Harry Van Jogja: Semua Bermula dari “Kecelakaan”

Siang itu, cuaca Yogyakarta sangat terik. Di kawasan Prawirotaman, yang terkenal sebagai “kampung” bule, kondisi jalan lengang. Sesekali wisatawan mancanegara melintas, ada yang naik motor ataupun jalan kaki. Di salah satu sudut jalan, beberapa orang duduk di bawah pohon rindang sembari menghisap rokok dan berbicara ngalor-ngidul. Tak berselang lama, seorang di antaranya berdiri untuk menghampiri angkringan yang terdapat tak jauh dari sana. Orang itu selalu melempar senyum kepada setiap orang yang dijumpainya.  
“Harry van Jogja” berpose dengan becaknya, Sabtu (3/12
foto : Dion Sandytama

  Dialah Blasius Haryadi atau lebih populer dengan nama “Harry van Jogja”. Dia hanyalah pengayuh becak, profesi yang kurang diperhitungkan di masyarakat. Berkat keingintahuan yang besar dan semangat untuk terus belajar, dia lebih dari sekedar “tukang becak”. Uniknya, ia menyebut semuanya berawal dari sebuah “kecelakaan”. “Yang saya maksud “kecelakaan” disini ialah pengalaman yang saya alami, yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tuturnya membuka pembicaraan.
Semua berawal ketika tahun 1999, ia mengantarkan seorang wisatawan asing asal Amerika Serikat (AS) untuk berkeliling Kota Gudeg. “Dia sangat mengagumi kota ini. Bahkan, dia bilang suatu saat, jika ada kesempatan berkunjung ke Yogyakarta lagi, saya diminta menemaninya,” kenangnya. Bule tersebut lantas meminta nomor handponenya. “Saya bingung, saya ini Gaptek (Gagap Teknologi). Ditambah saya tidak punya telepon genggam waktu itu,” ujarnya.
Tak disangka, bule itu mengajarinya penguasaan teknologi, mulai dari membuka komputer hingga cara mengetik. Dari situ, rasa penasaran dan keingintahuannya terus muncul. “Sejak itu, saya jadi sering ke warnet. Padal pas kui aku ra dong opo-opo. Tapi, ya asal saya buka aja, tak jarang keblasuk ke situs yang tidak pantas,” ujarnya sembari tertawa.
Kemudian ia merenung, akan terus merugikan jika “berselancar” di dunia maya tanpa menghasilkan apapun. Uang hasil menarik becak akan habis hanya untuk membayar ongkos warnet. Sejak saat itu, ia mempunyai ide untuk “menjual diri” melalui dunia maya. “Pekerjaan saya pengayuh becak, mengapa tak sekalian mempromosikan jasa saya lewat media sosial?” tutur alumnus SMA Kolese De Britto ini.
Kemudian, ia membuat akun Yahoo Massenger untuk mendukung keinginannya. Melalui akun jaringan tersebut, ia mulai berpromosi. Tak disangka, respon posotif banyak diterimanya. Wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Yogyakarta membooking jasanya jauh-jauh hari.
Tahun 2003, seorang wisatawan asal Belanda memintanya untuk diantarkan berkeliling Yogyakarta. Ia menjadi penumpang pertama hasil “menjajakan diri” lewat dunia maya. “Saat itu, ia minta dijemput ke bandara. Kalau sampai sana menggunakan becak, capek juga. Akhirnya, saya jemput menggunakan mobil bersama teman saya,” kenangnya.
Setelah itu, order jasa becak yang ia terima semakin membanjir, baik dari wisatawan asing maupun domestik. Hal tersebut juga didukung oleh penguasaan bahasa asing yang ia miliki. Ia sendiri dikenal fasih berbahasa Inggris dan Belanda. “Sering saya ke Borobudur, Parangtritis, dan Candi Prambanan. Kalau sudah jarak jauh, saya kerjasama dengam travel agent untuk masalah akomodasi. Jadi, seperti tour guide lah, padahal bukan,” ujarnya berkelakar.
Fenomena yang dipancarkan membuat dirinya dua kali dipanggil stasiun televisi nasional untuk tampil dalam acara talkshow pada 2011 silam. “Tetapi, dalam dua acara itu, mereka meminta saya untuk membahas buku ‘Becak Way’ yang saya buat pada tahun itu,” ujarnya sembari meminum secangkir kopi hitam. Tak hanya itu, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga memberi penghargaan karena ia dianggap turut membantu mempromosikan pariwisata di daerah tersebut.
Baginya, apa yang ia lakukan tak hanya untuk kepentingan dirinya. Ia juga ingin rekan seprofesinya juga memperoleh manfaat darinya. “Misalkan ada wisatawan yang memesan jasa saya, tetapi mereka datang dalam jumlah banyak, tak mungkin kan saya angkut sendiri?” tutur pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma (USD) ini. Lebih lanjut, apa yang ia lakukan ini juga untuk mendongkrak pamor becak sebagai kendaraan tradisional yang mulai tergerus keberadaannya oleh kendaraaan bermotor. 

penulis : Dionisius Sandytama Oktavian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *