Belajar dari Teman-Teman Tuli

“Keterbatasan fisik bukan hambatan untuk berkarya”

Suasana Insadha 2016 Gelombang I di gedung bertaraf Internasional. (Foto : Documenta Insadha)
Salah satu komunitas seni yang beranggotakan orang-orang yang terbatas dalam pendengaran di kota Yogyakarta yaitu Deaf Art Community (DAC), Rabu (03/08) turut meramaikan suasana di dalam auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. DAC yang saat itu menjadi pengisi acara di hari terakhir inisiasi Sanata Dharma gelombang pertama membuat antusias seisi gedung yang kebanyakan adalah mahasiswa baru. Pasalnya, teman-teman dari DAC yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran, melakukan pertunjukkan beat box dan puisi visual yang membuat banyak mata tak berkedip dan seisi auditorium menjadi takjub.
Broto Wijayanto selaku penanggung jawab dari Deef Art Community menceritakan berbagai kisah dari teman-teman DAC dan komunitas DAC kepada para mahasiswa baru. Mulai dari kegiatan yang sering mereka lakukan sampai dengan filosofi kupu-kupu yang sering menjadi ciri khas mereka.
Broto menjelaskan bahwa filosofi kupu-kupu bermula dari kisah seorang anggota DAC yang menanyakan mengenai ulat bulu yang menjijikan. Dengan diwarnai candaan dari Broto saat menjelaskan, sering terdengar tawa lepas dari para mahasiswa baru. Broto kemudian menjelaskan kepada si anak yang bertanya mengenai ulat bulu yang menjijikan itu suatu saat nanti akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Satu hal yang membuat Broto terkejut ketika si anak mengatakan bahwa ia mau menjadi ulat bulu yang kelak berubah menjadi kupu-kupu. Dari yang tadinya dianggap menjijikan dan dipandang sebelah mata menjadi orang yang dapat menginspirasi dan memotivasi banyak orang.
Broto juga selalu menggunakan kata “tuli” sebagai kata ganti “tuna rungu” saat diskusi dan sesi tanya jawab berlangsung. Saat ditanya alasannya, Broto menjawab bahwa hal itu permintaan dari teman-teman tuli. “Mereka ingin disebut tuli karena mereka paham bahwa kata “tuna” itu berarti ada sesuatu yang rusak, ada sesuatu yang kurang. Bagi mereka itu tidak tepat. Mereka menganggap bahwa mereka memang ditakdirkan sebagai tuli, tidak ada yang rusak dalam diriku karena aku memang dilahirkan sempurnaku seperti itu. Jadi mereka disebut tuli saja tidak apa-apa. Aku tuli, itu memang identitasku, tidak ada yang rusak dari diriku. Aku tuli,” sambung Broto.
Broto juga mengatakan bahwa satu tujuan utama teman-teman DAC saat tampil, baik dihadapan para mahasiswa baru atau di hadapan siapa pun ialah untuk merusak batas komunikasi. “Jadi komunikasi dapat bisa terjadi, apakah itu dilakukan dengan tuli atau atau tidak tuli. Harapannya setelah itu bisa memotivasi siapa pun yang melihat pertunjukkan kami, bahwa keterbatasan bukan halangan untuk bisa meraih sesuatu.” Tegas Broto Wijayanto.
 “Teman-teman DAC sangat menginspirasi. Mereka lebih bisa mengekspresikan diri mereka dibanding teman-teman lain yang pendengarannya normal,” kata Wimba Amindito, salah satu panitia insadha dari divisi pendamping kelompok.

reporter : Konsita Belarosa Resy Naen
editor : Judha Jiwangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *