WR III: Tidak Ada Favoritisme UKM dalam Penggunaan Auditorium

          “Auditorium ini adalah milik kita bersama.”

          Yogyakarta—Soft-launching auditorium Universitas Sanata Dharma yang dilaksanakan di Kampus II, Mrican (13/06) berjalan meriah dan sukses. Acara diawali dengan misa pembuka dan dilanjutkan dengan

kata sambutan oleh para petinggi yayasan serta rektor Sanata Dharma.

          Setelah itu, para hadirin dipersilahkan makan malam bersama di sekitar gedung auditorium. Acara ditutup dengan pentas seni yang dimeriahkan oleh beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas universitas, yakni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus, Sekar Jepun, Tutu Club, Grisadha, Teater Seriboe Djendela, Pakat Dayak, Sexen, dan Sadhar Jazz.
          Gedung auditorium ini sebenarnya telah direncanakan sejak tahun 2002. Namun, karena terdapat halangan dalam memprioritaskan kepentingan perkuliahan, terjadi penundaan dalam pembangunan auditorium. Akhirnya, pada Juni 2015 auditorium ini diserahterimakan kepada pihak universitas.
          Acara soft-launching ini untuk kalangan Sanata Dharma agar menumbuhkan kesadaran bahwa auditorium adalah milik bersama. Nantinya auditorium ini akan lebih sering digunakan mahasiswa, dibandingkan karyawan maupun dosen. “Auditorium ini adalah milik kita bersama,” ujar Wakil Rektor III Andalas Mutiara S. J. kepada natas setelah acara selesai. “Tidak ada favoritisme UKM manapun di Sanata Dharma. Jadi, kita ingin memberikan ruang yang setara kepada semua UKM untuk bisa mengembangkan diri.”
          Peresmian ini sekaligus menjadi uji coba untuk memeriksa kekurangan yang perlu diperbaiki oleh pihak universitas. Sekarang ini, universitas akan berfokus memperbaiki auditorium agar lebih layak dalam pementasan drama maupun konser musik. Contohnya, auditorium belum dilengkapi dengan ruang rias. Grand-opening untuk auditorium kemungkinan akan dilaksanakan pada bulan Oktober ini.
          Perihal ketentuan penggunaan auditorium, Andalas mengatakan bahwa UKM memiliki hak untuk menggunakan auditorium tanpa dikenai biaya. Pihak eksternal universitas pun bisa menyewa gedung auditorium untuk kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan. “Kita memiliki ruang di mana kebudayaan mendapat tempat,” ujar Andalas lagi. “Dan dalam bahasa Driyarkara, kata pembudayaan itu penting.” Berbeda dari pihak internal, pihak eksternal yang mau menggunakan auditorium harus membayar biaya penyewaan yang nantinya masuk sebagai pendapatan universitas.
          Sejauh ini, sudah ada kelompok-kelompok yang mengajukan pemakaian auditorium. Namun masih perlu dipertimbangkan lagi, misalnya mengenai jumlah hadirin dan jenis acara yang ditampilkan.

          Penulis : Istu Septiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *