Masih Perlukah Menaturalisasi?

sumber : http://junpiterfutbol.tumblr.com/

Pada 2007, Singapura berhasil menjuarai Piala AFF setelah di final mengalahkan Thailand dengan total agregat 3-2. Namun, gelar juara tersebut cukup menyita perhatian. Cukup wajar karena hasil tersebut diraih dengan mayoritas pemain naturalisasi. Saat itu tercatat ada nama-nama “pemain asing” di Timnas Singapura, seperti Daniel Benett (Inggris), Alexandar Duric (Serbia), Agu Casmir (Kamerun), Precious Emuajeraye (Kamerun), dan Fahrudin Mustafic (Serbia). Kesuksesan dengan cara instan tersebut rupanya menginspirasi negara-negara Asia Tenggara lain, seperti negara kita. 

Striker yang sejak 2003 merumput di Tanah Air, Christian Gonzales menjadi orang pertama yang “direkrut” untuk membela Tim Garuda pada 2010. Dampaknya langsung terasa. Di Piala AFF 2010, ia menyumbang tiga gol dan membawa negara kita menjadi runner up, kalah agregat dari Malaysia di final. Gonzales effect tersebut rupanya membuat PSSI semakin getol memburu pemain dari belahan dunia lain. Belanda, negeri yang pernah menjajah kita 350 tahun, menjadi tujuan utama. Tak mengherankan, di sana bertebaran pemain yang masih memiliki ikatan darah dengan Ibu Pertiwi. 
Pemain Naturalisasi Juga Manusia Biasa 

Jhonny van Beukering harus menerima kenyataan pahit dilarang beraktivitas dalam dunia sepakbola selama setahun setelah diskorsing KNVB (PSSI-nya Belanda) pada 19 Oktober 2015 akibat perkelahian dengan pemain lawan saat membela timnya SC Veluwezoom. Hal itu membuatnya bak jatuh tertimpa tangga. Seusai pulang membela Garuda pada Piala AFF 2012, kariernya di Belanda juga mandek. Saat memanggil pemain binaan Vitesse Arnhem untuk ajang dua tahunan itu, PSSI juga dikritik. Dengan postur yang sudah bisa dibilang gendut, ia dianggap tak mampu berbuat banyak untuk tim. Hal tersebut menjadi kenyataan dimana ia tak menjadi pilihan utama tim saat itu alias menjadi penghangat bangku cadangan. 
Nasib serupa juga dialami kompatriotnya, Tonie Cusell yang tak mampu mengangkat permainan Timnas pada Piala AFF 2012. Sesudah itu, ia juga memutuskan pulang Belanda hingga kabarnya tak lagi terdengar hingga kini. Trio Afrika juga setali tiga uang. Greg dan Bio bahkan belum sempat membela Tim Merah Putih berlaga di kejuaraan resmi, tetapi hanya sebatas di beberapa pertandingan persahabatan. Victor Igbonefo masih beruntung bisa bertarung di Piala AFF 2014, namun juga tak banyak membantu karena Indonesia tersingkir di babak penyisihan grup. Setelah itu mereka bertiga seolah terlupakan. Kalaupun ada pemain naturaliasi yang bisa dibilang berhasil, sebutlah Stefano Lilipaly yang mampu membawa Merah Putih hanya kalah agregat 3-2 dari Thailand di final Piala AFF 2016. 


Dilanjutkan Kembali 

Kini di bawah kepemimpinan Letjen Edi Rahmayadi, PSSI akan melanjutkan program naturalisasi. Kabar yang beredar, sudah ada enam nama yang siap diambil sumpahnya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Satu nama yang proses naturalisasinya hampir selesai ialah Ezra Walian, striker klub Jong Ajax Amsterdam, sedang lima nama lainnya masih dirahasiakan. Mereka diproyeksikan memperkuat Timnas U-23 untuk gelaran SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 serta Timnas senior untuk turnamen Piala AFF 2018. Yang menjadi agak aneh, program ini justru bertentangan dengan tekad yang dilontarkan Edi pada November 2016. Saat itu, pria yang juga menjabat Pangkostrad itu ingin melakukan pembinaan secara berjenjang mulai dari usia dini. Ia menyadari memunculkan pesepakbola berkualitas tidak bisa dilakukan secara instan. “Kami akan menggelar kompetisi U-15 yang penyelenggaraannya di seluruh wilayah Tanah Air,” tuturnya kala itu.
Melihat kenyataan tersebut, PSSI yang tak masih, namun jika melihat angka 67 ribu tadi, pasti ada “berlian” yang mampu digali dari sana. Contoh sukses sudah ada dalam wujud Timnas U-19 era Indra Sjafri yang mampu menjuarai Piala AFF U-19 tahun 2013 dan menembus putaran final Piala AFC U-19 tahun 2014. Coach Indra yang mencari sendiri talenta muda hingga ke pelosok negeri sempat berujar, “Masih banyak ‘mutiara’ terpendam di negeri ini.”
u Timnas gagal lantas mengambil jalan pintas dengan naturalisasi. Mereka sepertinya masih menganggap para ‘Indo’ tersebut sebagai “manusia super” yang mampu membawa kemenangan. Ya tak sepenuhnya salah


Penulis: Dionisius Sandytama Okavian 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *