Jalinan Internasional Membawa Inspirasi

                         YOGYAKARTA (8/11) – Biennale Jogja XIV Equator#4 diselenggarakan pada tanggal 2 November-10 Desember 2017, berpusat di Jogja National Museum yang sering dikenal JNM oleh masyarakat. Rangkaian acara yang disajikan ialah Festival Equator, Main Exhibition, Parallel event, Biennale Forum, dan Lifetime Achievement Award. Dari rangkaian acara tersebut memiliki makna bahwa  diperkiraan pada masa mendatang akan ada krisis pangan di Asia. Dari perkiraan tersebut maka perhimpunan kurator seluruh Asia mengambil tema “Stage Of Hopelessness” yang memiliki arti tahap keputusasaan. Di sisi lain dari tema tersebut terselip sebuah arti lain yaitu jika dua huruf dari depan (yang merujuk pada st) dan kata lessness dihilangkan dari kata tema tersebut menghasilkan makna umur harapan. (“Stage Of Hopelessness”)
                          Pameran ini digagas oleh para kurator se-Asia yang bekerja sama dengan para seniman Brazil. Awal gagasan ini dibuat dari seorang seniman asal Indonesia, Pius Sigit Kuncoro. Pada saat berkunjung ke Brazil, beliau juga melihat ada pameran Biennale, lalu beliau mempunyai ide bagaimana menggabungkan kebudayaan di Brazil dan Indonesia, maka beliau mengundang tiga kurator dari Brazil. Tiga kurator ini diundang agar lebih mengenal kebudayaan Indonesia yang dapat direlevansikan dengan budaya dari Brazil sehingga dapat menghasilkan pagelaran pameran ini di Indonesia.

                         Acara ini diadakan setiap dua tahun sekali, mulai dari tahun 1988. Yayasan Biennale berperan besar dalam pagelaran ini karena  banyak mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kesenian. Saat mengadakan pameran ini, seri equator baru dimulai pada tahun 2011 dan akan berakhir pada tahun 2021. Pada tahun 2017 Yayasan Biennale sudah mengadakan equator seri keempat yang bekerja sama dengan negara-negara pada garis ekuator terutama bekerja sama dengan negara Brazil. Brazil dipilih karena merupakan negara terjauh dari ekuator. Pada tahun 2021 akan dirumuskan pameran seni yang bertemakan laut.

                          Yayasan Biennale membuat konsep pameran seni yang berlokasi di JNM dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama berada di lantai dasar. Bagian ini memuat tentang bagaimana masalah-masalah manusia pada zaman sekarang seperti orang direndahkan, hal-hal tabu, dan negatif yang menyelimuti kehidupan masyarakat. Selanjutnya bagian kedua di lantai dua, lebih menekankan pada bagaimana cara jalan keluar dari masalah yang berbau negatif tersebut. Jadi, sisi tengah ini memberikan sebuah harapan akan jalan keluar dari sebuah masalah, bagaimana cara mengatasinya. Salah satu karya yang menarik adalah karya dari anak Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kutoarjo berbentuk perahu. “Maksud dari karya tersebut adalah ketika kita mau bahagia, harus melewati hal-hal yang sulit. Setiap orang pasti punya masalah, di mana kita bisa menghadapi masalahnya, bukan jadi hanyut dalam masalahnya,” ungkap Nur saat diwawancarai pada tanggal 8 November. Selain itu juga ada karya tempat tidur berwarna merah muda yang memiliki judul ‘Kamu Pecundang Kalau Tidak Bisa Tidur’. “Maksudnya disini adalah orang yang banyak marah biasanya sulit untuk tidur,” imbuhnya kembali.

                         Bagian yang terakhir di lantai tiga ada sebuah karya berjudul kapur barus. Diberi judul itu karena kurator asal Medan ini ingin menjelaskan bahwa kapur barus itu asalnya dari kota Barus. Pada zaman dahulu sebelum masehi harga kapur barus lebih tinggi dari emas, maka itu merupakan simbol kejayaan. Namun sayangnya, sekarang pohon kapur barus sudah habis karena sering diambil masyarakat. Selain di JNM, juga ada banyak spot tersebar di berbagai daerah di Yogyakarta. Di sana juga akan disajikan pameran seni namun dikhususkan pada seniman Indonesia dan beberapa dari luar negeri. Seniman Indonesia yang terlibat sekitar 27 orang, sedangkan dari Brazil sejumlah dua belas seniman profesional. Dengan diadakan pameran ini, para kurator ingin mempererat jalinan kerjasama antar negara. Selain itu, dari sisi edukasi, masyarakat dapat belajar pengetahuan dan inspirasi baru dari keadaan saat ini.

Penulis dan reporter: Margareta Kusumaningrum

Editor: Gabriella Anindita 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *