Lebih Siap Atasi Pelanggaran KBB


         Kaliurang, natasmedia.com – Meningkatnya pelanggaran hak atas Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) di Yogyakarta sejak tahun 2013 silam, mendorong Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mengadakan pelatihan advokasi bagi korban KBB. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 22 September hingga 24 September 2016 di Villa Taman Eden, Kaliurang, Sleman. “Melalui kegiatan ini, kami berharap korban KBB dapat melakukan praktik pencegahan, penanganan, dan advokasi,” tutur Hamzal Wahyudin, Direktur LBH Yogyakarta.
            Dalam kegiatan ini, LBH mengundang lima belas lembaga, antara lain: Umat Katolik  Gunungkidul, Gereja Bethel Indonesia (GBI), Saman Bantul, Pondok Pesantren Al-Fatah Kotagede, dan lain-lain. Setiap lembaga mengirimkan dua orang perwakilan. Materi yang disampaikan dalam pelatihan kali ini, terdiri dari: pembuatan kronologi dan analisa kasus, strategi menghadapi aparat kepolisian, merancang sistem keamanan, dan mekanisme kebaratan eksternal.
Ada salah satu materi yang membuat seisi ruangan tertawa, yaitu materi “Strategi Menghadapi Aparat Kepolisian”. Emmanuel Gobay selaku pemateri, membagi peserta menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok memerankan polisi, organisasi masyarakat (Ormas), dan korban KBB. Mereka diminta bermain drama seolah terjadi penggerebakan Ormas terhadap pondok pesanten waria. Peserta secara spontan mampu memperagakan dengan gerakan ataupun melalui kata-kata.

Lokasi acara pelatihan advokasi korban pelanggaran KBB di
Villa Taman Eden, Kaliurang,Yogyakarta (24/9/2016). Dok. natasmedia.com/Dion

            Menurut pengalaman selama ini, peristiwa pelanggaran KBB sering terlambat terekspos media, sehingga cepat menyebar isu-isu yang tidak benar. Hal itu yang dapat membuat situasi di masyarakat tidak kondusif. “Maka dari itu, saudara tidak perlu takut berjejaring dengan wartawan,” tutur Bambang Muryanto, salah seorang pembicara yang juga wartawan senior The Jakarta Post. “Dengan begitu, jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kami cepat tahu sehingga bisa menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi,“ imbuhnya.           
Pada sesi terakhir Anastasya Kiki selaku fasilitator acara, membagi peserta menjadi dua kelompok untuk melakukan praktik rancangan strategi advokasi. Setiap kelompok diberi dua contoh kasus yang berbeda untuk melakukan langkah strategi advokasi. Langkah strategi advokasi di sini dapat berdasarkan litigasi, dengan advokasi melalui jalur peradilan ataupun non-litigasi yang tidak melalui jalur peradilan.
Penulis: Dionisius Sandytama

Reporter: SeftyanaTrisia P. dan Dionisius Sandytama

Editor: Ludgeryus Angger Prapaska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *