Berkarya Tak Pandang Siapa Kamu

“Mereka menertawakanku karena aku berbeda, tetapi aku menertawakan mereka karena mereka semua sama” (Kurt Cobain)
Sebagian orang menganggap keterbatasan fisik dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk berbuat sesuatu di masyarakat. Tidak jarang pula, mereka disisihkan dari pergaulan. Tetapi, mereka tidak pantas dilupakan begitu saja. Tidak sedikit dari mereka menyimpan potensi besar layaknya manusia normal. Deaf Art Community (DAC) membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah suatu halangan untuk berkarya. “Keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih sesuatu,” begitu kalimat yang sering diucapkan Broto Wijayanto, pendamping DAC kepada para anggota komunitas.
 Sesuai dengan namanya, komunitas ini berisi kaum tunarungu yang berbakat dalam bidang seni. Berdiri pada 28 Desember 2004, komunitas ini dulunya bernama Matahariku Social Voluntary (MSV). Didirikan oleh beberapa mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Seiring berjalannya waktu, kemudiaan komunitas ini berganti nama menjadi DAC pada tahun 2006.
            Broto Wijayanto atau panggilan akrabnya Broto, merupakan pendamping komunitas DAC yang dikenal sebagai sosok seorang ayah di dalam komunitas tersebut. Pada mulanya dia tidak begitu tertarik untuk bergabung dengan DAC. Tetapi, karena dorongan seorang teman akhirnya, dia memutuskan untuk bergabung. “Awal-awal saya bergabung, bingung juga bagaimana berkomunikasi dengan mereka. Tetapi, saya diajari bahasa isyarat oleh mereka, lama-kelamaan terbiasa juga,” tambah pria paruh baya ini.
Para punggawa DAC setelah tampil dalam 
Inisiasi Sanata Dharma (Insadha) 2016, Rabu (3/7)
            Hasil kolaborasinya dengan anak-anak tunarungu tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Berbagai pentas, baik tingkat nasional maupun internasional, telah mereka jalani. Berbagai pesan moral mereka sampaikan di setiap pementasan. “Pernah kita berpentomim mengenai pendidikan kebencanaan. Jadi, apa yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa bumi itu kita pentaskan melalui gerak. Pesan moral yang ingin kita sampaikan adalah bahwa kaum difabel juga berhak diselamatkan ketika terjadi bencana alam,” tuturnya. “Berkat seringnya kita pentas keluar tersebut, anak-anak ini jadi punya banyak kenalan dengan sesama kaum tuli, bahkan ada yang di luar negeri. Sering juga mereka menggunakan Skype dengan bahasa isyarat,” tambahnya, seusai mendampingi DAC tampil dalam acara Inisasi Sanata Dharma (Insadha), Rabu (3/7).
            Melalui pentas-pentas tersebut, Broto berharap dapat merusak batas komunikasi. “Jadi, komunikasi tidak ada batasnya lagi, yang tuli dengan tidak tuli harus bisa terjadi, dan harapannya setelah itu, bagi siapapun melihat pementasan kami, bisa melihat keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih sesuatu, itu poin utamanya,” ujarnya.
            Uniknya, anggota DAC sendiri tidak mau disebut tunarungu. Walaupun istilah tersebut merupakan bahasa yang lebih halus dari ‘tuli’. “Ini adalah sosialisasi dari teman-teman sendiri sebetulnya, saya hanya mengikuti mereka, di kalangan kita bahasa halusnya adalah ‘tunarungu’, tapi jika kita menyebut ‘tunarungu’ dan mereka tahu artinya, ‘tuna’ artinya ada sesuatu yang rusak, ada sesuatu yang kurang, bagi mereka tidak, mereka memang ditakdirkan sebagai tuli, sebagai orang yang tidak mendengar, sehingga mereka disebut ‘tuli’ tidak masalah, aku tuli, tidak ada yang rusak dalam diriku, itulah identitasku,” tegasnya.
            Hingga saat ini, terdapat kurang lebih 250 anggota yang bernaung di DAC, walaupun yang aktif hanya sekitar 20 orang. Tetapi, jika pentas, di atas panggung bisa berisi 100 hingga 150 orang. Walaupun begitu, Broto tidak ingin ada anak yang tinggal menetap di DAC. “Tidak boleh, yang bertanggungjawab terhadap mereka, ya orang tua mereka sendiri, percuma jika mereka sukses di DAC, tetapi hubungan dengan orangtua semakin jauh. Kalaupun harus menginap, itu jika ada agenda khusus, seperti menonton sepakbola bersama atau paginya harus naik gunung bareng, “ tuturnya seraya tertawa.

Reportase bersama: Dionisius Sandytama Oktavian & Konsita Bela Resa
Penulis: Dionisius Sandytama Oktavian
Editor: Ludgeryus Angger Prapaska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *