Geliat Sepakbola Tanah Air

Ketua Umum PSSI, Letjen Edy Rahmayadi. Sumber: http://harian.analisadaily.com/

Masih segar dalam ingatan pecinta sepakbola Tanah Air ketika Federation International de Football Association (FIFA) menjatuhkan sanksi pembekuan terhadap Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tanggal 30 Mei 2015. Sanksi dijatuhkan karena adanya intervensi pemerintah terhadap PSSI, yang diharamkan FIFA. Saat itu, para maniak bola negeri ini terpecah suaranya. Ada yang menyalahkan pemerintah dan PSSI, namun ada juga yang berpendapat momen tersebut bisa dijadikan refleksi untuk menjadi lebih baik. 

Setahun dalam kungkungan sanksi, angin segar datang pada 16 Mei 2016. FIFA mencabut sanksi terhadap PSSI, yang artinya negara kita dapat kembali aktif dalam pergaulan sepakbola internasional. Sebelum memulai itu, ditunjuklah Ketua Umum (Ketum) PSSI untuk periode 2016-2020. Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad), Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi terpilih menduduki posisi itu. Terpilihnya pria Aceh ini memunculkan optimisme akan perbaikan persepakbolaan kita. Tak mengherankan, ia memiliki concern yang tinggi terhadap sepakbola. Tahun 2014, Edy berhasil menyatukan PSMS Medan dari konflik kepengurusan hingga mengantar tim itu juara Piala Kemerdekaan 2015. Di samping itu, ia juga aktif membesarkan kebelasan PS TNI AD menjadi PS TNI hingga mampu berkiprah di kompetisi tertinggi Tanah Air. 
Optimisme tinggi pecinta bola Tanah Air yang tersemat di pundaknya langsung dibuktikan dengan aksi nyata. Kongres tahunan pertama PSSI 2017 yang digelar di Bandung berjalan lancar sehingga menghasilkan beberapa keputusan penting, seperti pengaktifan kembali 7 klub bermasalah. Beberapa hari setelah Kongres, PSSI menujuk Luis Milla sebagai nahkoda Tim Nasional (Timnas) Indonesia level senior dan U-23 untuk menggantikan Alfred Riedl yang habis masa kontrak. Milla bukanlah sosok sembarangan. Ia lulusan akademi sepakbola Barcelona, La Masia dan malang melintang membela klub raksasa Eropa, seperti Barcelona, Real Madrid, dan Valencia. Ketika ditanya mengapa memilih Milla, Edy dengan tegas menjawab, “Postur pemain, teknik, taktik sepakbola kita mirip dengan Spanyol sehingga kami dekatkan ke sana.” 
Kini, tugas berat menanti pelatih asal Spanyol itu untuk membawa Tim Merah Putih juara Piala AFF 2018, meraih medali emas SEA Games 2017, dan menembus 4 besar Asian Games 2018, sesuai targer yang dibebankan kepadanya. Yang menjadi kendala, ia bisa dibilang “buta” tentang persepakbolaan negeri kita, walaupun dari pengakuan beberapa petinggi PSSI, presentasi Milla di hadapan mereka terbilang memuaskan. Tetapi, ia pasti belum paham karakter pemain kita, jalannya kompetisi, hingga hubungan klub dan timnas. 

Pelatih baru Timnas Indonesia, Luis Milla. Sumber: http://www.cnnindonesia.com/

Saat-saat seperti ini bisa ia jadikan lahan belajar tentang segala sesuatu mengenai bal-balan negeri ini di saat persepakbolaan kita sedang menggeliat Klub-klub saat ini sedang gencar mempersiapkan tim untuk mengikuti turnamen Piala Presiden dan kompetisi 2017. Milla bisa melakukan safari menonton pertandingan klub-klub Tanah Air sambil “berkenalan” dengan atmosfer sepakbola kita. ‘Sambil menyelam minum air’, pelatih yang sebelum ini melatih Timnas Gambia itu bisa memetakan pemain mana yang akan masuk kerangka timya. 
Kabar gembira juga datang dari Timnas U-19 yang dipatikan ditangani kembali oleh Indra Sjafri. Pelatih berdarah Minang itu tentu bukan nama asing. Di bawah asuhannya, Timnas U-19 meraih trofi Piala AFF U-19 pada 2013 dan menembus putaran final Piala Asia U-19 tahun 2014. Namun, sesudah itu Indra mengundurkan diri dan memilih menangani Bali United FC. Bagi para mantan asuhnya di Timnas U-19 tahun 2013-2014, sosok Indra sudah seperti ayah mereka sendiri. Tak mengherankan karena ia sangat mengerti psikologis pemain muda dan mampu memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka. Kini, ia kembali mengomado anak-anak muda terbaik negeri untuk mengarungi kejuaraan-kejuaraan yang menanti di depan mata. 
Di saat kedua pelatih tersebut sibuk merencanakan apa yang menjadi program timnya, setiap pelatih klub sepakbola di Tanah Air disibukkan persiapan kompetisi Liga Satu 2017. Sepeti sudah ditulis pada dua paragraf di atas, akan ada turnamen Piala Presiden 2017 yang menjadi testcase setiap klub sebelum bertarung di kompetisi seungguhnya. Seleksi pemain, training camp (TC), dan uji tanding dengan klub lokal menjadi rutinitas setiap klub untuk saat ini. 
Bergeliatnya atmosfer persepakbolaan kita pada awal tahun ini tentu menjadi kabar positif setelah beberapa saat diterpa badai yang bernama pembekuan. Kita tentu berharap hal baik menyusul setelahnya. Dimulai dari yang paling “sederhana” saja, yaitu memastikan kompetisi berjalan lancar, tepat waktu, dan bersih dari segala praktek kecurangan. Jika itu bisa dilaksanakan, iklim sepakbola kita pasti semakin baik sehingga para pemain yang tepilih bisa fokus membela timnas. Tentu, semua butuh kerja sama para stakeholder sepakbola negeri ini. Namun, semuanya tak ada yang mustahil, termasuk mimpi melihat timnas kita berjaya di kejuaraan internasional. Amin. 
Penulis: Dionisius Sandytama Oktavian 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *