Perjuangan Kaum “Kathok Abang”

             Gemuruh Ombak yang deras menghantam karang-karang tajam, matahari (25/05) mengiringi warga Watu Kodok, dalam mempersiapkan berbagai hal, dalam rangka meranyakan genap satu tahun perjuangan warga Watu Kodok (Paguyuban Kawula Pesisir Mataram) melawan para investor. Dalam acara yang bertemakan,  peringatan satu tahun perjuangan warga Watu Kodok (Festival Kathok Abang), turut pula hadir, teman-teman dari LBH Yogyakarta, Kelompok Darwis (Sadar Wisata), ARMP (Parang Kusumo), WTT (Organisasi dari Kulonprogo), dan berbagai lembaga yang lain. Sedangkan pantai Watu Kodok sendiri, secara administratif merupakan bagian dari Desa Kelor Kidul, Kecamatan Kemadang, Kecamatan Tajung Sari, Kabupaten Gunung Kidul. Sesuai dengan nama festivalnya, warga memakai baju seragam SD sebagai bentuk rill dari perkataan petinggi-petinggi daerah tersebut.          

         Tupar selaku wakil ketua dari Paguyuban Kawula Pesisir Mataram menjelaskan bahwa kami (warga Watu Kodok) sudah membabat lahan di sini sekitar tahun 1949. “Kami yang menempati lahan tersebut terlebih dahulu”. Lanjutnya lagi, “kalau dikaji lebih mendalam, tanah tersebut merupakan milik negara. Seandainya tanah ini milik sultan dan sultan sudah mengizinkan, kami menerima. Akan tetapi, di sini kami menolak dengan rasa kemanusiaan dan sosial. Acara ini kami lakukan sebagai wujud eksistensi kami di Watu Kodok,” tutur Tupar. Hal senada dikatakan oleh Surahman selaku  Humas Paguyuban Kawula Pesisir Mataram bahwa, tujuan diadakannya acara tersebut supaya para masyarakat Gunung Kidul khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya melihat kesulitan dan perjuangan warga watu kodok dalam menghadapi para investor. “Acara ini memperjelas bahwa, pantai Watu Kodok masih merupakan milik warga Watu Kodok,” lanjut Surahman.
           Mitha, seorang aktivis yang turut hadir dalam acara tersebut, mengatakan bahwa warga Watu Kodok harus saling mendukung, berjejaring, supaya kedepannya tidak ada lagi tanah warga yang dicaplok oleh kaum investor ataupun kaum pemodal lainnya. “Teman-teman yang memiliki nasib sama hendaknya saling berjejaring dan saling mendukung, sehingga apa yang dialami oleh masyarakat di Watu Kodok tidak terjadi di tempat lain,” ujar Mitha.
“Saya memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan warga Watu Kodok. Akan tetapi, warga Watu Kodok perlu mengingat bahwa, usia satu tahun bukanlah proses yang lama, melainkan baru awal perlawanan,” ujar Elangga, aktifis LSM yang bergerak di media komunitas. Tambahnya lagi,  “Warga watu kodok sendiri harus mampu menjaga kekompakan, kekonsistenan dan komitmen bersama, mengigat akar masalahnya belum terlihat jelas. Proses respon yang sebenarnya kemungkinan besar baru terjadi pada waktu-waktu yang akan datang”.


penulis : Benedictus Fatubun

editor : Judha Jiwangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *