Tunggal Yasa Lena Praja: Relevansi Masa Kini dan Masa Lampau

                  Teater Seriboe Djendela (TSD) kembali menyelenggarakan teater akbar yang bertajuk Tunggal Yasa Lena Praja. Acara ini digelar pada Jumat (20/10) bertempat di Audiotorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. Teater yang diadaptasi dari naskah ketoprak Nyala Api Kemerdakaan di Jantung Tanah Mataram karya S. H Mintardja ini bercerita tentang kerajaan Mataram yang membela mati-matian tanahnya dari serangan Kolonial Belanda. Acara ini tidak hanya seni teater saja tetapi juga berkolaborasi dengan seni karawitan, orchestra, silat, wayang kulit dan tari.

Penampilan Teater Seriboe Djendela (20/10). Dok : Adrian

                 Teater ini mengangkat kegelisahan akan keadaan Indonesia saat ini yang memiliki relevansi dengan keadaan Indonesia pada zaman kerajaan Mataram dulu, seperti tindakan suap. “Praktek suap hingga konflik antar warga pribumi sudah terjadi sejak zaman kerajaan Mataram, Teater ini lebih menyoroti konflik internal antar Pibumi yaitu kekalahan Kerajaan Mataram karena adanya praktek suap yang dilakukan oleh VOC dan ini tidak banyak ditulis dalam buku sejarah akademisi,” kata Dominikus Avio Egamaista Purba, selaku asisten sutradara teater ini.

                  Menurut Dominikus atau yang sering disapa Gaplek bahwa melalui acara ini, Gaplek berharap  masyarakat Indonesia dapat berkaca dari masa lalu dan jangan terus menerus menyalahkan pemerintah. “Masyarakat jangan hanya menyalahkan pemerintah saja, tetapi mereka juga bertanya, apa yang sudah di lakukan untuk bangsa. Tidak harus dari hal-hal yang besar, bisa dimulai hal yang kecil.”

Penulis & Reporter: Adrian Juliano Taufik, Ziadhine, Setadewa, Abdul Fikri Pelu

Editor: Christin Ayu Rizky, Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *