Kaum Muda Memandang Fenomena Radikalisme

“Fenomena radikalisme agama tidak memandang usia, kaum muda perlu memahami radikalisme dalam kehidupan sosial”
Dok. natasmedia.com/Martin
Kaum muda Universitas Sanata Dharma berbondong-bondong memasuki ruang diskusi. Diskusi ini bertemakan Radikalisme, Fundamentalis, dan Kaum Muda yang diadakan oleh Cana Community sebuah komunitas di Gereja Kampus Santo Robertus Bellarminus (17/8). “Melihat fenomena-fenomena radikalisme agama saat ini penting agar kaum muda mengetahuinya lebih lanjut,” tutur Elisabeth Ines selaku penyelengara.
Albertus Bagus Laksana, SJ sebagai pemateri menjelaskan bahwa radikalisme saat ini muncul karena pengaruh kurikulum pendidikan, sehingga mereka tidak ditekankan untuk terbuka dan menghormati orang lain. Akibatnya lembaga pendidikan di Yogyakarta terpisah antara sekolah Katolik dengan sekolah negeri atau Islam. “Sejak kecil anak sudah tahu agamanya apa dan memilih sekolah sesuai dengan agamanya,” contoh Bagus.
Bagus melihat fenomena radikalisme agama di Yogyakarta sendiri tidak pernah lepas dari pengaruh organisasi masyarakat (ormas). Mereka menjadi permasalahan karena tidak mau mengikuti aturan hukum di mana mereka hidup, sehingga mereka menyalahgunakan kebebasan. Akibatnya mereka menggantikan peranan aparat negara dalam mengamankan secara anarkis.
“Ormas itu didukung oleh aparat mereka kadang-kadang tidak hadir karena mereka sendiri juga mendukung,” cetus Bagus. Dia berpendapat bahwa pemerintah harus ambil bagian dalam menegakkan keamanan, sehingga pemerintah harus bersikap netral dalam membela masyarakat. Mereka memiliki hak yang sama dihadapan hukum untuk dibela.
Pastur yang sekaligus sebagai dosen teologi di Universitas Sanata Dharma ini berpendapat dalam mencegah radikalisme di Yogyakarta harus ada pendekatan budaya. Masyakarat harus membangun basis-basis kebudayaan untuk mengikis sikap radikalisme, sehingga kebudayaan sebaiknya berintegrasi dengan agama.
“Pandangan yang masih berintegrasi dengan kultur lokal itu yang menganggap Tuhan, alam semesta, dan sesama itu berinteraksi yaitu kita melindungi bumi, melindungi masyakarat manusia, melindungi agama dari penyempitan-penyempitan radikalisme,” pesan Bagus.
natasmedia.com
Penulis : Martinus Danang Pratama Wicaksana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *