Guardiola, Mengorbankan Idealisme atau Dipecat?

Tatapan mata Josep ‘Pep’ Guardiola terlihat kosong sesaat setelah gelandang Everton, Kevin Mirallas menjebol gawang Manchester City pada pekan ke-21 Liga Inggris, Minggu (15/1). Gol pemain asal Belgia itu membuat The Toffes, julukan Everton, unggul 2-0 atas City. Namun, penderitaan tak cukup sampai situ. Everton mampu menambah dua gol lagi sehingga membuat skor akhir menjadi 4-0. Hasil itu membuat peluang City menjuarai liga yang disebut-sebut paling bergengsi sejagat tersebut menipis. 
Hasil buruk itu berlanjut pada pekan ke-22, Sabtu (21/1). Bermain di kandang sendiri, The Citizens, julukan City, hanya mampu bermain sama kuat 2-2 dengan Tottenham Hotspur, yang juga pesaing dalam perburuan gelar juara. Sesudah laga itu, dalam jumpa pers, Pep berujar, “Kami mengucapkan selamat tinggal kepada gelar juara liga, terlepas apa yang terjadi ke depan.” Ucapan itu benar adanya jika melihat tabel klasemen dimana City masih berkutat di posisi lima dan tertinggal 12 angka dari Chelsea, pimpinan klasemen. Rasanya hanya keajaiban yang mampu me
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. Sumber : www.skysports.com

mbuat Vincent Kompany dkk mengangkat trofi liga teratas di Negeri Ratu Elizabeth itu. Tim dengan warna kebanggan biru langit itu kini tinggal menggantungkan asa meraih trofi di kompetisi Liga Champions dan Piala FA, itupun tak semudah membalik telapak tangan. Di Piala Liga Inggris, mereka sudah tersingkir di babak 16 besar.

Banyak pihak menilai rentetan hasil buruk yang diraih City banyak dipengaruhi faktor Guardiola. Loh, bukannya ia merupakan salah satu pelatih terbaik di planet ini? Ya, jika dilihat dari gelar juara bersama dua klub terdahulu, Barcelona dan Bayern Muenchen. Namun, ia bukanlah tipe orang yang mampu menyesuaikan antara idealismenya dengan hal yang ia jalani. Pelatih berkepala plontos itu dikenal dengan gaya permainan tiki-taka yang mengandalkan umpan-umpan pendek dengan satu-dua sentuhan sehingga secara otomatis laga mampu dikuasai oleh tim yang memainkannya. Gaya ini sebetulnya mirip filosofi ‘Total Football’ yang dipopulerkan legenda sepakbola Belanda, Johan Cruyff, yang pernah membela Barcelona medio 1970-an. 
Tiki-taka yang menjadi idealisme pelatih 45 tahun itu terbukti sukses membawa Barcelona meraih berbagai gelar bergengsi, antara lain 3 gelar La Liga dan 2 gelar Liga Champions selama empat tahun kepemimpinannya.  Hal tersebut tak mengherankan lantaran Spanyol, baik liga maupun Tim Nasional (Timnas)-nya “menganut” sepakbola yang tak sekedar mencari kemenangan, namun menampilkan sisi indah sepakbola melalui permainan kaki ke kaki. Gaya tersebut lantas ia bawa ke Jerman saat menukangi Bayern Muenchen pada 2013. Di negeri yang dipimpin Kanselir Angela Merkel tersebut, idealisme pelatih kelahiran Santpedor, Spanyol tersebut masih “laku” dengan bukti masing-masing dua gelar Liga Jerman dan Piala Jerman. Fakta tersebut tak mengherankan lantaran gaya sepakbola Jerman dan Spanyol bisa dikatakan mirip, walaupun Jerman bisa dibilang lebih kaku atau “text book”. 
Pada Mei 2016, ia memutuskan mengakhiri karier di Muenchen dan memulai petualangan baru di klub kaya raya Inggris, Manchester City. Rentetan prestasinya itulah yang membuat Abu Dhabi United Group Investment, pemilik saham mayoritas City, menariknya ke Manchester menggantikan pelatih terdahulu, Manuel Pellerini, yang didepak. Para petinggi City ingin timnya seperti Barcelona yang mementaskan sepakbola indah nan menawan. disamping persembahan trofi tentunya. Namun, apakah semudah itu? 
Sepakbola Inggris medio 1960 hingga 1990-an dikenal dengan filosofi Kick and Rush, yang lebih mengutamakan ‘keefektifan’ ketimbang ‘keindahan’ lewat permainan yang cenderung keras dan cepat. Ini tentu bertentangan dengan pakem permainan Guardiola selama ini. Menurut catatan Whoscored, hingga pekan ke-22, City menang secara ball possesion di 18 pertandingan dengan rata-rata penguasaan bola hampir 60%. Namun, hasil pertandingan tak ditentukan lewat pengusaan bola, melainkan jumlah bola yang disarangkan ke jala lawan. 
Analisis pada paragraf di atas itu bisa terwakili saat City kalah 0-1 dari Liverpool pada Liga Inggris di penghujung tahun 2016. Tim sekota Manchester United itu menguasai laga dengan 58% penguasaan bola dan melepaskan sembilan percobaan tendangan ke gawang, tetapi nihil hasil. Bandingkan dengan lawannya yang hanya lima percobaan, namun satu berbuah gol kemenangan. Taktik Jurgenn Klopp, pelatih Liverpool, terbilang cedik. Para pemainnya diinstruksikan untuk membiarkan para pemain City “menari-nari” dengan bola, tetapi dengan pengawalan ketat dan begitu ada kesempatan menyerang, saat itu juga harus dimanfaatkan. 
Taktik seperti itulah yang menjadi antitesis idealisme Guardiola, tak hanya di City, namun sejak di Barcelona. Ia pernah menyebut Jose Mourinho memainkan taktik “parkir bis” saat Barcelona hanya menang 1-0 atas Inter Milan, yang saat itu dilatih Mourinho, pada semifinal leg kedua Liga Champions 2009/2010. Dalam laga itu, Barcelona menguasai hampir 80% permainan, tetapi segala usaha terbentur “Tembok Cina” yang sangat kokoh sehingga Barcapun gagal lolos ke final karena kalah agregat 3-2. 
Begitulah kini realita yang dialami Guardiola di tanah Inggris. Para pelatih lawan sudah hafal betul pola permainan ala Guardiola sehingga mudah saja merancang taktik untuk meredamnya. Ditambah lagi, tim-tim Liga Inggris tak segan menggunakan permainan fisik yang berlawanan dengan pakem permainan Guardiola yang cenderung “priyayi”. Bisa dikatakan, tiki-taka tak manjur dengan gaya sepakbola Inggris yang cenderung keras, cepat, dan efisien. Jika sudah demikian, apakah ia tetap keukeuh dengan idealismenya? 
Semua kembali kepada dirinya. Jika ia tetap berdiri pada pendiriannya, pola permainan yang sama akan kembali dipertontonkan lewat kaki para punggawa The Citizens, dengan resiko rentetan hasil buruk akan berlanjut. Jika itu terjadi, para petinggi klub bukan tak mungkin segera mempersilahkannya angkat koper dari Etihad Stadium, markas City. Mereka tentu lama-kelamaan jengah juga dengan hasil yang diraih klub, tak peduli lagi tentang pertunjukan sepakbola indah. Jika Guardiola sadar, inilah saat yang tepat untuk berbenah. Ia harus mampu menyesuaikan dengan gaya sepakbola Inggris yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, dengan merubah pendekatan taktik tentu, yang mutlak mengorbankan idealisme yang selama ini tertanam kuat di kepalanya. 
Penulis: Dionisius Sandytama Oktavian 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *