Martono: WTT Masih Ada

Minggu (18/09/16), masyarakat Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, begitu bersemangat untuk mempersiapkan peralatan-peralatan yang akan diperlukan dalam pawai. Pawai tersebut dilakukan oleh masyarakat yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT), merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka memperingati berdirinya WTT yang genap berumur empat tahun. Arah pergerakan WTT sendiri adalah menolak pembangunan bandara di Kulon Progo, yang direncanakan oleh pemerintah sejak 2011 silam. Pawai yang dilakukan kurang lebih dari satu jam tersebut, dilanjutkan dengan penampilan para ibu-ibu WTT yang menyanyikan beberapa buah lagu di atas panggung.
Martono selaku koordinator WTT sedang memberikan kata sambutan, yang dikawal dengan dua pria berbadan gempal dalam ultah WTT ke-4. (Dok. natasmedia.com/Benfa
Saat ditemui natas pada sela-sela acara, Martono selaku koordinator WTT menuturkan bahwa, setiap tahun WTT mengadakan kegiatan ulang tahun. Tujuannya untuk merenungi apa yang sudah terjadi, dan menyongsong langkah ke depan. “Tujuan lainnya lagi, untuk melakukan konsolidasi dengan teman-teman aliansi, serta ingin menunjukan  kepada orang lain, khususnya pemerintah bahwa WTT masih ada,” sambungnya.
Martono menambahkan bahwa, acara tersebut dihadiri oleh teman-teman aliansi dari Watu Kodok, PPLP, LBH Yogyakarta, Komnas HAM, WALHI, dan beberapa aliansi lainnya. Kehadiran teman-teman aliansi tersebut, membuat suasana di sekitar panggung itu semakin ramai. ”Teman-teman aliansi dari Watu kodok, PPLP, LBH Yogyakarta, Komnas HAM, Walhi,  yang lainnya kurang hafal” ucapnya dengan santai.
Di sisi lain, pada jalan raya tampak beberapa anggota kepolisian, militer dan beberapa intel sedang mengawasi jalannya acara tersebut. Pada saat yang bersamaan, anak-anak WTT naik di atas panggung dengan bendera merah putih terikat di kepala, serta dibawa pula beberapa bendera merah putih ditangan mereka. Musikalisasi puisi pun dimulai dengan menyanyikan lagu “Darah Juang” karya John Tobing, oleh anak-anak tersebut. Kemudian disusul oleh pembacaan puisi oleh salah satu wanita yang mendampingi anak-anak. Setelah itu, penampilan mereka ditutup dengan tepuk tangan yang meriah.
“Bapak Ibu wajib berbangga, karena mampu konsisten dalam menolak bandara,” ucap salah seorang LBH Jogja ketika memberikan kata sambutan dalam acara tersebut.   
 
Penulis dan Reporter : Benediktus Fatubun

Editor: Ludgeryus Angger Prapaska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *