Sang Pemenang: Cerita Perempuan di Balik Jeruji Plantungan


“Tersenyumlah sayangku, tersenyumlah selalu pada kehidupan,” ungkap Eyang Nini mengingat pesan suaminya Bung Dar kepada cucunya Ming. Itulah salah satu potongan dialog film pertunjukan teater “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer” karya Faiza Mardzoeki yang merekam perjalanan ibu-ibu korban keganasan OrdeBaru.
Pemutaran film ini diadakan dalam rangka International Womens Day (IWD) dengan tema “Teater, Sejarah dan Perempuan”. Film ini mengajak orang untuk mengetahui rekaman kehidupan ibu-ibu korban peristiwa 1965 di balik jeruji besi di Plantungan. Rekaman kehidupan ibu-ibu ini digambarkan secara emosional lewat para aktor-aktor teater. Sebelumnya teater ini pernah dipentaskan di Goethe Haus Jakarta, pada Maret 2014 silam. Acara ini diadakan oleh Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hakAsasi Manusia (Pusdema) bekerjasama dengan Institut Ungu.
Sutradara teater Faiza Mardzoeki, membuat karya ini ketika dalam perjalanannya bertemu dengan ibu-ibu penyintas korban peristiwa 1965. Apalagi ditambah dengan pertemuannya dengan Ummi Sarjono yang dahulu menjabat sebagai ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Mereka menceritakan segala hal yang dialami ketika menjadi tahanan, mulai dari penyiksaan bahkan sampai pada kekerasan seksual. Kesedihan dan pengalaman trauma, membuat mereka bersemangat dalam menceritakan kejadian yang dialami.
“Pertemuan dengan ibu-ibu korban membuat saya menjadi bingung, apalagi dahulu berbicara tentang PKI atau Gerwani adalah sesuatu yang terlarang. Kemudian begitu paradoks, ketika mereka bercerita tentang semua yang terjadi. Hal ini membuat saya tertarik untuk mengangkatnya, karena ini merupakan sejarah yang belum diketahui oleh banyak orang,” ungkap Faiza.

Pengalaman-pengalaman trauma dan menyedihkan saat mendekam dibalik jeruji besi Plantungan digambarkan secara emosional oleh para aktor teater. Mereka menggambarkan kesedihan kala harus berpisah dengan anak yang baru dilahirkan dibalik penjara. Begitu pun dengan kepergian suami mereka yang tidak tahu keberadaannya, dan perlakuan keji para penjaga penjara. Pengalaman itu semua digambarkan oleh para tokoh untuk mengaduk-aduk emosi para penonton. “Melalui gerak tubuh dan suara mereka sudah mewakili ibu-ibu yang dulu Gerwani dan mereka menantang penonton untuk meresponnya,” kata Elisabeth Arti Wulandari dosen Universitas Sanata Dharma yang ketika itu menjadi pembicara.
Suatu hal yang jarang dilakukan ketika sosialisasi sejarah tidak hanya dibicarakan melalui akademik dan advokatif tetapi melalui kesenian. Apalagi cerita yang diangkat merupakan cerita yang benar-benar terjadi, bukan sebuah imajinasi. Hal ini membuktikan bahwa menceritakan goresan sejarah gelap bangsa Indonesia bisa melalui kesenian, sebab kesenian bersifat universal sesuai yang diungkapkan oleh F.X Baskara T. Wardaya, S.J, Direktur Pusdema.
Penulis    :  Martinus Danang Pratama Wicaksana
Reporter :  Martinus Danang Pratama Wicaksana, Atanasius Magnus A. B.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *