Pembelajaran Anti Korupsi Dari Sang Bupati

Saat ini, banyak kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi. Menurut catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dari tahun 2011 hingga 2015, mereka menangani lima puluh enam kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Tidak lain, karena berbagai kasus tersebut dan kepercayaan publik terhadap pemimpin daerahnya berada pada titik nadir. Tapi ternyata, tidak semua pemimpin daerah mempunyai sikap yang serupa. Bupati Batang, Jawa Tengah, Yoyok Riyo Sudibyo bisa dijadikan contoh.
sumber : dokumentasi insadha

            Berlatar belakang militer, ia mengaku tidak memiliki kemampuan birokrat yang cukup baik. “Untuk mengatasinya, saya menjabat sambil belajar,” tutur pria 44 tahuntersebut.Namun, ia memiliki prihatin terhadap tindak pidana korupsi di kabupaten yang dipimpinnya. Ia menggandeng Indonesia Corruption Watch (ICW), agar tata kelola keuangan di Batang lebih transparandan minim korupsi.

            Selain itu, dia menyampaikan bahwa,membangunpemerintahan yang bersih, transparan, dan minim korupsi, dapat dimulai dari diri sendiri. “Untuk orang seperti saya, semua pasti disorot. Istri saya belanja dimana, belanja apa, dan lain sebagainya. Tapi selama transparan, tidak jadi masalah. Bukti pembayaran semua ada, bisa dipisahkan antara kebutuhan pribadi dan dinas, “tuturnya setelah menjadi pembicara dalam Inisiasi Sanata Dharma (Insadha), Selasa (9/8). “Saya juga meminimalkan pengadaan barang-barang yang tak perlu. Rumah dinas saya tak ada barang baru, kecuali kemarin TV terpaksa saya ganti, karena yang lama rusak dan tidak bisa diperbaiki. Saya juga tak memakai mobil dinas, walaupun sebenarnya ditawari mobil baru,“ tambahnya.
            Ketika mulai memimpin Batang pada 2012, kondisi kabupaten itu tidak begitu bagus. Bupati terdahulu tersangkut kasus korupsi yang membuat pemerintah kabupaten kehilangan kepercayaan publik. Untuk mengembalikan kepercayaan tersebut, dia mengaku tidak melakukan hal yang berlebihan, apalagi pencitraan. “Yang penting terus bekerja saja. Buat terobosan-terobosan baru, belajar dari orang-orang yang lebih berhasil, dan dekatkan diri dengan masyarakat. Saat pertama kali menjabat, saya berikrar, rumah dinas saya menjadi rumah rakyat, saya buka dua puluh empat jam bagi siapa saja yang ingin memberi masukan, saran, maupun kritik, “ujarnya seraya menjawab pertanyaan dari salah satu mahasiswa baru.

            Berbagai terobosan yang dilakukan dan gaya kepemimpinannya yang terkenal bersih dan transparan, membuatnya mendapat penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015 bersama Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Bahkan, kabupaten yang dipimpinnya menjadi daerah dengan urutan terendah dalam penyimpangan anggaran pada Provinsi Jawa Tengah, versi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) pada tahun 2013 yang lalu.

Reportr : Dionisius Sandyama dan Seftyana Trisia P
Penulis : Dionisis Sandytama

Editor : Ludgeryus Angger Prapaska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *