Keluh Kesah Sang Maestro Tari Indonesia

Tayangan televisi kita itu tidak mendidik, tidak ada yang mencerminkan kebudayaan kita,” ungkap sang maestro tari Indonesia.
Reporter natas sedang wawancara dengan Didik Nini Thowok seusai menyampaikan materi di Insadha 2016 Gelombang I. Dok : natasmedia.com/Fileks

Seorang pria memasuki panggung Insadha (Inisiasi Sanata Dharma) yang begitu megah ketika alunan tarian tradisional menyambutnya. Pria ini bernama asli Didik Hadiprayitno atau orang biasa memanggilnya Didik Nini Thowok. Orang mengenalnya melalui tarian tradisonal sehingga dia dijuluki sebagai sang maestro tari tradisional. Dia menjadi pembicara dalam Insadha (1/8/2016) di hadapan ribuan orang-orang muda yang memadati Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. “Pembekalan (Insadha) ini bagus dan harus memilih pembicara yang tepat untuk membagi pengalaman mereka, apalagi mereka calon-calon generasi penerus,” ungkap pria tersebut.

Pria kelahiran Temanggung 62 tahun yang lalu ini menyayangkan generasi muda saat ini yang kurang memperhatikan kebudayaan lokal. Dia menyatakan bahwa kurang diperhatikannya kebudayaan lokal karena arus informasi yang kurang berimbang terutama pada televisi. “Mereka itu hanya kurang informasi karena tayangan telivisi kita tidak mendidik, tidak ada yang mencerminkan kebudayaan kita,” ungkap budayawan tersebut. Dia berpendapat bahwa televisi merupakan akses informasi yang mudah didapat dan mayoritas orang lebih suka melihat yang visual dibanding membaca. “Sekarang banyak film-film dari luar apalagi sinetron-sinetron yang tidak bermutu tetapi dari segi uang mereka untung karena banyak yang mensponsori dan nyatanya itu diminati oleh masyarakat,” keluhnya menanggapi tayangan televisi di Indonesia.
Sebagai seorang budayawan dia mengeluhkan banyaknya jargon-jargon untuk menumbuhkan kecintaan pada kebudayaan sendiri dan semangat nasionalisme, sementara tayangan-tayangan televisi tidak mengarah pada jargon tersebut. “Sekarang gembor-gembornya belajar tentang kearifan lokal tetapi cara mengedukasinya seperti itu,” katanya. Dia juga menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang kurang memperhatikan kebudayaan lokal. “Sebenarnya kebudayaan itu jangan dicampur dengan menteri pendidikan karena saking banyaknya kebudayaan di Indonesia dan porsinya yang berbeda-beda,” ungkapnya.
Beberapa bulan yang lalu Didik Nini Thowok pernah dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena menari dengan busana perempuan. Dia menyayangkan pernyataan KPI yang melarangnya tampil dengan gaya menari tersebut, apalagi dia sudah biasa menari dengan gaya tersebut di 38 negara di dunia. “Lah, di KPI sendiri tidak ada budayawannya jadi mereka tidak tahu kriteria kebudayaan seperti apa kan tidak jelas. Seharusnya KPI harus ada budayawannya,” ungkap sang maestro.
natasmedia.com  
Penulis : Martinus Danang Pratama Wicaksana 
Reportase Bersama : Benediktus Fatubun & Fileksius Gulo
Editor : Judha Jiwangga 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *