Menjalin Hubungan Antaragama a la YIPC

Devi menjelaskan pengalamannya di YIPC

Jumat (07/05) Devi Widjayanti, mahasiswa Sastra Inggris 2013 Sanata Dharma berbagi pengalaman mengikuti Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia yang diadakan pada 1-3 Mei 2015. Acara yang berlangsung di Kaliurang ini menuai pujian dari pesertanya. Menurut Devi, peserta sangat bersyukur dan menjadi lebih berpikiran terbuka setelah mengikuti acara tersebut.  Mengusung tema “Building  Peace Generation Through Young Peacemakers”, acara ini bertujuan untuk membuka ruang diskusi dan dialog antarmahasiswa. 

Untuk mengusung dialog antar agama, tantangannya sangat beragam. Menurut Devi, tantangan dalam membuka ruang dialog meliputi perbedaan etnis, agama, kelamin dan status ekonomi. Mahasiswa yang beragama Buddha ini menambahkan, untuk menutup perbedaan ini dibutuhkan pola pikir yang terbuka, menolak segala jenis kekerasan, dan saling memaafkan.  
Dosen Sastra Inggris USD Harris Setiadji mengapresiasi acara tersebut. “Sastra Inggris tidak berkutat pada sastra saja tapi pada hal yang lain. Kebetulan isu ini sedang marak, banyak sekali konflik antar agama yang terjadi,” ujarnya. Harris juga menambahkan agar forum antar agama dihidupkan di lingkungan Sastra Inggris USD.  
Senada dengan Harris, Fransiska Kristanti juga mengapresiasi acara tersebut. “Yang saya dambakan ini (forum antar agama -red) bukan hanya buat mahasiswa Sastra Inggris saja, tapi untuk sekarang kita khususkan di Sastra Inggris dulu. Harapannya, mahasiswa bisa berpikiran terbuka dan terjun ke masyarakat untuk mengulurkan tangan,” tambah dosen yang aktif di komunitas Cemara di bantaran Kali Code, Yogyakarta.
   
Reporter : Azizta Laksa M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *