Nasionalisme Dalam Pustaka Bergerak

Saat diskusi berlangsung di Ruang Koendjono, Kampus II Gedung Pusat Lt.4 Universitas Sanata Dharma/Foto oleh Hildegardis Astrin

                  JOGJA, NATAS –  Nirwana Ahmad Arsuka mengatakan bahwa nasionalisme adalah salah satu juru selamat  di masa depan. Hal ini diungkapkan dalam seminar yang bertajuk “ Nasionalisme di tengah Kewargaan Budaya dan Ekstremisme Global”.

                 Sabtu, 21 Oktober 2017 Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma bekerjasama dengan Kemendikbud Direktorat Sejarah menyelenggarakan Seminar Nasionalisme yang berjudul “ Nasionalisme di tengah Kewargaan Budaya dan Ekstremisme Global”. Nirwan merupakan pendiri perpustakaan yang di beri nama  Kuda Pustaka. Lanjutnya perpustakaan ini dibangun di wilayah perkampungan untuk memuaskan rasa keingintahuan anak-anak yang antusias melihat hal-hal baru. Tambahnya, bukan hanya Kuda pustaka, tetapi ada yang lain seperti Perahu Pustaka,  Becak Pustaka, dan lain-lain.

                 Nirwan melanjutkan bahwa yang menjadi motto mereka adalah memburu pembaca. Ketika  di lapangan, dia melihat bahwa anak-anak sangat suka dengan kuda. Berangkat dari pengalaman tersebut, dia melakukan kerjasama dengan kawan-kawannya yang memiliki kuda.  Dia mengatakan kebanyakan perpustakan sekarang yang didirikan pemerintah gagal, karena pegawai-pegawainya bermental pegawai, dimana mereka hanya duduk diam menunggu masyarakat datang.

“Banyak perpustakan keliling yang didirikan pemerintah gagal, karena pegawainya bermental pengawai, dan bawa mobil, mobilnya bagus, tinggal merokok-merokok saja, berharap masyarakat datang” tambahnya ketika ditemui di sela-sela kegiatan.

Vini Octaviani Hendayani selaku koordinator umum seminar mengatakan, seminar tersebut merupakan rangkaian program tahunan pascasarjana di bidang pendidikan publik. Lanjutnya program ini sebagai wadah belajar bersama antara akademisi dengan masyarakat . Vini menambahkan, seminar ini diadakan dengan tujuan mengajak masyarakat luas untuk membicarakan hal-hal mengenai sejarah dan politik.

“kita (pusdep) punya suatu program tahunan. Namanya pendidikan publik,  dimana akan menjadi wadah belajar bersama antara kawan-kawan akademisi dan masyarakat luas” Ungkapnya

Seminar yang diadakan di ruang koendjono ini, dimulai pada pukul 09:00-19:40 WIB menghadirkan empat pembicara yaitu Prof. Dr. A. Supratiknya, Dr. Titus Odong Kusumajati, M.A, Teuku Kemal Fasya, S. Ag., M. Hum dan Nirwana Ahmad Arsuka. Pembicara menyampaikan materi nasionalisme dari perspektif masing-masing. Mulai dari perspektif ekonomi, agama, pendidikan, dan literasi.

Reporter: Alvin Ryan Himawan, Hildegardis Astrin, Kadek Asriyani, Veronika S. D. Wiran

Editor: Benediktus Fatubun, Renata Winning Sekar Sari

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *