Pementasan Lakon Remang Remang Bukti Totalitas Mahasiswa

 

                Salah satu adegan dalam pentas lakon “Remang-Remang”. Foto : IGSastraUSD/Dominicus Galih

Pentas lakon ”Remang – remang” merupakan bukti totalitas mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Hal ini dikarenakan, walau sempat terkendala hujan mengguyur lokasi pentas, para aktor dan crew tetap melaksanakan pentas lakon ini dengan totalitas. Hal ini terbukti dari riuhnya antusiasme penonton yang hadir.

Pentas lakon “Remang – remang  yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (        HMPS) Sastra Indonesia pada hari Minggu, 5 November 2017 merupakan adaptasi dari naskah drama “Tumirah (Sang Mucikari)” karya Seno Gumira Ajidarma. Pentas ini di sutradarai oleh mahasiswa Sastra Indonesia yang lebih dikenal dengan Arlingga Urak. Naskah ini menyoroti kehidupan seorang pelacur yang dianggap sebagai profesi yang rendah di masyarakat, tetapi siapa sangka, tokoh utama, yaitu Tumirah memiliki sifat kemanusiaan yang lebih tinggi terhadap sekitar ketimbang kebanyakan masyarakat zaman sekarang yang lebih mementingkan ego masing masing.

Pementasan lakon ini melibatkan semua mahasiswa Sastra Indonesia dari angkatan 2014 hingga angkatan 2017, bahkan alumni pun ikut membantu. Semuanya berpartisipasi baik menjadi aktor ataupun tim produksi, dan pentas ini sukses karena mampu memenuhi target penonton. Sekitar 200 orang lebih yang menonton pentas ini, baik dari mahasiswa Sastra Indonesia, mahasiswa Univeristas Sanata Dharma diluar kampus 1, dosen Sastra Indonesia, hingga penonton dari luar kampus, baik mahasiswa, atau pelajar. Pentas lakon ini bertempat di Beringin Fakultas Ekonomi Kampus 1 Universitas Sanata Dharma.

Diharapkan dengan adanya Pentas lakon “Remang – remang” ini, penonton dapat mengambil nilai nilai kemanusiaan yang terkandung didalamnya. Pentas yang dilaksanakan dibawah pohon beringin ini juga diharapkan mampu menimbulkan kesan nyata yang membekas di hati para penonton, bahwa kemanusiaan merupakan hal wajib yang harus dimiliki oleh manusia.

Penulis & reporter : Christina Rindang Kasih

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *