Mengubah Penderitaan Menjadi Seni


“Viva viva viva Ganefo Ganefo, bravo bravo bravo Ganefo Ganefo,viva viva viva Ganefo Ganefo, bravo bravo bravo viva Ganefo,” sepenggal lirik dari lagu Viva Ganefo yang dinyanyikan oleh sekelompok ibu-ibu lansia Dialita di bawah naungan pohon beringin yang ditanam oleh Ir. Soekarno.
Awal bulan Oktober tepatnya tanggal 1 Oktober selalu diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila. Sebuah hari yang mengubah wajah sejarah Indonesia dan dimulainya peristiwa tragedi kemanusiaan di bumi pertiwi. Tragedi yang tidak pernah dilupakan oleh generasi pasca Orde Lama yang sudah memasuki usia 51 tahun yang lalu. Konser peluncuran album Dialita berlangsung pada Sabtu (1/10) di Taman Beringin Soekarno Universitas Sanata Dharma.
Sekelompok ibu-ibu lansia (lanjut usia) memberikan sumbangan suaranya untuk memperingati hari kesaktian Pancasila tersebut. Kelompok ini mereka namanya Dialita yang merupakan singakatan dari Dunia Milik Kita. Ibu-ibu yang bersuara merdu ini merupakan para korban dari peristiwa 1965. Dahulu mereka disekap dalam sebuah bilik kecil dengan jeruji besi yang mengelilinginya di Plantungan Jawa Tengah. Namun saat ini mereka dengan senyum yang merekah dan kemerduan suara berani tampil menyuarakan hati mereka di bawah pohon beringin yang konon ditanam oleh sang penyambung lidah rakyat.
Peluncuran album Dialita ini disponsori langsung oleh Kedai Kebun Forum dan Pusdema (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Universitas Sanata Dharma). Melalui peluncuran album ini mereka ingin mengajak agar bangsa Indonesia tidak akan pernah lupa dengan peristiwa 1965. Ajakan tersebut tergambarkan dalam lagu-lagu perjuangan dan revolusi yang dimainkan dalam konser tersebut seperti Ujian, Salam Harapan, Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu, Padi Untuk India, Taman Bunga Plantungan, Viva Ganefo, Lagu Untuk Anakku, Kupandang Langit, Dunia Milik Kita, dan Asia Afrika Bersatu. Lagu-lagu ini mereka ciptakan ketika berada di balik jeruji besi dan dilarang ketika Orde Baru masih menguasai. Mereka juga mengajak musisi-musisi muda tergabung dalam peluncuran album ini, harapannya generasi muda dapat belajar dari penderitaan ibu-ibu Dialita dengan mengubahnya menjadi kesenian.
“Pesan pokok yang klasik itu jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah karena sejarah itu guru kita, maka kita perlu belajar dari situ. Yang kedua supaya anak-anak muda belajar dari ibu-ibu ini yaitu bagaimana mengubah energi yang kita punya baik suka maupun duka untuk kepentingan bersama bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri,” pesan dari Baskara Tulus Wardaya, SJ.
Reporter dan penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *