Pagelaran Sendratari: Ora Edan (Ora) Kedumanan

Salah satu adegan dalam pementasan Ora Edan (Ora) Keduman. Foto: natas/Clarita Simarmata

Sabtu (28/10) menjadi malam kebahagiaan bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Grup Tari Sanata Dharma (Grisadha) dan UKM Karawitan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Mereka mengadakan pentas bersama dalam rangka menggenapi dua tahun pementasan rutin yang bertempat di Auditorium Driyarkara USD. Pagelaran yang dikemas dengan menampilkan kebudayaan Indonesia ini melibatkan berbagai pihak kontributor, baik dari dalam maupun luar kampus USD. Sementara itu, kepanitiaan yang tergabung dalam acara ini sekitar 120 mahasiswa dari berbagai program studi (prodi) dan fakultas.

Selain menampilkan sensasi tarian tradisional dengan tema “Ora Edan (Ora) Keduman”, pihak anggota Karawitan dan Grisadha juga menyelipkan genre modern dalam setiap adegan yang tersirat dalam isi tarian tersebut. Menurut sang sutradara, Galuh Putri Satyarini (21), pementasan ini merupakan kebahagiaan tak terhingga bagi Grisadha dan Karawitan karena menampilkan lebih dari cukup bagi kampus USD tercinta–setelah melewati waktu enam bulan latihan rutin.

Dia juga mengatakan bahwa suatu kebanggan bagi mereka sendiri karena mempunyai kesempatan bisa tampil di malam Sumpah Pemuda. Baginya, ini adalah momen luar biasa yang dapat dipersembahkan bagi dunia, khususnya untuk Indonesia. Galuh, yang juga adalah pemeran utama dalam pementasan dua tahun lalu, mengajak seluruh mahasiswa Indonesia untuk mulai berproses. “Semua yang kita lalui butuh proses, untuk dapat menampilkan yang terbaik itu butuh proses panjang, maka marilah berproses untuk mendapatkan hasil yang terbaik,” tambahnya.

Di pihak lain, Saras Setyowati (20) yang merupakan pemeran utama dalam tarian cerita rakyat ini menjabarkan proses latihan sampai pada malam puncak pementasan. “Semua proses yang kami lewati itu sangat panjang, apalagi proses menjadi seorang pemeran utama dan proses belajar dari seorang manusia normal berperan menjadi manusia kurang waras,” jelasnya ketika ditemui di ruang ganti Auditorium Driyarkara USD. Kendati demikian, ia mampu melewati segala latihan hingga malam pementasan, berkat dukungan penuh dari keluarga besar serta teman-teman Grisadha dan Karawitan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan sebuah kehormatan dan kebanggan karena dapat menampilkan yang terbaik di malam Sumpah Pemuda. Wanita pecinta tari modern ini menyampaikan rasa terimakasih bagi pendukung yang telah menyukseskan acara pentas tahunan ini, khususnya bagi teman-teman UKM Karawitan, Institut Seni Indonesia (ISI), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sudah bekerja sama dengan baik.

 

Penulis : Fani Stefani

Reporter: Clarita Simarmata

Editor : Dionisius Sandytama Oktavian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *