Dunia Utopis yang Tutu Club Tawarkan

   Baru lahir tahun 2011 lalu, Tutu Club masih menjadi satu-satunya unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang tari ballet di Yogyakarta. Inilah tempat bagi mereka yang ingin menciptakan dunia utopis a la Barbie.
aksi penari balet pada Insada Januari 2016 #1 (foto : Dokumentasi Insadha 2016)



Ely Kurniawati selalu ingin belajar menari. Mengambil ekstrakulikuler tari waktu SMP dan menjadi cheerleadersaat SMA, ia masih ingin mencoba menari balletsuatu hari nanti, entah bagaimana caranya.
Pada tahun 2014, dia masuk Universitas Sanata Dharma dan mengambil program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Karena kehabisan kuota, Ely tidak bisa mengikuti Inisiasi Sanata Dharma bersama teman-teman seangakatannya dan melewatkan informasi yang diberikan dari Insadha. Namun, lewat buku Insadha milik temannya, dia mencari tahu apa saja kegiatan kampus.
Dari situlah dia menemukan jalan untuk berkenalan dengan dunia ballet, yakni lewat Unit Kegiatan Mahasiswa Tutu Club. Tanpa mengajak teman yang dikenalnya, Ely mendaftarkan diri ke Tutu Club.
***
Tutu, sebutan untuk rok mengembang yang dikenakan penari balerina, merupakan singkatan dari “To Universe That Utopia”. Ini menjadi tempat untuk berkreasi bak di negeri dongeng. Pada mulanya, Tutu Club adalah sebuah komunitas balletyang dipelopori oleh Jane Subagio dari program studi Sastra Inggris dan beberapa temannya pada tahun 2011. Karena banyak mahasiswa yang berminat, Tutu Club diusahakan berdiri sebagai UKM. Dan akhirnya terwujud pada tahun 2013.

Tutu Club berlatih di Aula Kampus I. Dok : Tutu Club


Pagelaran perdana Tutu Club diselenggarakan pada tahun 2014 berjudul “Red Curse Living Dream”. Pagelaran ini mengusung cerita tentang putri tidur dengan akhir cerita yang telah diubah. Pada tahun 2015, mereka tidak mengadakan pagelaran, melainkan workshop kosmetik yang bekerja sama dengan Sari Ayu.
Pagelaran dan workshop merupakan kegiatan tahunan besar yang diadakan secara berselang-seling. “Kalau misalnya tahun ganjil itu [kami] mengadakan workshopmake-up,” jelas Hanna Suliatun, dari Sastra Inggris angkatan 2013. “Trus kalau tahun genap [kami] baru mengadakan pagelaran.”
Untuk tahun 2016 ini, Tutu Club menggelar pagelaran kedua yang berjudul “Pocahontas”, yakni tentang seorang wanita Indian dari suku Powhatan yang jatuh cinta dengan seorang pria dari Inggris bernama John Smith. Pagelaran yang diadakan pada tanggal 26 November kemarin di Auditorium Driyarkara, USD, adalah adaptasi dari film “The New World” tahun 2005. Pelatih Tutu Club, yakni Ginna Nafsyih, merancang koreografi untuk pagelaran ini.
Banyak yang harus dipersiapkan. Pertama, tema. Kemudian, menyiapkan orang-orangnya, pembentukan panitia serta audisi. Setelah itu membuat rel cerita. Nanti, seiring berjalannya waktu, musik dan koreografi akan ditemukan. Lalu masuk ke latihan run-through, yakni latihan penuh dari awal hingga akhir cerita.
Tutu Club membutuhkan tempat yang besar. Latihan untuk pagelaran ini dilaksanakan di Ruang Drost, Paingan, dan di aula Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Kotabaru, untuk latihan run-through. Banyak tarian rampak, atau tarian bersama-sama, agar panggung terlihat ramai. “Karena butuh banyak orang jadi [kami] juga mengadakan kerja sama [dengan UKM] Inkai,” jelas Hanna.
Pagelaran “Pocahontas” merupakan buah hasil perkembangan Tutu Club dari tahun ke tahun sebagai tempat berkreasi dan belajar. Dulu Tutu Club lebih terpaku pada teknik. “Tapi yang sekarang kita lebih kayak gimana sih nerapin teknik itu ke pola-pola tarian kita. Berkreasi dengan gerakan ballet-balletitu,” ujar Dea Marietta, salah seorang anggota Tutu Club dari Sastra Inggris angkatan 2013.
Setelah mempelajari teknik, Tutu Club mengeksplorasi ballet kreasi dan kontemporer. Pelatih menciptakan koreografi dan anggota Tutu Club menarikannya. “Cuma tidak menutup kemungkinan ketika kita (penari-red.) nggak nyaman, gerakannya akan diganti,” kata Hanna.
Untuk kostum, biasanya Tutu Club membuat konsep dan kemudian dimasukkan ke penjahit. Namun, ada juga kostum yang langsung dibeli jadi. Beberapa kostum kalau dijahit “malah jatuhnya lebih mahal,” dan terkadang tidak sesuai harapan.
Dari segi administrasi kini Tutu Club juga lebih terstruktur dan rapi. “Kalau dulu kan masih meraba-raba kayak, ‘Aduh, ini, belum ini,’” tambah Hanna. Sebelumnya segala urusan cenderung dipegang oleh ketua. Sejak ada perombakan, muncullah pembagian tugas dengan lahirnya beberapa divisi.
***
Ely, yang saat ini berada di tahun keduanya di Tutu Club, menjabat sebagai ketua. Sebagai sebuah organisasi, Tutu Club tidak hanya menjadi tempat belajar menari. Selain menyalurkan minat dan sisi seni serta kreativitasnya, Ely sekaligus belajar tentang kepemimpinan. “Saya ingin menunjukkan progress-progress di awal saya masuk Tutu hingga awal saya menjadi ketua,” ujar Ely.
Salah satu yang harus dilakukannya adalah mengoordinasi anggota yang jumlahnya tidak banyak — semua anggota Tutu Club adalah perempuan dan yang berpartisipasi menari di pagelaran “Pocahontas” berjumlah 23 orang — agar tetap bisa berproses dan berkarya di Tutu Club. Dia pun harus berusaha membaur, membuat semua anggota, dari kelas ekonomi dan tingkat grade yang berbeda, tetap kompak dengan tujuan “menjaga biar stabil”.
 “Jadi ketika saya keluar dari Sanata Dharma, saya sudah mempunyai kemampuan [untuk memimpin],” lanjut Ely. “Sehingga nanti, ketika saya harus memimpin orang yang lebih banyak, saya lebih tahu lagi saya harus berkepemimpinan yang seperti apa.”
Tutu Club hingga kini tetap menjadi satu-satunya UKM tari ballet di Yogyakarta. “Ngerasa beruntung sih,” ujar Dea. “Suatu ide baru aja mempelajari ballet. Apalagi buat beberapa orang jadi hal yang baru belum pernah ada. Jadi kayak ngerasa beruntung bisa jadi UKM.” Menjadi UKM berarti kegiatan-kegiatan Tutu Club difasilitasi oleh kampus. Dari pendanaan hingga tempat untuk berlatih dan tampil pagelaran.
Ely merasa senang bergabung dengan Tutu Club karena Tutu Club berbeda dari yang lain. Namun, dia juga mendapat tanggung jawab dari nama ‘ballet’ yang disandang Tutu Club. “Pemikiran orang, yang namanya UKM ballet [itu] tinggi,” tuturnya. Di satu sisi, mereka masih belajar dan di sisi lain “juga dituntut… harus bagus, profesional, dan sesuai dengan imageorang-orang kalau ballet itu wow”.
Tutu Club memang terbuka bagi semua mahasiswa USD yang ingin belajar tari ballet, bahkan bagi mereka yang belum pernah belajar tari. Dea menjelaskan bahwa kebanyakan anggota Tutu Club mulai menari ballet “bener-bener dari level nol”.
Ely tetap memprioritaskan ballet setelah kuliahnya. Meskipun begitu, ballettetap menjadi tanggung jawabnya di kampus dan juga sebagai penyalur segi seni serta kreativitasnya. “Ketika ballettuh udah bisa fresh,” ceritanya dengan ceria. “Bisa me-refresh pikiran kayak kita tuh seneng gitu kalo di ballet.”
Tutu Club dalam acara Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 2015. Dok : Tutu Club


***
Badan yang lebih lentur, dalam ballet, berarti bisa menghasilkan teknik yang lebih baik. Ketika menari, postur tegap. Badan bagian atas ditarik naik, dan badan bawah tetap terpaku di bumi — seperti stretching. Badan harus lurus supaya terlihat panjang. Jangan lupa pointe; luruskan posisi dengkul dengan jari jempol.
Juga, biasakan latihan sendiri — stretching dan gerak — agar badan tidak kaku karena latihan rutin dua kali seminggu tidak pernah cukup. “Jadi [kami] perlu latihan sendiri,” lanjut Hanna disusul dengan senyuman.
Beberapa teknik di ballet berbeda dari teknik tarian lainnya, bahkan berkebalikan, sehingga tidak bisa digunakan di ballet. “Jadi…pelan-pelan, harus hati-hati. Mulai dari step-by-step.”
Tutu Club memiliki sistem kenaikan grade yang dilakukan dengan ujian. Tahun lalu, Tutu Club gradesatu diberikan waktu untuk membentuk grup dan menciptakan koregrafi sendiri dari teknik yang telah dipelajari. Sementara itu, yang grade dua dan tiga diberikan koreografi oleh pelatih untuk diuji. Ujian kemudian dilaksanakan di suatu ruangan dengan penilai, yakni pelatih Tutu Club.
“Kalau yang tahun ini ujiannya tidak ada,” jelas Ely. “Karena nanti langsung diberikan penilaian oleh Kak Ginna, pelatih [kami], waktu pagelaran [Pocahontas].” Ditanya mengenai anggota yang baru masuk tahun 2016 ini, Ely menjawab, mungkin akan ada ujian tersendiri bagi mereka.
Dari perspektif Ely, Tutu Club layaknya Barbie, dunia khayalan yang tinggi, negeri dongeng bagi mereka yang “percaya mimpi setinggi-tingginya”. Cocok untuk yang ingin berkhayal namun “sebagai pemainnya”.  
Dan seperti yang Dea jelaskan, “Ini semua dibentuk [dari] mimpi, dan juga kecintaan kita terhadap tari, terutama ballet ini.”


penulis : Istu Septania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *