Hari Raya Nyepi yang Benar-Benar di Jalan Kesepian

Natasmedia.com – Nyepi merupakan salah satu hari raya yang telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 3 Tahun 1983, yang mana berfungsi untuk menyepikan gejolak indra atau untuk mengendalikan hawa nafsu dengan melaksanakan tapa brata yoga dan samadhi. Nyepi dilaksanakan oleh umat Hindu pada pinanggal apisan tilem atau bulan mati. Ini merupakan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan siklus peredaran matahari, bulan, dan bumi menurut kalender mereka.

Jika berbicara tentang Hari Raya Nyepi, maka tak akan lepas dari aspek kebudayaan. Begitu pula dengan kebudayaan suatu bangsa yang aspirasinya terdapat dalam segala aspek kehidupan dan terdiri dari berbagai pola, tingkah laku, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh. Hal itu terutama diturunkan melalui simbol-simbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk di dalamnya perwujudan benda-benda materi. Untuk itu sebuah esensi kehidupan suatu daerah atau bangsa tak akan terlepas dari kebudayaan, karena pusat esensi kebudayaan tersebut terdiri atas cita-cita atau paham, terutama keterikatan terhadap nilai-nilai.

Namun, saya tidak akan menulis lebih dalam tentang Hari Raya Nyepi dan kebudayaannya. Sebab dalam tempurung kepala saya, tulisan di atas hanyalah prolog dan merupakan wujud ucapan selamat Hari Raya Nyepi kepada khalayak yang merayakan. Hal yang akan saya tulis adalah mengenai kondisi dari jalan-jalan penuh sepi, sunyi, dan senyap layaknya nyanyian malam kudus khas Katolik yang bergema pada malam natal.

Bumi pada kuartal belakangan ini sangatlah mengerikan. Bahkan sudah seperti cerita yang dituliskan oleh Albert Camus dalam novelnya yang berjudul Le Peste atau yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sampar. Novel itu memberi gambaran mengenai suasana Prancis pada masa perang melawan Nazi dengan berlatar belakang kota Oran. Akan tetapi Prancis bukan hanya berperang melawan Nazi, melainkan juga berperang melawan penyakit sampar yang menyakiti siapa pun tanpa pandang bulu. Sangat mengerikan bukan?

Sekiranya saat ini semakin dapat tertara dengan wabah sampar silam. Bagaimana tidak? Walaupun telah melewati lintas zaman yang cukup jauh kita masih saja berperang. Perang yang saya maksud adalah perang ekonomi dengan negara-negara adikuasa dan negara kita sendiri. Belum lagi efek neo-liberalisme yang semakin mencengkram kita layaknya kepalan tangan yang dengan mudahnya meremukkan sebutir telur ayam. Oiya saya lupa, kita juga sedang meratapi nasib wabah Covid-19 yang dibalut bisikan moral-moral khas penguasa feodalistis di dalam rumah, sampai yang menjelma dalam kursi-kursi legislatif dan eksekutif.

Sebelum adanya wabah Covid-19, pejabat tinggi AS dan Tiongkok menyatakan siap melakukan perang dagang antar kedua negara. Pertanyaan ini pun juga ikut muncul di tempurung saya, apakah jangan-jangan wabah ini adalah senjata biologis yang dibuat untuk merespon perang dagang? Pasalnya ketika wabah ini merebak di kota Wuhan, ekonomi Tiongkok langsung jatuh drastis. Bila melihat lebih luas lagi yang terkena wabah dan dampak ekonominya pun bukannya hanya Tiongkok, melainkan hampir seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Memang hebat betul teori Politicial will dan orientasi ekonomi politik yang bias pasar menempatkan kepentingan kapitalisme di atas masalah kemanusian dan jaminan layanan dasar rakyat secara menyeluruh. Alih-alih memberikan prioritas kepada kebutuhan mendasar, jaringan keamanan sosial dan merespon Covid-19, Rezim yang menguasai Indonesia justru melakukan pemborosan alokasi APBN 2020 dengan pelbagai kebijakannya yang tak ramah sama sekali dengan rakyat.

Saat melakukan mitigasi Covid-19, rezim juga turut tak mampu mengatasinya dengan baik. Lebih herannya lagi, rezim malah menggandeng influencers senilai Rp. 72 M hanya untuk promosi dan melakukan diskon tarif maskapai penerbangan guna menggenjot kunjungan wisata. Secara teknis juga masih kurangnya transparansi penanganan Covid-19, kegagapan koordinasi pusat dan daerah, serta buruknya infrastruktur kesehatan. Kegagapan rezim dalam mitigasi ini akhirnya berimplikasi pada lambatnya penganan kasus yang menempatkan rakyat luas dan tenaga medis dalam resiko tinggi. Hal ini sangat beresiko ketika melihat data per-tanggal 24 Maret 2020 yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan mortality rate—tingkat kematiannomor satu di ASEAN, dengan 55 kematian dari 686 kasus (baca: worldometer.info, 24/3).   

Untuk itu dengan adanya wabah Covid-19, saya semakin diyakinkan atas ketidakpercayaan terhadap negara adikuasa, adanya sistem negara, dan kapitalisme. Bersama teman-teman yang sepaham dengan ide konyol—hidup tanpa campur tangan negara yang mustahil bagi sebagian orang yang telah terdogma akan nikmatnya negara dan pemimpin, kami pun mencoba membangun kolektif anti-kekuasaan untuk meminimalisir kejadian buruk yang akan terjadi selanjutnya—seperti halnya wabah.

Pesan terakhir sebelum pamit, seharusnya di saat seperti ini kita perlu solidarity untuk menjaga lingkungan dan jarak aman. Lalu bila ada yang mengatakan kita perlu social distancing, kupikir itu salah karena lebih baik segera diganti dengan physical distancing. Karena pada hakikatnya, kita adalah makhluk sosial dan tak mungkin menolak berkoloni bersama kawanannya. Sekali lagi, selamat Hari Raya Nyepi dan kamu janganlah merasa sepi. Tabik!

Penulis: Vincentius Dandy Ariputra Ginola

Editor: Veronica Septiana S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *