Aksi di Pertigaan Colombo Dihelat dengan Mengusung Tagar #GagalkanOmnibusLaw

Natasmedia.com – Aksi yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) pada Senin (9/3) siang berkumpul di Pertigaan Colombo. Kali ini gerakan menghelat dalam rangka penolakan atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja dengan metode Omnibus Law yang akan segera disahkan. Sama seperti gerakan tahun lalu yang mengusung tagar #GejayanMemanggil, tagar tersebut digaungkan kembali bersamaan dengan tagar #GagalkanOmnibusLaw. Massa berkumpul di titik masing-masing, yaitu Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Multi Purpose Universitas Islam Negeri (UIN) dan Taman Pancasila Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebelum menuju titik pusat. Aksi ini sendiri merupakan kelanjutan dari wacana gerakan nasional “Reformasi Dikorupsi”.

Berbagai elemen berkumpul untuk saling membantu dalam aksi kali ini. Natasmedia.com sempat mewawancarai tim medis yang berada di titik pusat. Fadly Zubair, selaku sub-koordinator tim medis, mengatakan bahwa bantuan yang diberikan merupakan inisiatif beberapa orang dengan pembiayaan pribadi tanpa mengatasnamakan kelompok tertentu. Situasi seperti chaos dan memakan korban telah diantisipasi dengan simulasi yang sama seperti aksi Gejayan Memanggil tahun lalu. Fadly mengatakan bahwa tim medis ini dipimpin oleh satu koordinator dan dipecah menjadi beberapa kelompok yang salah satunya berada di wilayah Radio Republik Indonesia (RRI).

Aksi yang didahului dengan orasi oleh perwakilan masyarakat dan mahasiswa ini dilanjutkan dengan live musik.

Dengan mikrofon berbalut plastik guna melindungi dari air hujan, perwakilan elemen masyarakat tetap melanjutkan orasi penolakan atas Omnibus Law. (Dok. : Natasmedia.com)

Berbeda dengan tahun lalu, massa kali ini tidak semasif tagar #GejayanMemanggil yang sempat menduduki peringkat pertama trending topic di Twitter.

Shinta Maharani, ketua AJI Yogyakarta, memiliki pandangan tersendiri terkait aksi kali ini.

“Saya kira bukan hanya persoalan berapa jumlah massa, tetapi yang lebih substansial adalah gerakan bersamanya, isi dari gerakan itu apa. Itu jauh lebih penting menurut saya, ketimbang kita bicara soal berapa jumlah angka aksi massa yang datang hari ini atau kemarin (tahun lalu).”

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa gerakan ini menjadi tonggak untuk melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak demokratis dan tidak pro pada hak asasi manusia (HAM), atau mengabaikan hal-hal fundamental.

RUU Cipta Kerja yang tidak melibatkan aspirasi publik dalam proses pembahasannya ini merujuk pada mencederai demokrasi di Indonesia yang kemudian oleh Shinta Maharani disebut dengan kekuasaan otoritarianisme.

Penulis : Yuda Pramono

Editor : Artania Sidauruk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *