama
Rocinante, tukang cukur dan padre itu mendengar alarm-Mu: luka waktu, pada ringkik mu.

Tabir malamku, sebuah kaki yang menginjaki gerimis dan melocoti kematian seperti peluru.
Barangkali aku alpa. Buku-buku mengajariku melupakan perkara.
Lalu malam hadir kembali, ia melepaskan zirahnya. Ruang itu memerkosa suara,
Gelap menyala dalam lilin hitam, seorang gadis menyanyikanku lagu di halaman:
Aku mengagumimu, kesatria La Mancha.

Ia paham, semua hanya kesedihan, fantasi mengurai di udara.
Para pahlawan yang telah mati, pernah bersembunyi.
Sebaiknya kincir tak berputar, bukit adalah imajinasi yang memintaku berhenti.
Suara ritus terakhir memecah keadaan, buku-buku terbakar kesadaran.
Dari detak bukit ini, Rocinante, tak ada, tak pernah ada.

Rahmat Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *