“Bank Pasar Rakyat”: Suatu Tafsir Karya Ilmiah Kekinian

Pada Jumat malam (23/09) Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta menjelma menjadi pasar. Puluhan orang duduk di sekitar panggung. Berlangsung diskusi antara rentenir dan para pedagang pasar dengan Pak Lurah.
Adegan tersebut adalah cuplikan pentas teater berjudul “Bank Pasar Rakyat”. Para penonton diundang duduk di sekitar panggung bersama dengan para aktor untuk menghidupkan suasana pasar yang ramai.
Pentas yang disutradarai oleh Irfanuddien Ghozali ini mengangkat persoalan rentenir di kehidupan pasar. Pemerintah daerah hendak menghentikan kegiatan rentenir karena dianggap sebagai bisnis gelap. Namun, para pedagang bergantung pada rentenir yang bisa meminjamkan modal dalam jumlah kecil dan bisa dicicil beberapa kali.
 Naskah pementasan ini dikembangkan dari sebuah disertasi berjudul “Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa” oleh Heru Nugroho yang mempelajari kasus di Pasar Bantul di era 1990-an. 

Pak Lurah bertukar dialog dengan pedagang pasar dalam pentas “Bank Pasar Rakyat” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (23/09) [dok. natas/Istu]

Walau studi karya ilmiah tersebut dilakukan dua dekade lalu, persoalan seputar rentenir masih menjadi perbincangan yang relevan hingga kini. Pada bulan Mei, pemerintah gencar mengajak pedagang untuk tidak meminjam pada rentenir dengan bunga tinggi. Pedagang dianjurkan untuk memakai fasilitas pinjaman modal berbunga rendah dalam program Kredit Usaha Rakyat atau beralih ke bank pemerintah.
“Pekerjaan apa saja (boleh–red.) asalkan halal, dan kehalalan itu kembali lagi dengan dasar apa yang kita pegang,” tutur salah satu penonton, Charles Advendi dari Universitas Sanata Dharma.
Pelaku peran pementasan ini berasal dari Forum Aktor Yogyakarta (FAY) yang beranggotakan aktor dengan berbagai latar belakang. Selain FAY, Paguyuban Pedagang Pasar Kota Yogyakarta (PPPKY) yang memiliki komunitas seni bagi para pedagang pasar untuk berekspresi, turut bermain sebagai aktor.
 “Bank Pasar Rakyat” merupakan salah satu pentas yang tampil di rangkaian Festival Teater Yogyakarta 2016 yang berlangsung sejak tanggal 22 hingga 24 September. Pentas ini juga ditampilkan di Pendopo Pasar Beringharjo Timur pada Rabu siang (21/09).
Reporter dan penulis : Istu Septania
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *