Teknologi Ramah Lingkungan Yang Dianaktirikan di Indonesia

Mobil hibrida besutan Honda, Clarity, tiba di pelabuhan Liverpool, Inggris dari pabrik pembuatannya di Amerika Serikat. Sumber: http://world.honda.com/CLARITY/

Konsep Go Green sudah lama dikampanyekan, termasuk di Indonesia mengingat polusi yang semakin hari semakin tak terkendali. Ada empat konsep dalam kampanye ini, yang tertuang dalam 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace). Salah satu bentuk penerapannya ialah penggunaan mobil ramah lingkungan yang memiliki emisi gas buang rendah. Pemerintah, melalui Kementrian Perindustrian (Kemenperin) menindaklanjutinya dengan pelucuran mobil berjenis Low Cost Green Car (LCGC) pada 2013. 

Walaupun demikian, langkah tersebut tak menyelesaikan masalah. LCGC diplot sebagai mobil murah yang terjangkau bagi masyarakat. Otomatis, mobil ini laris manis di pasaran yang membuat jalanan semakin padat. Jalanan semakin padat, hmm… otomatis polusi semakin meningkat, itu sudah pasti. LCGC memiliki kapasitas mesin yang kecil, maksimal hanya 1.200 cc yang membuat konsumsi bahan bakarnya menjadi irit sehingga emisi gas buangnya semakin kecil. Namun, tetap saja, sekecil-kecilnya emisi gas buang jika dikumpulkan dalam jumlah banyak, terkumpullah polusi dalam jumlah besar. Peluncuran LCGC ini sepertinya sekedar menyenangkan masyarakat menengah agar mendapatkan mobil semakin mudah mengingat murahnya harga mobil ini (kisaran 100 juta-an). 
Gebrakan Pabrikan 

Sudah sejak lama beberapa pabrikan mobil ternama melakukan riset terhadap mobil ramah lingkungan. Hasil riset inilah yang melahirkan konsep mobil hybrid atau hibrida. Mobil jenis ini menggunakan dua jenis teknologi untuk tenaganya, yaitu mesin bensin konvensional dan baterai. Prinsip kerja teknologi hibrida berbeda dengan teknologi mesin biasa. Mobil hibrida tetap disokong oleh mesin bensin sebagai tenaga utama, tetapi ia menyimpan tenaga dalam bentuk motor listrik. Baterai diisi dengan menggunakan energi yang diambil melalui sistem pengereman. Mobil akan “mengerti” sendiri dalam keadaan seperti apa beralih tenaga dari mesin ke baterai. Saat tenaga mobil disokong baterai inilah, emisi gas buang berada di titik zero sehingga mobil jauh lebih irit bahan bakar.  Konsep seperti inilah yang lebih efektif ketimbang mobil berkapasitas mesin rendah seperti LCGC yang tetap saja menyumbang emisi gas buang dalam jumlah besar jika dikendarai dalam jangka waktu relatif lama. 

Saat ini sudah banyak pabrikan yang memproduksi mobil hibrida. Toyota Prius dan Honda Clarity menjadi contoh mobil hibrida yang sukses dalam hal penjualan. Dua mobil Jepang itu sukses memikat konsumen di Inggris dan Amerika Serikat. Hal ini tak mengherankan karena kebijakan pemerintah kedua negara itu yang memberi subsidi bagi mobil hibrida dalam bentuk keringanan pajak dan potongan harga penualan. Hal ini dilakukan karena pemerintah kedua negara itu memandang mobil jenis ini sangat membantu menjaga lingkungan dari pencemaran. Menteri Transportasi Inggris, Phillip Hammond pernah berkata kepada BBC, “Negara kami sudah lama memimpikan mensubsidi mobil hibrida, tetapi sekarang itu menjadi kenyataan.” 
Nasib Mobil Hybrid di Indonesia

Toyota Prius, salah satu mobil hybrid yang mengaspal di Eropa dan Jepang.

Sumber: http://en.wheelsage.org


Sayangnya, mobil hibrida tak terlalu populer di negara kita. Mobil hibrida yang beredar di Indonesia hanyalah Toyota Camry Hybrid, Nissan X-Trail Hybrid, Honda CR-Z, dan Lexus ES300. Ada beberapa faktor yang menyebabkan demikian. Hal pertama ialah pemahaman masyarakat mengenai mobil berteknologi seperti ini. Banyak orang menganggap aneh ketika mesin mobil mati dan digantikan oleh motor listrik sebagai tenaga. Padahal, dengan kondisi jalan Indonesia yang macet sehingga membuat mobil stop and go, teknologi hibrida lebih efisien bahan bakar dan mengurangi polusi tentunya. 
Hal kedua yang sangat krusial ialah kebijakan pemerintah mengenai mobil hibrida. Mereka memandang mobil berteknologi seperti ini sebagai barang “mewah” sehingga mendapat beberapa “perlakuan khusus.” Hal ini bisa tercermin dari pemberian skema pajak yang tinggi terhadap mobil hibrida karena dianggap memiliki dua mesin. Skema pajak tinggi itulah yang menyebabkan harga jual mobil ini sangat tinggi sehingga masyarakat berpikir beribu kali untuk meminang mobil listik ini. Fakta bisa kita lihat dimana penjualan mobil hybrid tak mencapai 300 unit dalam setahun, menurut catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). 
Beberapa penelitian menyebut mobil hibrida lebih laku di negara maju ketimbang negara berkembang. Fakta ini bisa dimaklumi karena masyarakat negara maju lebih teredukasi mengenai teknologi baru. Tetapi yang mengejutkan, populasi mobil hibrida di negara tetangga, Malaysia, yang juga negara berkembang, mengalami peningkatan 3% pertahun. Usut punya usut, ternyata pemerintah Negeri Jiran memberi banyak insentif terhadap mobil hibrida seperti subsidi pajak, penyediaan suku cadang yang memadai, dan asuransi. Yang paling istimewa, di negara dengan ikon Menara Petronas itu, mobil hybrid mendapat keistimewaan parkir gratis di beberapa tempat, seperti tempat parkir VIP bandara dan pusat perbelanjaan. 
Mungkin pemerintah kita harus belajar dari pemerintah Malaysia dalam memperlakukan mobil ramah lingkunagan. Bukannya selama ini rakyat terus diajak untuk mencintai lingkungan? Atau sebenarnya itu hanya pencitraan, karena mereka ingin rakyat terus membeli bahan bakar sehingga kas negara terus bertambah… Kalau masyarakat banyak beralih ke mobil listrik yang terbukti jauh lebih efisien bahan bakar, SPBU bisa-bisa jadi sepi.. 
Penulis: Dionisius Sandytama Oktavian 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *