Solidaritas Bagi Yup Patmi dan Para Pejuang Kendeng

Yogyakarta, natas. Beberapa komunitas yang tergabung dalam Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semen mengadakan aksi bersama di Bundaran Universitas Gadjah Mada (30/3). Aksi yang dikoordinasi oleh kawan-kawan GUSDURian Yogyakarta, bertujuan untuk mengenang Patmi (48), salah satu rombongan petani kendeng yang meninggal setelahmelakukan aksi penolakan terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (21/3) silam. Ahmad Fatin selaku Koordinator aksi mengatakan, selain mengenang meninggalnya Patmi, aksi ini juga menunjukan solidaritas mereka untuk ibu-ibu Kendeng yang sedang memperjuangkan tanahnya di Jakarta. Kami juga berharap agar aksi ini bukanlah menjadi aksi yang terakhir, melainkan dapat memantik serta memunculkan aksi-aksi lain, sampai pemerintah Jawa Tengah memberhentikan izin pengoperasian pabrik semen di wilayah Kendeng dan sekitarnya,” tambahnya.  
 
GUSDURian Jogja, KBR, JDA, KMNU UIN, MJS Press, Srikandi Lintas Iman, YIPC, PMII Sleman, PMII UGM, PMII UNY, ANBTI, Solidaritas Kendeng Lestari, LPM Ekspresi, IPNU Jogja, IPNU DIY, JPY, WALHI Yogyakarta, Fatayat DIY, FNKSDA Jogja, Mitra Wacana, PPMI DK Jogja, yang terhimpun dalam Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semenmenyatakan sikap sebagai berikut:
1.      Menolak segala bentuk kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen di Kendeng dan mendukung perjuangan warga yang menolak pabrik semen serta turut berduka atas wafatnya Bu Patmi saat berjuang di Jakarta bersama ibu-ibu dan Warga Kendeng.
2.      Menuntut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, segera mencabut izin lingkungan baru tentang kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen di Kendeng,
3.      Mendesak Presiden Joko Widodo untuk menjamin dan memastikan aparaturnya dalam hal ini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, untuk tidak bertindak sewenang-wenang dengan melawan putusan MA yang telah berkekuatan hukum tetap.

 

Aksi yang bertemakan Tahlil dan Doa Lintas Imanuntuk mengenang kepergian Yu Patmi dan para pejuang Kendeng, dilangsungkan  dengan aksi pasung kaki menggunakan semen oleh beberapa sukarelawan. Aksi pasung kaki sendiri dilakukan sebagai bentuk keprihatinan dalam solidaritas dan kepedulian massa terhadap aksi ibu-ibu kendeng. “Kaki yang dicor mempunyai simbol bahwa, kita peduli terhadap mereka. Ini merupakan bentuk keprihatinan kita terhadap ibu-ibu Kendeng yang sudah mengecor kakinya selama dua hari,” jelas Ahmad.

 
Setelah melakukan aksi pasung kaki, acara dilanjutkan dengan doa yang dihadiri oleh semua perwakilan pemuka agama. Ahmad mengungkapkan, doa lintas agama bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwasanya isu agraria bukan  menjadi tugas dan kepedulian teman-teman yang bergerak di bidang agraria, melainkan menjadi tugas masyarakat untuk peduli terhadap kasus Kendeng. “Tujuan mereka melakukan aksi tersebut untuk memperluas isu tentang Kendeng kepada masyarakat umum,” sambungnya. 
 
Di sisi lain, Ahmad menuturkan konsep Doa Lintas Iman merupakan salah satu upaya untuk menghidupkan kembali rasa toleransi di negeri ini. “Ini soal isu bersama dan tidak terbatas oleh agama tertentu – tujuannya untuk memupuk kembali hubungan toleransi di negeri ini. Di samping itu, warga dari agama lain juga merasakan hal yang sama terkait masalah kebangsaan,lontarnya.
sumber gambar : goo.gl/54bqSB (arsip Kompas.com)
          Penulis: Benediktus Fatubun
Reportase bersama: Ahmad Nur Wahyudin, Fileksius Gulo, 
                                 Konsita Belarosa R. Naen, Nabilla Maharani. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *