Menanamkan Benih Pluralisme Sejak Dini

           

simbol persatuan yang digambarkan dengan tangan
saling bertumpuk dari berbagai ras. Sumber : google/T.A. Donnelly

Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.Itulah yang sering didengungkan semenjak bangku sekolah ketika di kelas atau mengikuti upacara bendera. Mungkin banyak kalangan yang dapat memahami secara definitif, tetapi apakah mudah untuk menanamkan secara konkrit? Indonesia merupakan negara multikultural, sehingga bisa menjadi melting pot atau pertemuan beragam suku, agama, dan ideologi.  Walaupun dipersatukan oleh nilai-nilai yang menjunjung tinggi persatuan seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya konflik akibat suatu perbedaan.

Bagaikan besi panas yang lebih mudah bengkok, pelajar adalah masa dimana mudah dipengaruhi, maka perlu pendidikan karakter yang positif, salah satunya dengan menanamkan pendidikan pluralisme sejak dini. Pendidikan sering dianggap  transfer knowledge, padahal yang tidak kalah penting adalah implementasi.  Terkadang siswa dituntut menghafalkan banyak istilah maupun teori, perlakuan tersebut tidak bulat tanpa adanya aspek praktis, sehingga pendidikan diharapkan untuk tidak sekedar given, tetapi perlu tindakan aktif.
Untuk dapat melatih kemampuan memahami pendapat orang lain dan menciptakan pikiran yang terbuka, pendidikan perlu membangun suasana dialogis, yaitu untuk menghargai perbedaan persepsi ketika melihat suatu persoalan. Melalui komunikasi, maka akan mencapai suatu kesepakatan bersama, sehingga suatu masalah dapat diselesaikan dengan diplomasi, tentu tanpa ada unsur kekerasan. Dengan mengedepankan komunikasi dapat mengurangi terjadinya konflik yang sarat akan kekerasan.
Pluralisme juga tidak luput dari pendidikan multikultural. Menurut Tilaar pendidikan multikultural mengupas mengenai keadilan sosial, musyawarah, HAM, politik, moral, edukasi, dan agama. Penerapan dalam pendidikan misalnya menghargai umat beragama lain, gotong royong, memperkenalkan keberagaman budaya dan kerukunan umat  beragama melalui cover buku/LKS, pelajaran interreligious juga bisa menjadi pilihan. Secara garis besar bertujuan membendung pandangan individualistik dan eksklusif di kalangan anak didik. Selanjutnya, paradigma keberagaman dan Ketuhanan harus inklusif. Ketuhanan tidak luput dari humanisme, dalam hal ini mengasihi sesama tanpa memandang latar belakang agama ataupun perbedaan yang lain, tentu saja sikap menjadi refleksi dari suatu nilai kemanusiaan.
Selain itu, salah satu hal yang diperlukan oleh kalangan pelajar saat ini adalah keteladanan. Banyaknya kasus korupsi, kolusi, nepotisme, dan kasus kejahatan lainnya di Indonesia berpotensi timbulnya krisis keteladanan. Selain guru dan orang tua yang akan menjadi teladan, siswa juga perlu ditekankan tentang teladan tokoh kebhinekaan. Misalnya Ahok, suami dari Veronica Tan ini adalah role model yang layak, beliau sering diserang dengan isu etnik dan sinisme perbedaan agama, tetapi kini beliau bisa menduduki puncak panggung politik DKI, Ahok juga sebagai tokoh yang tegas dalam  memperjuangkan hak-hak masyarakat sekalipun memiliki tekanan dari berbagai pihak. Tidak lain dengan Gus Dur, yakni mantan ketua Nahdatul Ulama yang membebaskan warga Tionghoa mengekspresikan kebudayaan dan menjalankan ibadah Kong Hu Chu di Indonesia melalui Kepres nomor 6 Tahun 2000. 
Semakin masyarakat dapat menghargai perbedaan, maka menandakan semakin bertumbuhnya kedewasaan suatu bangsa. Jika pendidikan di Indonesia demikian, maka anak didik tumbuh menjadi insan yang kokoh dalam menjaga hamonisasi di masyarakat dan negara.

Nama               : Andi Setianto

Prodi                : Teknik Informatika
Universitas      : Sanata Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *