Apa Esensi Sekolah?

Dewasa ini, makin banyak lulusan-lulusan sarjana yang berkompeten dalam bidangnya. Namun, malah makin bertambah juga jumlah pengangguran. Parahnya lagi, mereka yang tidak mendapat pekerjaan dianggap kurang atau sama sekali tidak kompeten dalam bidangnya.

Penyebab pekerjaan sangat sulit didapatkan perlu penyelisikan lebih lanjut. Semisal, kita sudah disekolahkan dari SD hingga lulus S1. Apa saja yang kita dapatkan di sekolah sehingga pekerjaan tak kunjung didapatkan sesuai dengan pilihan kita?

Pada awalnya semua tampak biasa saja. Di mana, sudah layak dan sepantasnya kita sekolah. Hingga akhirnya muncul keresahan-keresahan ketika sudah lulus ingin pekerjaan sepeti apa. Bahkan, lebih tragisnya lagi mulai muncul pertanyaan untuk apa sekolah.

Sekolah sudah memberi kemanfaatannya bagi kita semua. Kita bisa membaca dan menghitung dengan lancar berkat peran sekolah. Tunggu dulu, bukan hanya itu saja, sekolah juga memberikan pengajaran bagaimana caranya mengikuti perintah dengan baik dan benar. Ia memberikan pelajaran bagaimana patuh, diam, dan melaksanakan perintah. Sampai pada akhirnya sekolah sudah seperti agama. Ia dapat menggolongkan manusia.

Sangat luar biasa bukan? Sekolahlah yang menentukan nasib manusia. Padahal, dalam kenyataannya lowongan pekerjaan tidak hanya melihat unsur sekolah saja, tetapi juga melihat apa yang bisa kalian kerjakan, bila kalian bisa, maka kalian layak dipekerjakan.

Sekolah Dan Pekerjaan

Lalu apa guna kita semua sekolah hingga tinggi bila sekolah tidak bisa menjanjikan apapun. Ini semua hanya pemborosan waktu. Kita dapat belajar di mana pun, mulai lingkup terkecil seperti keluarga, hingga lingkup yang agak besar seperti masyarakat.

Sekolah tidak memberikan apapun soal janji kehidupan yang layak, tetapi mengapa kita percaya seolah-olah sekolah yang paling maha kuasa akan hidup kita ke depannya? Apakah karena sekolah melakukan hipnosis kepada kita semua?

Telah lebih dari belasan tahun kita dijajah oleh sekolah demi mendapatkan satu kertas berisikan nilai, yang nantinya dipakai saat melamar pekerjaan. Setelah mendapat pekerjaan, kita kembali ke masa penjajahan  baru yang mana tenaga dan pikiran kita diperas demi keuntungan, dan itu pun kita tidak tahu siapa yang paling diuntungkan.

Tentu kita paham, setelah mendapat pekerjaan, kita akan bekerja sungguh-sungguh sampai pada akhirnya, kita melampaui batas-batas yang ingin dilakukan. Itu semua akibat tekanan pekerjaan, dan hantu-hantu pengangguran yang siap menggantikan pekerjaan bila kita melakukan kesalahan.

Ketakutan-ketakutan semacam inilah yang membuat pertanyaan seberapa pentingkah sekolah. Seperti pernyataan Alexander Berkman dalam Apa Itu Anarkisme Komunis?, “Barisan pengangguran merupakan ancaman konstan terhadap standar hidup kamu. Mereka siap mengambil posisimu dengan bayaran yang lebih rendah, karena kebutuhanlah yang memaksa melakukannya.”

Rantai Yang Mengikat

Sadarkah, bahwa sekolah adalah dasar dari sebuah eksploitasi tenaga manusia untuk mengais keuntungan kapitalis. Ini sudah gawat, kita dipaksa untuk tunduk secara halus. Naluri alamiah kita telah dihancurkan oleh retorika tenaga pengajar, dan tentu saja pengajar tersebut tidak sadar sudah menghancurkan serta dihancurkan pikirannya oleh sistem “jahat” ini.

Teringat lagu ciptaan Pink Floyd berjudul Another Brick In The Wall. Makna dalam lagu tersebut mengkritik sistem pedidikan yang sekolah terapkan. Dominasi tenaga pengajar dalam memegang kendali otoritas tertinggi dalam sekolah, membentuk sebuah kediktaktoran. Hal tersebut pula yang kerap kali tidak terlihat, sehingga menjadi contoh untuk diterapkan para murid ataupun mahasiswa di dalam kehidupannya.

Tidak sampai di situ, karena proses dalam sistem pendidikan seperti ini, maka para murid ataupun mahasiswa akan mengulang hal yang sama dilakukan oleh tenaga pengajar. Hal ini pula yang nantinya akan membawa ke dunia pekerjaan.

Lantas, perlu dipertegas kembali bahwa sekolahlah yang mengajarkan kompetitif dalam kehidupan kita.

Pada akhirnya, sekolah hanyalah omong kosong belaka, untuk tercapainya cita-cita yang diinginkan. Selagi sedikitnya orang-orang yang bekerja secara maksimal, maka sistem kapitalis akan diuntungkan. Satu lagi, ternyata sekolah membantu berjalannya sistem ini.

 

Penulis : Vincentius Dandy Ariputra Ginola

Editor    : Johan Arkiang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *