Nostalgia di Jogja Repoeblik Onthel

              Jogja Repoeblik Onthel yang diselenggarakan pada tanggal 13-22 Oktober 2017 ini, berlokasi di Bentara Budaya dan Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Rangkaian acara yang disajikan ialah pameran onthel, fotografi komunitas onthel, konvoi onthel, penjualan spare part onthel yang cukup langka, dan ajang perkumpulan komunitas onthel dari berbagai kota di Indonesia.

               Acara ini digagas oleh Towil, ketua Komunitas Paguyuban Onthelis Djogja (Podjok) dan diselenggarakan oleh Komunitas Podjok dan Jogja Onthel Community, yang bekerja sama dengan komunitas onthel di tiap kota serta pemerintah DIY. Tujuan diadakan acara itu guna menjalankan program pemerintah “Sego Segawe” atau “Sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe”  (sepeda untuk sekolah dan bekerja) dan mengangkat peran komunitas sepeda onthel dari dalam maupun luar pulau Jawa.

               “Sebenarnya ‘sego segawe’ ini untuk mengaktifkan kembali sepeda sebagai mode transportasi. Jogja dulu, kan terkenal dengan kota pelajar. Sepedanya mau digalakkan kembali,” ujar Ibu Wuryani, ketua pengelola Bentara Budaya.

Ketua Bentara Budaya sedang meninjau pameran Jogja Repoeblik Onthel.

                 Panitia menargetkan 2000 peserta, tetapi seiring berjalannya pameran ini, peserta semakin membludak. Dari keseluruhan onthel yang dipamerkan, terdapat onthel yang berumur sangat tua produksi Belanda tahun 1910 dari Komunitas Onthel Kebumen. ‘Deklarasi Jogja Repoeblik Onthel’ merupakan upaya mengangkat kembali peran  sepeda sebagai transportasi masyarakat.  Kethoprak Ludruk Kirun dari Madiun, kirab budaya, dan lomba-lomba turut memeriahkan acara tersebut.

                 Soenaryo adalah salah satu peserta pameran onthel dari Komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo. Beliau membawa sepeda Gazelle, produksi Belanda pada tahun 1928 dan Fongers pada tahun 1923. Sepeda tersebut didapatkannya dari seorang kolektor sepeda onthel dengan harga dua puluh juta rupiah, sedangkan jika dijual kembali bisa mencapai tiga puluh juta rupiah sampai 65 juta rupiah. Hal itu disebabkan oleh berkembangnya zaman sehingga sepeda onthel semakin sulit dicari. Selain itu, Soenaryo mengungkapkan bahwa keunikan sepeda onthel yaitu menggunakan bahan bakar minyak sebagai penerangan.

            Bentara Budaya sebagai pengelola acara pameran berkontrbusi besar dalam acara Jogja Repoeblik Onthel. “Bentara Budaya tidak hanya sekadar mengadakan pameran, tetapi mendokumentasinya dalam bentuk buku. Jadi, hasil pameran tidak hilang begitu saja. Setelah pameran, kami akan membuat buku dan dicetak terbatas.” ungkap Ibu Wuryani.

Penulis & Reporter: Atria Graceiya, Kitana Larasati, Margareta Kusumaningrum

Editor: Gabriella Anindita, Stefani Haban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *