Selendang Sutera, Refleksi Pemuda Saat Ini

“Jangan jadi penyakit dan tidak tahu berterima kasih
Bangun! Dan bangun negeri ini” sepenggal lirik dari lagu yang dinyanyikan dalam acara Selendang Sutera “Untuk Sumpah Yang Diucapkan”.
 

Pementasan Tarian Kreasi dari Daerah Aceh (Dok: Yosafat Made)

Kongres Pemuda kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda yang menegaskan cita-cita adanya “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda dan dimaknai sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme.

Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Yogyakarta (IKPM) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY kembali menyelenggarakan acara tahunan mereka untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara yang bertajuk Selendang Sutera ini diselenggarakan pada tanggal 22-26 Oktober 2016 bertempat di Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta.

Kemeriahan acara Selendang Sutera (Dok : Yosafat Made)

“Selendang Sutera atau Semarak Legenda Suku Nusantara ini bertujuan untuk merepresentasikan keberagaman dan keunikan dari masing-masing daerah dan provinsi di Indonesia,” kata Syahwandi Yusuf selaku wakil ketua dari acara ini.
Tema “Untuk Sumpah Yang Diucapkan” merupakan refleksi dari sumpah pemuda yang sudah diikrarkan pada masa itu. “Melalui tema ini kami ingin merefleksikan peran pemuda-pemudi saat ini. Jangan hanya mengejar ijazah dan gelar tapi harus ada kesadaran bahwa kita adalah penerus bangsa,” ujar Syahwandi sebagai salah satu Delegasi Kalimantan Barat. “Kami menyadari bahwa kebudayaan Indonesia ini mulai tergerus dan kami ingin mengangkat kebudayaan itu ke panggung dan dikemas secara modern”. Syahwandi menambahkan bahwa acara ini juga mengajak para hadirin untuk memahami dan merefleksikan kembali nilai-nilai dan semangat juang dari Sumpah Pemuda.

Penulis : Christin Ayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *