Di Balik Teater Seriboe Djendela

Sebagai teater kampus, TSD terus bergerak dengan berbagai cara, membawakan kedekatan pada penonton dari atas panggung.


Anggota Teater Seriboe Djendela
foto : https://www.instagram.com/seriboedjendela/
           Ada ajakan nongkrong dari Teater Seriboe Djendela (TSD). Selama dua hari di akhir November lalu, ruang kelas K.22, Kampus I Universitas Sanata Dharma menjadi lokasi pementasan anak baru TSD yang bertajuk “Nongkrong”. Pementasan ini menghadirkan tiga pentas dari tiga kelompok. Salah satu naskah diadaptasi dari cerpen “Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi” oleh Seno Gumira Ajidarma. Dua lainnya adalah naskah buatan sendiri yang masing-masing berjudul “Kotor” dan “Perhati(k)an!”.
Sebagai teater kampus, TSD terus bergerak dengan berbagai cara, membawakan kedekatan pada penonton dari atas panggung.

***
         Pada mulanya adalah obrolan santai soal tembakau dan rokok. Kemudian berubah menjadi sebuah pentas realis “Jaga Daru” yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta tahun 2014 lalu. “Jaga Daru” menceritakan tentang kehidupan petani tembakau di sebuah kabupaten fiktif bernama Kemloko. (‘Kemloko’ diambil dari nama salah satu jenis tembakau di Temanggung.)

Agathon Hutama, anggota komunitas Senthong, yakni komunitas bagi mereka yang tidak lagi menjadi anggota aktif di TSD, bercerita ia “mendapat” buku “Tembakau atau Mati” karya Wisnu Brata. Ketika buku itu terbit, sedang panas wacana ratifikasi Framework Convention of Tobacco Control. Buku ini menawarkan perspektif petani tembakau, khususnya dari Temanggung, mengenai penghayatan terhadap tembakau. Kemudian dia berbincang-bincang dengan Doni Agung Setiawan, pendamping TSD saat itu, tentang keinginannya menulis naskah tentang tembakau. Setelah Doni turut membaca buku yang sama dan diobrolkan ke anggota-anggota TSD lainnya, akhirnya mereka sepakat untuk membuat pentas tentang petani tembakau.

“Awalnya yang membuat kami gelisah adalah RUU tentang kadar nikotin di rokok,” ujar Yosephine Prajna, yang waktu itu menjadi lurah, sebutan bagi ketua UKM TSD, sekaligus menjadi pimpinan produksi di “Jaga Daru”. Rancangan undang-undang yang dimaksud adalah RUU tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan yang sempat membuat resah sebagian kalangan karena dianggap sebagai “permainan” di pertanian tembakau Indonesia. Agathon mengatakan bahwa dia tidak ingin hanya studi pustaka saja, tapi ditambah dengan “observasi di lapangan.” Mereka mengunjungi Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Temanggung selama dua hari satu malam dan menginap di rumah salah satu petani tembakau di sana.

Pentas pantomime di tahun 2015
https://www.instagram.com/seriboedjendela/
Agathon bersama dua anggota TSD lainnya menjadi tim penulis naskah, dan Doni menjadi sutradara di pentas yang diberi judul “Jaga Daru” ini. Penamaan “Jaga Daru” berasal dari kepercayaan masyarakat setempat bahwa ladang yang kejatuhan cahaya bulan akan menghasilkan tembakau terbanyak. Naskah “Jaga Daru”, kata wanita yang akrab dipanggil Puput ini, mengambil salah satu peristiwa nyata yang diceritakan petani tembakau di sana: pernah ada calon pejabat pemerintah yang datang dan berkampanye di desa itu.

Setelah persiapan selama sepanjang tahun 2014, “Jaga Daru” akhirnya dipentaskan pada akhir November 2014. “Aku tidak mengejar kekinian memang. Tapi yang relevan,” ujar Agathon. “Kalau kita membicarakan tembakau, itu relevan karena bangsa ini adalah bangsa perokok.” Sembari menjaga relevansi dalam pementasnya, TSD beralih dari pentas realis ke pantomim pada tahun berikutnya. Mereka membawakan kembali pentas pantomim “Ke Mana Waktu? Aku Ingin Bermain” yang pernah ditampilkan oleh TSD pada tahun 2009 dengan beberapa pengubahan.

Pentas ini diadaptasi dari novel Jerman “Momo” karya Michael Ende. Agathon  mengatakan KWAIB – sebutan singkat untuk pentas ini – berkisah tentang “semakin orang bertambah umurnya, maka ia akan semakin mempunyai sedikit waktu untuk dirinya sendiri.” Karena ini pentas pantomim, ‘naskah’ KWAIB hanya berbentuk sequence of events, yaitu narasi dengan cerita di tiap adegan. Seiring dengan aktor mengeksplorasi gerakan-gerakan, sutradara memberikan arahan yang mana yang dipakai di panggung.

Selain itu, para aktor mendapat tugas observasi keadaan sekeliling, termasuk pengamatan ke anak-anak dengan cara pergi ke Malioboro naik bus umum Transjogja atau pergi ke sekolah TK untuk bermain dengan anak-anak di sana. Bagi Puput, pentas KWAIB “lumayan dekat” dengan kehidupan mahasiswa. Lebih lagi untuk mereka yang tidak hanya sibuk berkuliah namun juga “menyambi di UKM dan menyambi di mana-mana.”
***
Salah Satu Pementasan TSD di Tahun 2008
https://www.instagram.com/seriboedjendela/
          ‘Seriboe Djendela’ selalu ditulis dalam ejaan lama. Karena belum ditemukan “maksud” lainnya, penamaan ini, jelas Agathon yang kini menjadi pendamping TSD, berasal dari identitas kampus yang memiliki banyak ventilasi. Meskipun demikian, Agathon mulai memikirkan makna lain dari nama tersebut. “Jendela yang ada seribu jumlahnya berarti itu sebagai saluran keluar-masuk kreativitas,” kata Agathon. “Kreativitas yang masuk tanpa henti. Seribu jendela yang terbuka sepanjang hari.” Persoalan sumber daya manusia, menurut Agathon, sebenarnya juga terjadi di UKM lainnya. “Seleksi alam” berlaku ketika anggota menyadari bahwa “tempat” mereka bukan di sana dan “kemudian menemukan tempat lain untuk berlabuh.”
Menurut Dionisius Bimana, ketua TSD yang sekarang, pengurus TSD ada 13 orang, sedangkan anggota yang aktif sekitar 40-an. Aktif tidaknya seorang anggota diukur dari keterlibatannya di TSD. Pementasan bisa menjadi kesempatan untuk merangkul kembali anggota-anggota yang jarang terlihat. 

Hasilnya, menurut Dionisius, “relatif”: ada yang tetap tidak memberi kabar dan ada yang ikut lagi, misalnya karena “merasa masih dibutuhkan.” “Biasanya karena tuntutan dari program studi,” ujar Dionisius tentang kenapa beberapa anggota sulit diajak terlibat lagi. Beberapa prodi memiliki proyek yang harus dilaksanakan dalam jangka panjang, misalnya PBI dengan mata kuliah Play Performace yang menyibukkan mahasiswanya selama satu semester untuk persiapan pentas di akhir semester.


Bagi Agathon, orang yang pernah bergabung ke TSD pasti memperkaya TSD, dan ketika keluar pun mereka juga membawa pengalaman. Setiap orang memiliki “kreativitas” dan “pengalaman intelektual” sendiri. “Jadi nggak ada yang paling oke siapa,” ujar Agathon. “Dan itu yang coba kita olah dalam proses anak baru ini, yang berujung pada pementasan.”
***

         Guruh Nugroho Aji menyutradarai salah satu kelompok yang tampil pada pementasan “Nongkrong”. Dengan 15 anak baru yang seluruhnya menjadi aktor, kelompok Guruh membawakan naskah berjudul “Perhati(k)an!”. Pentas ini menampilkan obrolan ringan mahasiswa yang sedang nongkrong di angkringan.
Sebelum menjadi sutradara untuk pentas “Perhati(k)an!”, Guruh sudah memiliki latar belakang di bidang teater. Dia menjadi aktor dalam pentas KWAIB dan pentas realis tentang Kuliah Kerja Nyata saat Insadha Januari 2016. Kemudian, dia menjadi asisten sutradara untuk pementasan dramatic reading dalam rangka memperingati ulang tahun TSD.

Salah satu pementasan pantomime di tahun 2015

https://www.instagram.com/seriboedjendela/
Selain di TSD, Guruh juga tergabung di Forum Aktor Yogyakarta. Waktu itu FAY sedang mencari anggota tambahan supaya mereka bisa tampil di Festival Teater Yogyakarta 2016 dengan jumlah minimal aktor dan kru yang sudah ditetapkan. “Saya kan waktu itu agak selo (tidak sibuk-red.),” cerita Guruh. “Ditawari, ya sudah, saya iyakan. Mencoba dunia baru.”
Guruh lalu tampil sebagai aktor dalam PentasBank Pasar Rakyat, yang disutradarai oleh Irfanuddien Ghozali, pada rangkaian FTY tersebut. Ia memerankan  nasabah dari seorang rentenir.
Guruh melihat perbedaan berteater di FAY, salah satunya masalah keaktoran yang lebih “fleksibel.” Semisal, Guruh memberi ilustrasi, sutradara membutuhkan “sosok yang perokok.” Lalu ada aktor yang memiliki “wajah ngerokok.” Tapi karena dia tidak merokok di kehidupan sehari-harinya, akhirnya aktor lain yang memang merokok yang dipilih.

“Penyutradaraan [di pentas “BPR”] nggak begitu menuntut keaktoran yang tinggi,” ujar Guruh, menjelaskan pengalamannya di sana. “[Sutradara] membuat aktornya jadi dirinya sendiri tapi dia dikasih peran. Menjadi bapak-bapak. Kamu jadi bapak-bapak tuh gimana dengan [aktor] yang seperti ini.” “Pas asisten sutradara yang dulu kan, ‘Pokoknya gimana aktornya bisa gini-gini.’ Nah, dari ini aku jadi, ‘Oh, aktornya bisane ngene (bisanya begini-red.), ya udah aku akan begini.’”

Begitu pula perihal naskah. Karena aktornya adalah mahasiswa, naskah yang ditulis oleh Guruh pun dibuat “dekat dengan mereka.” “Oh, ya udah, angkringan aja. Mahasiswa nongkrong di angkringan. Jadi kan mereka penjiwaannya lebih enak gitu,” kata Guruh. Kini setelah pementasan “Nongkrong” berakhir. Guruh dan teman-temannya kini akan menghadapi tahun depan untuk berproses dan berkarya bersama. “Di TSD harapanku semoga muncul bibit-bibit baru yang bisa mengganti [anggota] yang lama,” ujarnya.

oleh : Istu Septania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *