Bengkel Sastra Adakan ‘Remang-Remang’

                   Bengkel Sastra, Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) Sastra Indonesia Universitas
Sanata Dharma (USD), mementaskan teater dengan judul ‘Remang-Remang’. Pementasan ini
digelar pada Minggu (5/11) di Taman Beringin, Fakultas Ekonomi, Kampus 1 USD. Pentas
teater ini mengadaptasi lakon dari drama ‘Tumirah (Sang Mucikari)’ karya Seno Gumira
Ajidarma. ‘Remang-Remang’ merupakan teater yang diperankan oleh para mahasiswa
Program Studi Sastra Indonesia dari angkatan 2014-2017.

Pentas Lakon ‘Remang-Remang’ di Taman Beringin, Fakultas Ekonomi, Kampus 1 Universitas Sanata Dharma (5/11) Dok : Bengkel Sastra

                       Pentas Lakon ‘Remang-Remang’ disutradarai oleh Arlingga Urak, mahasiswa angkatan 2015. “Awalnya milih tentang judi. Cuman setelah dibaca, ternyata konflik-konflik yang dibangun di naskah cukup relevan dengan zaman saat ini. Konflik yang dimaksud seperti kekerasan, keseragaman, adu domba, dan balas dendam.”, ungkap Arlingga. Bengkel Sastra mempersiapkan Pentas Lakon ‘Remang-Remang’ ini sudah sejak Februari lalu.

                    Pentas Lakon ‘Remang-Remang’ ini melibatkan 17 orang aktor di dalamnya. Pemeran utama dalam drama ‘Tumirah (Sang Mucikari)’ yaitu Phelvine Immanuella (2015) sebagai Tumirah, seorang germo berusia 40 tahun. Pementasan ini juga didukung dengan musik, make up, dan kostum yang dapat membuat penonton ikut merasakan era 90-an.

                     Sesaat sebelum Pentas Lakon ‘Remang-Remang’ dimulai, ternyata terjadi hujan deras yang membuat pentas tersebut menjadi tertunda beberapa jam. Para aktor dan sutradara ‘Tumirah (Sang Mucikari)’ mengaku merasa khawatir akibat hujan deras yang tidak kunjung berhenti. “Kita kan sudah berproses lama banget. Waktu latihan juga jarang hujan, tapi di saat hari pementasan malah hujan. Takut kalau kita batal pentas dan enggak bisa nampilin maksimal apa yang sudah kita latih selama ini.”, ujar Dominicus Galih yang berperan sebagai Sukab. “Bahkan jauh-jauh hari sebelum pentas sudah merasa khawatir. Itu karena dari awal sudah memilih panggung terbuka, jadi sudah khawatir dari awal.”, ungkap Arlingga.

                     Tertundanya pentas ternyata tidak membuat penonton pulang begitu saja. ‘Remang-Remang’ ditonton oleh lebih dari 300 orang penonton. Hal ini terlihat ketika kursi yang disediakan telah terisi penuh serta terdapat banyak orang yang menonton dari lantai 2 gedung Fakultas Ekonomi. Di kursi bagian depan juga terlihat beberapa dosen Program Studi Sastra Indonesia yang hadir untuk menonton teater yang diperankan oleh para mahasiswanya.

                     Pentas Lakon ‘Tumirah (Sang Mucikari)’ berakhir pukul 22.00 WIB dengan tepuk tangan yang meriah oleh seluruh penonton. “Pentas malam ini tentu asyik. Harapan terbesar untuk Bengkel Sastra ke depannya adalah tetap pentas.”, ujar Arlingga saat diwawancara di akhir pentas.

Penulis : Ayudityas Kristalita

Editor : Iren Lejap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *