Menanam Seni Menuai Kebersamaan

Pameran senirupa Nandur Srawung yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta mengusung tema karya anak bangsa  dan melibatkan seniman-seniman Yogyakarta.

Salah satu karya Kartika Affandi, 
yang beraliran ekspresif. (Dok: Dyas Putri)


 Salah satu karya Totem yang terpajang
 di depan pintu
 masuk pameran. (Dok: Dyas Putri)

          Suharyatno atau yang sering disebut Yamik berpikir kritis tentang pameran senirupa yang belakangan ini diselenggarakan tanpa adanya kesan kesenian. Beliau merupakan penggagas komunitas Jempol sekaligus ketua panitia pameran senirupa “Nandur Srawung” yang berlangsung dari tanggal 16-23 Oktober 2016 di Taman Budaya Yogyakarta. Acara tersebut melibatkan 580 seniman senirupa, menghadirkan 105 karya yang terpajang di dalam ruang pameran, dan 40 karya totem yang dipajang di halaman Taman Budaya Yogyakarta.

          
      Acara tahunan yang telah diselenggarakan selama tiga tahun tersebut mengusung tema “Karya Anak Bangsa”. Pameran ini melibatkan kreativitas anak bangsa, bahkan melibatkan mereka yang mempunyai kekurangan fisik sehingga menjadi wadah baru bagi anak-anak bangsa untuk menghasilkan suatu karya seni. Lebih dari sembilan puluh pendaftar yang ingin mengikuti pameran ini, namun yang terpilih hanyalah empat puluh karya yang dapat mengikuti pameran tersebut. Disamping karya anak bangsa, pameran tersebut juga mengundang karya-karya seniman yang telah sepuh contohnya Kartika Affandi, Soenarto PR, dan Broto (pelukis si manis jembatan ancol).

              Pameran senirupa inipun menjadi pameran yang penuh dengan rupa-rupa seni. Karya seni yang terpajangpun berusia lima tahun hingga delapan puluh tahun keatas. Dalam pameran tersebut membuktikan bahwa siapa saja dapat menghasilkan karya, tidak terbatas usia bahkan kedaan fisik ataupun mental seseoran

Salah satu karya Soernano PR, yang beraliran realis. 
(Dok: Dyas Putri)

                Pameran senirupa ini menggunakan judul “Nandur Srawung” karena lebih mengutampatnya berbagai seni berkumpul sehingga bisa bersrawungmakan rasa persaudaraannya. “Yang penting kita ini srawungnya. Maka itu kita beri nama nandur srawung, karena kita lebih menanamkan rasa persaudaraannya”, tegas Yamik. Beliau juga mengatakan bahwa nandur srawung ini te

Reporter dan penulis : Diaz Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *