Yogyakarta “Langka” Air Bersih

Fragmen (aksi teatrikal) oleh mahasiswa jurusan
Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma

          Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universtas Sanata Dharma, Rabu (22/3) sore, menggelar aksi kampanye di Tugu Yogyakarta. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan khususnya dalam penggunaan air secara bijak. Ditambah sekarang Kota Yogyakarta sedang ramai #JogjaAsat untuk menyindir pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan yang berlebihan di kota pelajar tersebut. Hal ini pun turut berdampak pada semakin keringnya ketersediaan air bersih bagi warga Jogja, lebih-lebih bagi mereka yang tinggal dekat dengan hotel maupun pusat perbelanjaan tersebut.

           Kegiatan aksi kampanye ini dimulai pada pukul 16.00. Walaupun cuaca sedikit gerimis, namun itu tak menyurutkan niat para “Driyarkara Muda” untuk menggelar aksi. Mereka berdiri tegap mengelilingi simbol Kota Yogyakarta, Tugu, sembari membawa poster dan spanduk yang berisikan ajakan masyarakat yang melintas untuk menghargai air. Setelah aksi kampanye selesai sekitar pukul 16.45, giliran para mahasiswa Prodi Sastra Indonesia USD angkatan 2015 “beraksi”. Bertempat di pelataran Monumen Tugu Yogyakarta, mereka menampilkan fragen mengenai pentingnya air dalam kehidupan.
Setetes air saja mampu menghidupkan”, begitu salah satu cuplikan dalam cerita fragmen tersebut.

BEMU Universitas Sanata
Dharma mengadakan

 kampanye elegan
dengan berdiri bersama 

di dekat Tugu

           Wakil Rektor III Universitas Sanata Dharma, Rm. Patrisius Mutiara Andalas, S.J, yang berhasil saya wawancarai di tengah aksi kampanye, sangat mendukung kegiatan seperti ini. “Aksi seperti ini menunjukkan bahwa mahasiswa mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap isu-isu yang tengah hangat diperbincangkan, sehingga mereka tak hanya berfokus pada isu di internal kampus saja. Isu air ini tengah menjadi isu nasional, bahkan mungkin global dimana banyak daerah di dunia kini kekurangan air. “Memang kemajuan dan modernisasi kota banyak merusak ekologi lingkungan,” paparnya Rm. Andalas, “Saya harap kegiatan ini bukan menjadi yang pertama dan terakhir. Setelah ini, kita akan mengadakan kegiatan penanaman seribu pohon dan masih menjadi satu rangkaian dengan kegiatan ini,” lanjutnya.

      Sementara itu, Presiden BEM USD, Angga Dwi Putra mengatakan bahwa isu #JogjaAsat telah menyebar ke tingkat nasional. Atas dasar itulah, BEM seluruh Indonesia meminta kepada BEM USD untuk “mengorek” dan meneliti mengenai isu ini. “Aksi ini adalah awal langkah kami untuk mengkampanyekan pentingnya air bagi kehidupan, terutama di Jogjakarta, yang tengah hangat isu #JogjaAsat. Aksi ini juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa mahasiswa bisa menyuarakan aspirasi secara santun dan kreatif, tidak anarkitis seperti yang masyarakat luas pikir,” tuturnya setelah aksi kampanye. Tak hanya itu, beberapa polisi yang sedang bertugas di sekitar lokasi juga terlihat mengabadikan momen tersebut. “Saya sangat suka aksi seperti ini. Ini menunjukkan mahasiswa sekarang kritis-kritis. Menyampaikan sesuatu dengan cara yang elegan. Tidak rusuh. Tapi, kegiatan seperti ini seharusnya dilaksanakan pada siang hari agar lebih banyak lagi yang menonton,” tutur Ervan, salah satu masyarakat yang menonton aksi ini dari awal hingga akhir.

Liputan: Dionisius Sandytama Oktavian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *