Inspirasi Membaca Dari Perpustakaan Becak

Kemilau emas sang surya mulai tampak di ufuk barat saat seorang kakek mengayuh becak birunya menembus kepadatan lalu lintas di Jalan Diponegoro, Yogyakarta, Jumat, 4 Agustus 2017 lalu. Saat akan melewati Pasar Kranggan, seorang pria menghentikan laju becak itu. Setelah berhenti, pria itu memilih beberapa buku yang ada di dalam becak. Pemandangan itu menarik perhatian saya, yang kemudian memutuskan memarkirkan sepeda motor untuk bergabung dengan mereka.

“Silahkan mas, mau cari buku apa?” tanya kakek yang bernama lengkap Franciscus Xaverius Sutopo itu kepada saya. Ada banyak pilihan buku yang tersedia, seperti cerita pendek anak, kumpulan novel karya Putu Wijaya, sains dan teknologi, otomotif, hingga majalah berbahasa Jawa Jaka Lodhang. Buku-buku itu ditata rapi dalam rak yang dibuat dua tingkat. Di depan dan belakang becak tertera tulisan “Ayo Membaca.”

Berawal dari Orangtua Siswa

Pak Sutopo sedang menikmati waktu sambil membaca. Foto : dion/natas

Semenjak pensiun berdinas di Kodim 0734/Yogyakarta pada 2004, Sutopo memutuskan menjadi pengayuh becak. “Saya biasanya mangkal di Jalan Bumijo, dekat SD Tarakanita,” cerita kakek 70 tahun itu. Sembari menunggu penumpang, ia membawa beberapa buku bacaan dan majalah. “Daripada menunggu penumpang cuma ngalamun, mending menambah ilmu dan informasi,” tutur kakek 3 anak dan 4 cucu ini.

Kebiasaannya membaca itulah yang menjadi perhatian salah seorang orangtua siswa SD Tarakanita pada tahun 2012. Dia lalu menyarankan Sutopo untuk membuat perpustakaan becak keliling. Gayungpun bersambut, orangtua siswa tadi memberinya beberapa buku untuk mengisi perpustakaan. Respon yang diterimanya pun menggembirakan. “Semakin hari, makin banyak yang mengunjungi becak saya. Ada yang sekedar melihat-lihat, meminjam, hingga memberi sumbangan buku. Kalau ditotal, bisa mencapai 30 orang,” kisahnya. Orang-orang yang datang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua siswa, PNS, sopir taksi, mahasiswa, hingga tukang tambal ban.

          Untuk peminjaman buku, Sutopo tidak menarik biaya sepeser pun. “Kalau ada yang mau membawa pulang dan tidak mengembalikan lagi, tidak masalah. Lagipula setiap hari selalu ada yang menyumbang buku,” ujarnya. Namun rata-rata setiap orang yang meminjam, akan mengembalikannya dan meminjam lagi. “Ya hitung-hitung menambah saudara sekaligus bisa berdiskusi tentang berbagai hal,” imbuh kakek kelahiran 7 Juni 1947 ini.

Keprihatin Sutopo

          Lebih lanjut, melalui perpustakaan becak kelilingnya, Sutopo ingin menyebarkan virus membaca kepada semua orang. Ia sendiri prihatin dengan minat membaca yang semakin rendah. “Sejak maraknya peredaran gawai, buku seolah semakin terpinggirkan. Menurut saya, secanggih-canggihnya gawai, buku tetap tidak bisa tergantikan,” tutur kakek yang sempat mengenyam pendidikan di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) ini.

Harga buku yang masih mahal juga semakin mendorongnya untuk menggiatkan perpustakaan kelilingnya. “Membaca buku itu hak semua orang. Namun harga buku masih mahal sehingga tidak terjangkau semua kalangan. Mungkin itu juga yang menjadi faktor rendahnya minat membaca,” tutur kakek berkacamata ini. Melalui perpustakaan becak kelilingnya, ia berharap semua kalangan bisa menjamah buku tanpa harus memikirkan biaya. “Buktinya, tukang penambal ban saja sampai ada yang betah berjam-jam membaca di sini,” ujarnya bersemangat.

Mengikuti Berbagai Perlombaan

          Becak yang ia sulap menjadi perpustakaan tersebut mengantarkannya meraih penghargaan dalam lomba desain becak yang diadakan Dinas Perhubungan DIY, Juni 2017 lalu. Dari 16 nominator, hanya ia satu-satunya tukang becak. “Oleh karena itu, saya mendapat penghargaan khusus sebagai tukang becak yang berpartisipasi dalam lomba tersebut,” cerita kakek yang bermukim di daerah Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta ini. Tanggal 20 Agustus 2017 nanti, ia juga diminta mengikuti lomba yang diadakan Perpustakaan Kota Yogyakarta untuk menggiatkan semangat membaca dan berliterasi untuk masyarakat.

Bagi yang ingin meminjam dan membaca buku koleksi perpustakaan becak keliling Sutopo, bisa langsung ke Jalan Bumijo (depan Bank BPD DIY atau seputaran SD Tarakanita) dari jam 6 pagi hingga 5 sore. “Saya terbuka kepada siapa pun,” ujarnya menutup perjumpaan singkat kami.

 

Penulis dan Reporter: Dionisius Sandytama Oktavian

Editor: Konsita Belarosa

 

sumber gambar sampul : goo.gl/dLH6Xp (aset Tribunnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *