Mulut Terbungkam, Kata-Kata Menghujam

Siang itu teriknya matahari menemani langkah kami berempat. kami dari Pers Mahasiswa (Persma) Natas Universitas Sanata Dharma berjalan di bawah panasnya matahari yang serasa membakar kulit hingga ke tulang. Terlihat dari kejauhan ada sekelompok orang tengah memegangi spanduk bertuliskan tuntutan yang tak kunjung jelas mau dibawa kemana arahnya. Semua tuntutan itu disebabkan oleh pihak-pihak yang dirasa kurang bertanggungjawab atas penuntasan kasus-kasus kemanusiaan yang dibiarkan teronggok.

Panas semakin terasa terik siang itu. Lakban yang membungkam mulut dari masing-masing orang yang melakukan aksi kala itu semakin terasa sesak, sama halnya dengan suasana lampu merah yang  juga sesak dengan hiruk pikuk kendaraan bermesin. Polusi udara tak terelakkan lagi, ada dari kami yang terbatuk-batuk akibat terbelit asap kendaraan yang tak bersahabat.

Saat itu kami melakukan aksi solidarisasi untuk menuntut penyelesaian kasus Udin, Dandhy, dan Novel. Apakah

nama itu tidak asing di telinga kalian? Mereka semua adalah korban ketidakadilan yang dilakukan oleh oknum-oknum tai kucing di negara ini. Kasus wartawan Udin, Dandhy Dwi Laksono, Novel Baswedan adalah segelintir contoh dari tumpulnya keadilan di negara kita. Seorang wartawan bernama Udin dibunuh karena berita yang ia tulis, seorang jurnalis independen bernama Dandhy dipidanakan karena berita yang ia tulis, hingga tokoh KPK seperti Novel pun juga mendapat siraman air keras oleh oknum jahanam sehingga sekujur wajahnya menderita cacat fisik. Sungguh ironis peristiwa yang telah terjadi di sekitar kita.

Aksi yang dilakukan di Titik Nol Kilometer kota Yogyakarta ini merupakan aksi k-37. Aksi-aksi sebelumnya juga menuntut keadilan yang disalah-kaprahkan oleh pihak-pihak tak bermoral. Panasnya terik matahari tak dirasakan oleh manusia tangguh pembela keadilan siang itu. Bibir kami memang terbungkam, tapi kata-kata tidak akan pernah benar-benar beristirahat jika ada sebuah kebenaran yang disalahkan. Pihak yang bergabung dalam aksi sore itu tidak hanya dari pihak Aliansi Jurnalis Independen (AJI) saja. “Banyak yang ikut bergabung dalam aksi ini, toh jika hanya satu orang pun aksi ini juga akan tetap berjalan,” ujar Tomy selaku advokat dari AJI Yogyakarta.

Sembari menatap kami sewaktu berbicang, Tomy bercerita bahwa kasus-kasus yang disuarakan tidak kunjung selesai karena ada oknum-oknum yang menghambat. Tuntutan yang diberikan seolah belum mendapat jawaban pasti. Pihak polisi dinilai tak memiliki keseriusan dalam menuntaskan kasus-kasus yang telah terjadi. Aksi yang dilakukan sudah cukup rutin dilakukan setiap tanggal 16, tapi tetap saja sampai saat aksi ke 37 ini pun belum ada respon berarti dari pihak terkait.  Obrolan kami terus berlanjut, sesekali kami melemaskan kaki karena pegal perlahan datang. “Sebenarnya tidak dapat seenaknya sendiri melakukan pemidanaan terhadap sebuah tulisan,” lanjut Tomy seraya menatap kami dengan wajah serius. Tomy berharap bahwa ada kejelasan dalam penuntasan kasus-kasus ketidakadilan yang ada di negara ini. Seperti kasus wartawan Udin yang sudah 21 tahun tidak kunjung usai. “Kasihan keluarga yang menantikan keadilan dari kasus tersebut,” tambahnya.

Aksi dan bincang-bincang kala itu diakhiri dengan sharing antar Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari beberapa Universitas di Yogyakarta. Kami juga berharap bahwa aksi pada hari itu akan segera mendapatkan respon yang positif dari pemerintah. Sudah terlalu lama keadilan ditutupi oleh kepentingan pribadi para petinggi di negera ini. Orang bijak pernah berkata, “Dalam hidup kita hanya satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”. Siang itu kami mendapatkan sebuah pengalaman tak terlupakan, mengenai sebuah perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan yang diberikan untuk negeri kita tercinta.

 

penulis : Novita Anggarwati
ediotor : Fika Rosario Labobar

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *