Sekolah Berwajah Kaku

Syahdan, hiduplah seorang anak bernama Bilung. Bapaknya guru dan ibunya penjahit. Kisah ini berawal ketika Bilung diberi hadiah tas punggung merah gambar Micky Mouse oleh ibu dan ikat pinggang kulit warna hitam oleh bapak pada hari pertamanya masuk taman kanak-kanak. Tonggak sejarah hidup pertamanya adalah kata-kata yang diucapkan ibunya di depan gerbang taman kanak-kanak ketika Bilung takut melihat bakal gurunya berwajah kaku, “sekolah itu baik dan menyenangkan, nak”.

Karena bapaknya seorang mantan calon pastor, waktu kecil Bilung selalu dibacakan satu kisah dari Alkitab bergambar kesukaan Bilung. Itu membuat Bilung mengira ia akan bersekolah di tempat mirip Taman Firdaus. Ia membayangkan ia akan duduk di atas rumput hijau empuk dan lembap, lalu di atas kepalanya menggantung buah pengetahuan antara jahat dan baik. Ia juga membayangkan akan punya guru yang minum madu dan makan belalang, mirip Yohanes Pembaptis, yang akan mengajarkan keutamaan hidup kepadanya di antara hewan lucu yang berlari-lari kecil di sekitar tempat ia belajar.
Tetapi kini Bilung telah besar, ia telah sekolah selama empat belas tahun. Bilung kini tahu dari dua barang yang diberikan orang tuanya ketika ia akan masuk taman kanak-kanak yang berguna hanyalah ikat pinggang kulit warna hitam pemberian bapaknya. Bagi Bilung, selama empat belas tahun ia bersekolah, ikat pinggang itu lebih berguna daripada sebuah tas yang mengandung harapan bahwa sekolah itu baik dan menyenangkan. Ikat pinggang itu berguna karena semua guru Bilung suka jika ia berpakaian rapih, terlebih jika ia duduk diam di kelas tanpa banyak tanya. Tapi yang terpenting, ikat pinggang itu berguna menahan celananya supaya tidak mlorot karena perutnya kempes kurang makan akibat sering tidak dapat uang jajan dari bapaknya yang guru tapi rejekinya seret itu.
Di tahun ke empat belasnya ini, Bilung menyadari telah sekian lama otaknya macet dan imajinasinya mampet. Di samping itu, bapaknya yang guru itu telah pensiun, uangnya makin dikit dan badannya juga makin ciut. Mungkin karena sewaktu kecil bapaknya sering mebacakan kisah-kisah dari Alkitab maka Bilung tumbuh menjadi seorang yang penuh iman, kasih dan harapan. Maka walaupun tahu jadi guru itu bikin perut ciut dan dahi berkerut, ia tetap memilih kuliah di jurusan keguruan. Ia bercita-cita menjadi guru yang mengajarkan keutamaan, seperti Yohanes di Alkitab bergambar kesukaannya.
Tapi syukur alhamdullilah, sejak Bilung kuliah, ia menjadi sadar bahwa yang macet dan mampet ternyata bukan cuma otak dan imajinasinya, tapi hampir semua sekolah di negaranya ternyata juga macet dan mampet. Lebih parah lagi, Bilung merasa murid dan guru di negaranya sama-sama kehilangan antusiasme untuk belajar. Belajar bukan lagi menjadi aktifitas yang mengasah logika dan ketangkasan berpikir, tetapi hanya ditujukan sebagai bekal mencari pekerjaan yang layak.
Ketika Bilung mencoba mengingat kembali dua belas tahun pendidikan pertamanya, ia menemukan berbagai masalah mulai dari buku sekolah yang mahal, akreditasi yang penuh dengan sandiwara, pungutan-pungutan yang kecil tapi sering, ribut-ribut Ujian Nasional, ricuh penerimaan siswa baru, gurunya yang sumringah ketika dapat gaji ketigabelas, gurunya yang rebutan jam mengajar dengan sesama rekan guru supaya lolos sertifikasi, kurikulum yang semrawut dan masih banyak lagi masalah lainnya. Tetapi menurut Bilung ada dua hal yang utama dalam masalah itu, pertama soal biaya pendidikan yang mahal, dan kedua soal guru ideal.
Sebelum merenung tentang dua hal itu, terlebih dahulu Bilung berpikir tentang tujuan pedidikan. Ia setuju benar dengan gagasan tujuan pendidikan yang dipopulerkan Driyarkara, memanusiakan manusia. Tetapi kalau benar itulah tujuan pendidikan, seharusnya dulu sebagai murid, ia memiliki kebebasan memilih belajar apa yang ia suka dan bebas menghabiskan waktu dengan berbagai macam pertanyaan yang hinggap di benaknya. Dengan begitu murid akan dapat merasakan kelas sebagai rumah yang nyaman, tempat ia bebas untuk bertanya dan berefleksi tanpa merasa takut menyita waktu gurunya.
Pertama, masalah pendidikan yang mahal, Bilung tidak akan protes sejauh guru mendapatkan bagian finansial yang layak. Bilung setuju dengan apa yang diungkapkan oleh St. Kartono bahwa meskipun profesi guru harus dimaknai sebagai panggilan, kesejahteraan guru tetap merupakan hal yang vital. Jika kehidupan guru sejahtera, ia akan mempunyai lebih banyak waktu untuk memahami karakteristik setiap anak didiknya. Guru memerlukan ketentraman batin dalam menjalani panggilan jiwanya untuk mengajar, dan tidak boleh dilupakan salah satu faktor utama penyangga ketentraman batin itu keadaan ekonomi yang mapan.
Dan yang Kedua, guru ideal bagi Bilung harus memiliki kemampuan menjahit harapan, seperti ibunya. Guru yang baik adalah guru yang percaya bahwa semua muridnya baik. Maka tugas guru membebaskan muridnya dari rasa takut dan memberi ruang untuk menampilkan yang dianggap benar oleh hati nuraninya. Selain itu guru harus peka tentang keindahan hidup, ia harus membantu muridnya memaknai hidup yang adalah misteri supaya muridnya tidak tumbuh menjadi generasi yang menjiplak sejarah. Terakhir dan tidak boleh dilupakan, guru harus meyakinkan muridnya melalui perbuatan dan kebiasaannya bahwa ia adalah guru yang patut digugu lan ditiru.
Bilung melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Sejenak didengarnya suara perutnya sendiri yang meraung kelaparan. Karena sudah tak ada lagi uang untuk membeli nasi, Bilung segera meringkuk tidurdan mengakhiri renungannya dengan mengucap doa “semogalah manusia mampu menjahit kembali harapan bahwa semuanya adalah baik dan akan tetap menjadi baik.
Penulis   : Pandu Wiyoga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *