Memanusiakan Manusia NTT dengan Kincir dan Hidran

Selasa, 29 Agustus 2017 saya bersama rekan saya melangkahkan kaki ke kantor Dekanat Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Kampus III Universitas Sanata Dharma. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kepada sekretaris kantor, kami diminta menunggu sebentar di ruang tamu. Tidak berselang lama, seorang pria muncul dari sebuah ruangan membawa segelas teh hangat sembari melempar senyuman kepada kami. Pria itu mempersilahkan kami masuk ke sebuah ruangan bertuliskan ‘WD 2’ (Wakil Dekan 2,-red).

Dwiseno Wihadi atau yang akrab disapa Pak Wid, menyambut kedatangan kami dengan senyuman ramah, tak menunggu lama kami langsung dipersilakan duduk. Dengan bersemangat  beliau mulai  menceritakan  pengalamannya mengunjungi daerah Korbau, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tanggal 2 Agustus 2017 silam. Kedatangannya ke sana bukan untuk berlibur, melainkan uji kelayakan hydrant dan kincir angin. Kedua alat tersebut bermanfaat untuk pengairan dan energi listrik untuk daerah sekitar. “Produk yang kita hasilkan itu hanya menghasilkan listrik yang relatif kecil sekitar 350 watt, tetapi bisa untuk mendukung supplay energi listrik terutama hp dan penerangan,” tutur Wihadi dengan wajah cukup memuaskan.

Dalam menjalankan misinya, Wihadi tidak sendiri. Ia dibantu empat dosen lain. Mereka adalah Budi Setyahandana, Tjendro, Achilleus Hermawan Astyanto, dan Sudi Mungkasi. Beliau juga bercerita bahwa ada salah seorang mahasiswa Teknik Mesin USD angkatan 2013 bernama Ekapoetera Hasan Bahari Wahab yang turut serta dalam program tersebut yang kebetulan juga berasal dari Atambua. Sebelum saya pamit dari ruangannya, beliau meceritakan sedikit tentang rencana kerjasama pembuatan kincir dan hidran dengan bupati Belu kedepannya. ”Jadi kincirnya bukan ngomongin listrik lagi, tapi untuk menaikkan air tanah karena salah satu kesulitan mereka kan masalah air. Kalau listrik sekarang sudah dipenuhi oleh negara karena daerah perbatasan sekarang sudah menjadi perhatian khusus oleh pemerintah.” tuturnya sambil menyeduh segelas teh hangatnya tadi.

penulis : Dionisius Sandytama Oktavian
reporter : Atanasius Magnus A. B.
editor : Irene Lejap

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *