Industri Kreatif dalam Genggaman Neoliberalisme

Saat ini kita begitu dimanja oleh kehadiran industri kreatif, sebab bagi kita yang gemar melihat hal-hal unik dan khas, ada begitu banyak pilihan tempat wisata yang bisa dikunjungi. Di Indonesia, industri kreatif memainkan peran yang cukup signifikan. Berdasarkan sumber dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), tercatat bahwa industri kreatif menyumbangkan Rp922,59 T terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2016 dan diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2020.

Apakah kita perlu menyambut hal itu dengan tepuk tangan? Mungkin kita akan menemukan jawaban atau malah menyisakan beberapa hal yang patut dipertanyakan apabila kita memahami industri kreatif dan neoliberalisme.

Industri kreatif atau yang biasa disebut dengan ekonomi kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan kegiatan ekonomi yang terkait dengan penciptaan. Industri kreatif berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu.

Menurut Simatupang (2007), industri kreatif adalah sebuah industri yang mengandalkan suatu keterampilan, talenta dan kreativitas yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan hidup. Industri kreatif memiliki 16 sub-sektor, antara lain aplikasi dan pengembangan permainan, arsitektur, desain produk, fashion, desain interior, desain komunikasi visual, seni pertunjukan, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, music, periklanan, penerbitan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Secara khusus di Indonesia, Industri kreatif diyakini akan menjadi tumpuan perekonomian di masa depan. Berkat kontribusinya terhadap PDB yang begitu besar dan semakin bertambah setiap tahun, pemerintah mendorong masyarakat untuk mendukung serta terlibat dalam kerja-kerja industri kreatif.

Antara Industri dan Kreatif

Telah kita ketahui bersama, industri bergerak untuk memproduksi barang atau jasa. Demi menjaga keberlangsungan hidup sekaligus meraup untung, pelaku-pelaku industri akan berusaha menekan lebih rendah nilai input dan menaikkan nilai output. Pengertian industri menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan memanfaatkan sumber daya industri, sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.

Sedangkan kreatif merupakan kemampuan seseorang menciptakan sesuatu yang baru dan relatif berbeda, baik berupa gagasan maupun karya nyata. Kreatif tentu merujuk pada setiap kegiatan ataupun aktivitas manusia.

Utami Munandar (1992:47), menyatakan juga bahwa pengertian kreatif merupakan suatu kemampuan untuk dapat membuat kombinasi baru, dengan berdasarkan data, informasi, atau juga unsur-unsur yang ada. Itulah mengapa pemilihan kata “kreatif” menjadi kurang tepat bagi saya. Terang dapat kita pahami, kreatif jauh dari unsur-unsur ekonomi. Industri kreatif tetaplah seperti industri pada umumnya yang terdapat kegiatan ekonomi dan bertujuan mencapai surplus.

Neoliberalisme

Kemudian, apa itu neoliberalisme? Neoliberalisme adalah paham yang percaya bahwa dengan diberlakukannya pasar bebas, perdagangan bebas tanpa hambatan dan negara bisa mengambil keuntungan serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Mengacu pada kebebasan, neoliberalisme bertujuan untuk mendapatkan kembali kepercayaan pada kekuasaan pasar. Tak luput, industri kreatif juga begitu gencar mempromosikan kebebasan berkarya.

David Harvey (2005), mengatakan bahwa neoliberalisme adalah paham yang menekankan jaminan terhadap kemerdekaan dan kebebasan individu melalui pasar bebas, perdagangan bebas, dan penghormatan terhadap sistem kepemilikan pribadi.

Neoliberalisme membawa semangat bahwa seluruh kehidupan dipandang sebagai sumber laba korporasi dan mampu dijadikan komoditi barang jualan. Kunci utama yang mendorong kekuatan dan kekuasaan pasar adalah privatisasi. Berupaya menghilangkan kontrol publik, sehingga kepentingan individu berjaya di atasnya.

Gejala Neoliberalisme dalam Industri Kreatif

Sekarang istilah “kreatif” kini menjadi aksesoris penting untuk menghasilkan nilai tambah di dunia industri. “Kreatif” sudah kehilangan makna ketika kata “industri” ditempelkan secara berdampingan. Sungguh disayangkan bahwa nilai suatu kreativitas bertransformasi menjadi nilai yang bisa diperdagangkan.

Aset-aset budaya banyak terkomersialisasi. Pelaku-pelaku budaya yang sebelumnya tidak mencari profit akhirnya bergerak mengkapitalisasi kebudayaan. Nilai-nilai budaya diterjemahkan dalam bentuk fisik berupa produk kreatif dan diperjual-belikan. Hal itu selaras dengan semangat neoliberalime yang memandang bahwa wilayah kehidupan mampu dikelola menghasilkan surplus.

Ukiran-ukiran pada ornamen atau pun instrumen budaya dikemas dan diolah sekreatif mungkin dalam produk siap pakai seperti gelang, kalung, tas, dan lain-lain. Kehadiran warung-warung kopi, tempat wisata, pameran seni, dan sebagainya hanya bisa diakses beberapa orang. Bermula dari pinggir-pinggir kota, lalu bergerak ke arus persaingan dan meraup pasar.

Apakah industri kreatif berhasil menyentuh kepentingan publik? Atau malah sebaliknya memperkeruh masalah yang sudah kian ada?

Terkait hal tersebut, menurut saya industri kreatif gagal dalam menyentuh kepentingan publik. Kurangnya peran pemerintah untuk mengakomodasai ruang-ruang publik memberikan kesempatan bagi pihak-pihak privat yang jeli melihat margin di tengah keadaan kita hari ini.

Lantas, apakah kita hanya melihat dan membiarkan nilai-nilai budaya kita berubah menjadi nilai jual yang seharusnya adalah milik bersama menjadi diolah dan dinikmati oleh segelintir pihak atau pelaku usaha? Saya membayangkan suatu saat nanti, bagaimana kemudian membela hak-hak saya ketika hak-hak tersebut menjelma menjadi barang dagang.

Lagi-lagi kerja-kerja neoliberalisme begitu kreatif melanggengkan kehidupannya.

“Industri kreatif gagal dalam menyentuh kepentingan publik. Kurangnya peran pemerintah untuk mengakomodasai ruang-ruang publik memberikan kesempatan bagi pihak-pihak privat yang jeli melihat margin di tengah keadaan kita hari ini”.

*) Opini merupakan tanggungjawab penulis, seperti tertera, bukan merupakan tanggungjawab redaksi natas, dan editor hanya membantu pengeditan tulisan.

Penulis: Syukur Rahmat Gulo

Editor : Veronica Septiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *