Panggung Literasi Selatan: Sebuah Usaha Bersanding dalam Ruang Literasi

Pengunjung Membaca Cuplikan Makalah Pindai.org
Remang-remang cahaya dan alunan lagu menyeruak dari Beranda Radio Buku di Sewon Indah I, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Minggu (4/10) malam. Pemenang lomba nyete—melukis di atas kretek yang menjadi seni khas Pantura—serta lomba majalah dinding (mading) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga dibacakan pada malam puncak acara PLS tersebut. Hari itu menandai berakhirnya acara Panggung Literasi Selatan (PLS) yang sudah digelar sejak Jumat (2/10).
Pengunjung yang masuk ke Hall Radio Buku malam itu dapat menjumpai lapak zine serta sampul muka rupa-rupa terbitan alternatif yang dipajang di sudut tembok ruang utama, kemudian di sebelah kanan terdapat sebuah ruangan kecil, tempat Jombloo.co memajang aneka poster jenaka Agus Mulyadi yang telah dipoles dengan teknik Photoshop. Di depan kamar Jomblo dipajang aneka makalah berisi laporan jurnalisme telaten (slow jurnalism) milik Pindai.org. 
Diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta yang bekerja sama dengan Radio Buku serta Pemerintah Desa Panggungharjo, rangkaian acara ini berlangsung selama tiga hari di tiga titik tempat. Dusun Prancak Glondong (Beranda Radio Buku), Dusun Pandes (Kantor Kelurahan Panggungharjo), dan Lapangan Prancak (Utara Kampus ISI Yogyakarta) menjadi ruang untuk berbagi kesadaran akan literasi dalam rangkaian acara PLS.
Fairuz Mumtaz, koordinator PLS yang juga pengelola Radio Buku, menyatakan bahwa ada 30 komunitas ditambah 17 komunitas muda dan kontemporer yang bergabung dalam rangkaian acara ini. Hal senada diungkapkan oleh Muhidin M. Dahlan atau yang kerap disapa Gus Muh. Ia mengatakan bahwa PLS merupakan pertemuan antara (komunitas -red) terkini, dengan yang terkuno atau leluhur. “Kekinian dan keluhuran bertemu dan bersanding di sini, hacking conflict, istilahnya jika mengambil dari tema Biennale,” ujar salah satu pendiri Radio Buku itu.
Alia Swastika, Direktur Biennale Yogya ke-XIII, dalam sambutannya yang sekaligus mengakhiri rangkaian PLS mengatakan bahwa Festival Equator menjadi bagian yang penting bagi penyelenggaraan Biennale Yogya. “Kami berharap memberi keragaman seni yang ada di Jogja. Karena saya percaya seni di Jogja, terutama seni rupa, mengandung gagasan keberagaman,” jelas Alia.

Penulis: Rosa Vania S.
Reportase Bersama: Iswandono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *